
Amara hanya menatap punggung Radit yang menjauh darinya. Amara merasa ada yang tidak beres. Amara mengejar Radit dan menarik tangan Radit. Radit berhenti mendadak ketika sebuah tangan menghentikan langkahnya. Radit merasakan getaran hebat di hatinya. Namun, dirinya bingung harus bagaimana.
Dirinya dirundung rasa gelisah, rasa kecewa di hatinya. Mendiamkan Amara apa dia benar? Bahkan Amara tidak tau jika dia telah mencuri hatinya. Radit yang dulu suka gonta-ganti pasangan telah berubah semenjak dirinya bertemu dengan Amara, dia menghabiskan malam panjangnya untuk minum dan mencoba melupakan bayangan Amara. Dia juga berharap akan bertemu dan menjadikan Amara pasangan hidupnya. Namun, kenyataan yang dia terima mendadak membuatnya syok dan kecewa.
"Radit, kau melupakanku? Lihat aku Dit," ucap Amara sambil tersenyum.
"Dit, kamu lupa kita pernah bertemu? Kamu membantuku dan aku belum berterimakasih padamu," ucap Amara dengan binar di matanya.
Radit yang tadi dingin mencoba untuk menguasai keadaan, dia tersenyum dan menatap Amara dengan tenang. Ya, mata indah Amara mampu meredam emosi yang menggelora di dadanya.
"Kau mengingatnya?" tanya Radit.
"Ya, aku selalu mengingat wajah orang yang sudah membantuku, kau itu salah satunya." ucap Amara bahagia.
Radit merasakan sakit yang menjalar di hatinya. Hanya sebagai penolong dan bukan siapa-siapa. Radit menghela napas panjang kemudian menggenggam tangan Amara yang memegang tangannya.
"Benarkah?" tanya Radit. Amara mengangguk pelan. Radit tersenyum bahagia.
"Lalu, kenapa kamu ada di sini?" tanya Amara.
"Aku tinggal disini, kakak ipar." ucap Radit. Amara mencoba mencerna ucapan Radit.
"Kakak ipar?" gumam Amara. Radit tersenyum dan melepaskan genggaman tangan Amara. menepuk pundak Amara dengan pelan.
"Kau telah menikah?" tanya Radit dan diangguki oleh Amara.
"Aku adik angkat kak Micho, kau adalah kakak iparku, Nona Amara." ucap Radit. Amara tersenyum dan menatap Radit.
"Okey, adik ipar. Kita nikmati kebersamaan, aku akan menjadi kakak ipar yang baik untukmu, aku akan balas budi karna kamu telah menolongku," ucap Amara sambil tersenyum. Radit tertawa, setidaknya dengan dekat pada Amara membuatnya bahagia, meskipun hanya di anggap sebagai adik ipar.
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Radit sambil tersenyum.
"Aku mau memasak," jawab Amara. Radit mengangguk pelan. Amara tersenyum dan menatap ke arah Radit.
"Aku kira hidupku akan membosankan disini, tapi ternyata Tuhan maha baik. Tuhan mengirimkan adik ipar sepertimu, adik ipar yang akan membuat hariku menyenangkan." ucap Amara. Radit mengernyitkan dahinya, mencoba memahami ucapan Amara.
"Kenapa? Kau terkejut? Aku juga tidak menyangka, aku harus menikah dengan manusia murahan sepertinya,"
ucapan Micho kala itu terngiang di ingatan Radit. Radit tersenyum dan memandang wajah cantik di depannya.
__ADS_1
"Aku akan menjadi adik ipar terbaik untukmu, kakak ipar." ucapnya. Amara tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu aku kesana dulu, senang bertemu denganmu, Radit." ucap Amara.
Amara berjalan ke arah dapur. Ada Bi Rini disana. Amara tersenyum kemudian menyapa dengan sopan.
"Pagi, Bi," sapa Amara sopan. Bi Rini yang mengetahui dari putranya Radit, bahwa istri dari majikannya datang tampak terkejut. Dia seperti telah mengenal orang di depannya.
"Nona? apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanyanya. Amara tersenyum dan mengangguk pelan. "Panggil Aku Rara, Bi." ucap Amara. Bi Rini tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Mas Micho pernah mengajak Nona kemari?" tanyanya penasaran. Seingatnya Micho tidak pernah membawa wanita pulang ke rumahnya.
"Aku kesini sendiri, Micho tidak pernah mengajakku," ucap Amara. Bi Rini tampak berpikir.
"Sebaiknya kita memasak, aku akan membantu Bibi," ucap Amara sambil menepuk pundak Bi Rini
Beberapa saat berlalu, Amara telah menyelesaikan memasak. dia menghidangkan makanan ke meja kemudian pergi ke kamarnya, membersihkan diri dan segera turun kembali. Tidak ada batang hidung milik Micho sehingga dia kembali kebawah lebih cepat. Amara menuruni tangga, sambil mengkucir kuda rambutnya.
Micho dan Radit sudah berkumpul di meja Makan. Mata Micho dan Radit bersamaan menatap ke arah pemandangan cantik yang terpampang dari atas.
"Pagi," sapanya sambil tersenyum. Micho mengalihkan pandangannya. Amara duduk di antara Micho dan Radit.
"Darimana saja?" ketus Micho.
"Jangan banyak bicara. Ambilkan!" titah Micho. Amara mengambil makanan untuk Micho kemudian memberikannya. Amara juga mengambil makanan untuk dirinya sendiri, netranya melirik Radit dan tersenyum.
"Bi Rini, dan Kamu Radit. Dia Amara, istriku. Dia sama saja seperti kalian dan juga saya, tidak Ada hak istimewa apapun jangan sungkan meminta bantuan padanya," ucap Micho. Radit dan Bi Rini hanya bisa mengangguk.
"Dit, mau aku ambilkan sekalian?" tanya Amara. Radit tersenyum dan mengangguk. Amara mengambil untuk Radit juga. Micho tampak mengeratkan rahangnya. Sekarang dia tau bahwa Radit dan Amara memang saling mengenal. Rasanya dia tidak suka jika Amara juga memperhatikan orang lain. Padahal dia sendiri yang baru saja bilang jangan sungkan meminta bantuan padanya.
Setelah mengambil untuk Radit, Amara duduk dan hampir saja menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Ambilkan minum," titahnya lagi. Amara meletakkan sendok dan mengambil minum untuk Micho. Hatinya terasa panas dan ingin memberontak.
Radit memejamkan matanya. Rasanya sesak ketika melihat Micho memperlakukan Amara seperti itu.
"Ini, Pak Micho Aditya pratama. Ada yang perlu saya bantu lagi?" tanya Amara sambil menampakkan senyum terpaksanya.
Micho melirik ke arah Radit, dilihatnya Radit tampak memandang Amara tanpa berkedip. Micho menatap Amara dan menghela napas panjang.
__ADS_1
"Pindah kesini," ucapnya sambil menunjuk kursi kosong sampingnya.
"Apa-apaan sih, aku sudah nyaman di sini." ucap Amara pelan. Dia tampak tak enak pada Radit dan Bi Rini atas insiden ini.
"Aku bilang pindah," ucapnya.
"Kakak ipar, pindah saja. Lakukan apa yang di mau kakak cerewetku itu," ucap Radit mencoba menguasai hatinya. Amara dengan dongkolnya pindah ke samping Micho. Bi Rini hanya menahan senyum. Dia tau Micho tengah cemburu. Mereka menikmati makan dengan lahab.
"Bi, tumben semua makanan berbeda. Apa Bibi punya resep baru?"
"Anu, Nak, ini resepnya,,," ucap Bi Rini menggantung.
"Makanannya enak sekali, bungkuskan untukku. Jangan lupa nanti malam masak seperti ini lagi," sahut Micho di tengah ucapan Bi Rini.
"Siap Nak, Nak Micho harus berterimakasih sama Mbak Rada. Soalnya ini semua masakan mbak Amara lo," ucap Bi Rini.
"Uhukkk..." Micho tampak tersedak udara dan meminum minuman di depannya.
"Ya sudah, tidak jadi. Aku bisa membeli makanan yang lebih enak dari ini." ucap Micho.
Amara hanya bisa menghela napas kasar. Radit merasakan dadanya memanas. Bi Rini hanya mengurungkan niatnya mengambil rantang.
"Radit, bersiaplah. Kita berangkat." ucap Micho. Radit mengangguk dan keluar. Amara menatap Micho dengan tenang. Micho melirik Amara kemudian melangkah.
"Tunggu," ucap Amara. Micho spontan menghentikan langkahnya. Amara berjalan dan berhenti di depan Micho. Dia berjinjit dan merapikan dasi Micho. Micho menatap wajah cantik itu dengan tenang, wajah itu tampak indah dan mempesona. Micho menghela napas panjang dan menepis tangan Amara.
"Aku bisa sendiri," ucapnya. Amara tersenyum dan meraih tangan Micho kemudian menciumnya.
"Hati-hati, yang mulia Micho. Aku nanti mau ke rumah sakit memjemput mama," ucap Amara kemudian memutar langkahnya dan pergi meninggalkan Micho yang mematung di tempat.
"Amara," panggil Micho. Amara menoleh dan kembali mendekat ke arah Micho. Hatinya Sebenarnya sangat sebal dan mau mengumpat , tapi Amara mencoba tersenyum.
"Ada yang bisa saya bantu yang mulia?" tanyanya. Mendengar panggilan aneh itu membuat hatinya Micho terasa bergetar.
"Pakai mobil ini, aku berangkat bersama Radit." ucap Micho sambil menyerahkan kunci mobil. Amara menerima dan tersenyum tipis.
"Jangan GR, aku hanya tidak mau papamu menganggapku pelit," ucap Micho kemudian melenggang pergi. Amara menatap kunci di tangannya.
"Bodo amat, mau apa juga aku nggak perduli," ucap Amara kemudian melangkah ke kamarnya.
__ADS_1
😍😍😍😍
Like, komen ,hadiah ya.....