
Micho mengepalkan tangannya dan mengeratkan rahangnya. Marah, kenapa harus marah? Seharusnya senang karena wanita itu tak lagi mengganggunya. Perusahaan juga aman, lalu kenapa dia merasa dongkol? Pikir Micho. Apa harus sekarang juga menyelesaikan dengan Amara? Memberi tahukan pada Amara tentang kejadian yang sebenarnya? Tapi kenapa seakan dia tidak rela, melepaskan Amara gadis cantik itu.
Micho melangkah mengikuti langkah Amara, Micho menarik Amara dalam dekapannya. mencari kenyamanan yang 2 malam ini dia rasakan.Yang benar saja, dirinya yang tadi emosi merasakan kenyamanan yang luar biasa. Amara terkejut ketika Micho melakukan hal ini padanya. Dia merasakan kenyamanan yang sama.
"Micho, lepaskan aku!" pinta Amara. Hatinya sesak.
"Jangan memberontak, diam lah!" tegas Micho. Micho lebih mengeratkan dekapannya. Angin pantai kesana kemari menerpa keduanya. Micho merasakan desiran lembut yang menguasai hatinya.
"Micho, jangan seperti ini. Aku mohon!"
"Aku bilang diam Amara," bentak Micho.
Amara tersentak kaget dan mematung, air mata Amara meleleh tanpa diminta, membasahi wajah cantik yang kini ada di dalam dekapan Micho. Dia merasakan hangat dan nyaman di sana, ia juga bisa mendengar dan merasakan dan detak jantung Micho yang tak beraturan. Amara memejamkan matanya dan mengumpulkan kekuatan, ia tak kuat lagi merasakan gejolak jiwanya dia takut akan terluka untuk yang ke dua kalinya. Amara mendorong tubuh Micho.
Micho beringsut mundur, mereka saling berhadapan. Micho dapat melihat dengan jelas air mata yang membasahi wajah cantik Amara.
"Jangan memperlihatkan air mata yang tak berguna itu dihadapanku," ucap Micho dengan sorot mata tajam.
"Ingat, sekarang kau adalah milikku. Aku bebas melakukan apa yang aku inginkan,!" seru Micho lagi. Amara memejamkan matanya menahan sesak di dadanya.
"Kau boleh membalas sakit hati padaku karna aku telah menggagalkan pernikahanmu, itu hakmu ! Tapi aku mohon jangan melibatkan mama, mama tidak tau apapun!" bentak Amara sambil mengusap air matanya. Micho menghela napas kasar dan mengusap wajahnya dengan kasar juga. Dia tidak bermaksud untuk itu.
__ADS_1
"Aku tidak melibatkannya," sanggah Micho.
"Lalu apa yang kamu lakukan tadi? mengambil hatinya, kau pikir apa yang dirasakan mama jika tiba-tiba kamu mendepak aku dari hidupmu? Hah?" bentak Amara. Micho terdiam. Melihat mama Hana adalah kebahagiaan tersendiri baginya. Tapi kenapa di salah artikan oleh Amara?
"Aku hanya ingin mengenal mama Hana, apa itu memberatkanmu?" cerca Micho.
"Aku takut mama terluka, bukankah pernikahan kita hanya sebuah perjanjian karna kamu menganggapku musuhmu? Aku tidak mau membuat mama terluka nantinya," sahut Amara.
"Pernikahan tetap pernikahan, semua yang kulakukan sah di mata agama maupun hukum. Kau istriku, Amara." tegas Micho.
"4 tahun Aku hidup dalam ketakutan dan sekarang aku telah mendapatkan apa yang aku mau. Aku ingin bahagia, aku sudah memutuskan untuk menyerah Micho," ucap Amara tegas. Micho menatap wajah cantik di depannya. Hatinya sakit, sakit tak berdarah.
"Kenapa menyerah? Dimana naluri murahanmu Amara?" tanya Micho. Amara tersenyum kecut.
"Jangan harap aku membebaskanmu semudah itu."
"Ya, aku tau aku tidak mempunyai kebebasan, Micho! semuanya tergantung padamu aku tau. Aku hanya memintamu untuk tidak melibatkan mama,"
"Hentikan omong kosongmu Amara," bentak Micho.
"Lalu apa maumu sebenarnya? katakan padaku apa yang kau inginkan? " bentak Amara lagi. Micho terdiam.
__ADS_1
"Kau ingin Aku tetap menjadi murahan? Memaksamu untuk bertekuk lutut di hadapanku begitu?" bentak Amara. Micho masih diam dan mematung. Amara menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku bukan musuhmu Micho, aku manusia yang memimpikan sebuah keluarga! Jangan memaksa aku untuk jatuh cinta pada manusia Laknat sepertimu! Jangan memaksa Aku untuk terluka lebih dalam karna ulahmu. Jangan memaksa aku mencintai orang yang hatinya selalu tertutup, jangan memaksa aku untuk mencintai manusia yang masih saja menginginkan wanita masa lalunya! Bukankan aku berhak bahagia? Aku berhak bahagia meskipun bukan disampingmu, lakukan apa yang membahagiakan hidupmu, aku menyerah." ucap Amara kemudian mendorong tubuh Micho. Micho terhuyung ke belakang dan memejamkan matanya.
Amara berlari menjauh. Amara mengusap air mata yang terus saja merembes tanpa di minta. Tiba-tiba Amara melayang, Micho menyambar dan membopong Amara. Amara sontak melingkarkan tangannya di leher Micho.
Mereka saling menatap menyampaikan perasaan lewat tatapan mata yang dalam.
"Lepaskan aku,!" berontak Amara.
"Bisa diam? Atau mau aku lempar? mau aku lempar, biar warna airnya tidak putih lagi?" ucap Micho. Amara terdiam dan menahan malu, wajahnya memerah. Kini dia tau, bahwa memang Micho yang menggantikan bajunya tadi malam.
Micho mendudukan Amara di sebuah bangku yang berada di pinggiran pantai, mengusap air mata yang membasahi wajah cantik istrinya itu.
Memandang dengan puas wajah Amara yang sembab sehingga membuat rona merah di kedua pipi Amara semakin menggemaskan.
"Pernikahan kita adalah nyata, kau tidak bisa mengabaikan tugasmu sebagai istriku, mau cinta mau tidak, kau tetap harus berdiri di sampingku. Meskipun pernikahan kita adalah rahasia," ucap Micho. Amara mencoba untuk berdamai dengan keadaan. Dia terdiam dan memandang hamparan lautan yang luas.
😍😍😍😍
Mama Hana tersenyum melihat aksi romantis sepasang suami istri yang tengah menikmati indah pantai, Micho membopong Amara ke bawah pohon. Dia miendapat kiriman vidio dari asisten pribadi papanya. Jadi, nenek dan kakek yang mendengar kabar Amara dan suaminya akan datang mempersiapkan sambutan yang istimewa. Beberapa jam berlalu, dan mereka tak kunjung sampai, pada akhirnya mereka menyusul ke tempat terdekat. Yang benar saja, Amara dan Micho tengah beradegan romantis.
__ADS_1
"Mereka sangat bahagia tampaknya," ucap Mama Hana.
😍😍😍😍😍