Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
Micho tolong aku


__ADS_3

Suasana malam di kafe mawar begitu indah. Amara dan Nada yang menggunakan dres cantik lengan panjang dan rok selutut tampak tersenyum ke arah Dinda yang melambaikan tangan pada keduanya. Dinda berdiri dan mendekat ke arah 2 sahabat yang 4 tahun ini berpisah.


"Rara, Nada. Apa kabar kalian? Aku merindukan kalian berdua," sapanya sambil memeluk Amara dan Nada bergantian.


"Kami baik Dinda, bagaimana dengan kamu?" tanya Amara dengan senyum manisnya. Meskipun hatinya dilanda gelisah tetap saja dia mencoba tetap tegar di hadapan sahabat dan juga teman masa kuliah.


"Wah, senengnya kalian baik dan juga tetap bersama, aku tidak bisa ikut bersama kalian dan merintis karir bersama kalian. Aku jadi iri," ucap Dinda. Nada dan Amara tertawa mendengar ucapan Dinda.


"Jangan gitu juga dong, mau disini disana pokoknya kita berusaha menggapai mimpi," ucap Nada.


"Bener itu, lagian kamu biasanya juga sama Erika. Dimana itu orang, belum nongol juga dari tadi," ucap Amara sambil melirik kesana kesini.


"Erika? Sekarang mah aku jarang banget jalan sama dia, dia sibuk aja sama Rayen." ucap Dinda. Amara terdiam, mengingat nama Rayen membuat hatinya terasa sesak. Kenapa dia harus lupa jika nantinya akan ketemu dengan Rayen juga di sini.


"Erika dan Rayen?" tanya Amara. Dinda menganggukkan kepalanya.


"Ya, mereka jadian sedari kalian memutuskan untuk pergi," ucap Dinda. Amara menghela napas panjang. Jika Rayen jadian dengan Erika, lalu kenapa dia juga melamar? Amara menggelengkan kepalanya. Apa Erika tak kunjung datang karna bertengkar dengan Rayen? pikir Amara.


"Kamu kenapa Ra?" tanya Nada saat melihat perubahan wajah Amara.


"Aku tidak papa," ucap Amara.


"Kalo begitu sebaiknya kita bergabung teman yang lain, kita nikmati makanan disana." ucap Dinda. Amara dan Nada mengangguk pelan. Mereka berjalan ke arah makanan dan minuman yang tersedia.


Amara tampak melirik ke arah meja, tidak ada minuman yang dia sukai disana. Amara menghela napas panjang kemudian melirik Nada dan Dinda yang tengah menikmati soda. Amara terpaksa mengambil salah satu minuman. Namun, seorang pelayan datang dan menghampiri Amara.


"Jus jeruk Nona, jika mau." ucap pelayan itu sambil menata gelas yang berisi jus ke beberapa meja. Amara mengulurkan tangannya untuk mengambil diatas nampan.


"Maaf, itu sudah ada yang memesan, Nona. Ini untuk anda," ucapnya sambil tersenyum. Amara meletakan kembali satu gelas yang tadi diambilnya kemudian mengambil gelas yang tersisa.


"Terimakasih," ucapnya. Amara meneguk beberapa tegukan kemudian bergabung dengan Nada dan Dinda.


Amara, Nada dan Dinda tampak berbincang-bincang dengan beberapa orang teman. Tiba-tiba saja Rayen menarik tangan Amara dan menjauh dari kerumunan. Nada dan Dinda tampak sedikit hawatir.

__ADS_1


Namun, Amara menggeleng seoalah memberi tau bahwa dia baik-baik saja. Amara mengikuti langkah Rayen dan menarik tangannya dengan kasar saat sudah di area parkiran.


"Ada apa Rayen? Kita bisa bicara disini," ucap Amara.


"Ra, pertimbangkan perasaanku," ucap Rayen seakan memohon. Amara menghela napas panjang. Rayen ang masih saja mengharapkan Amara seakan tidak terima dengan penolakan Amara. Amara menatap Rayen dengan sorot mata kebencian.


"Maaf Rayen, kita cukup berteman," ucap Amara.


"Ra, dengarkan aku dulu ... "ucap Rayen sambil memegang pundak Amara.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan, kita sudah tidak ada urusan Rayen. Singkirkan tanganmu, aku sudah bersuami. Tidak ada gunanya mendengarkan semua celoteh omong kosongmu."ucap Amara keceplosan.


Ucapan Amara seperti telak mematikan untuk Rayen, Rayen tertawa lepas dengan ucapan Amara.


"Bersuami? Lelucon apa yang kamu buat, Ra? Laki-laki mana yang sanggup mencuri hatimu? Sedangkan kau selalu menolak pesonaku?" ucap Rayen. Amara menghela napas panjang. Mengaku bersuami, bukankah itu akan membahayakan Micho?


"Lupakan, yang terpenting saat ini kita tidak ada urusan. Kau hanya teman bagiku dari dulu hingga saat ini," ucap Amara.


"Ra, aku mohon beri aku waktu ... Aku benar-benar mencintaimu," ucap Rayen sambil mengusap pelan pundak Amara. Amara tiba-tiba menegang. Tubuhnya seakan merespon Sentuhan itu. Amara merasakan hawa Panas yang tiba-tiba membuat tubuhnya menginginkan hal lebih dari sentuhan.


"Rayen, pergilah. Kita tidak ada urusan." ucap Amara kemudian melangkah. Rayen seakan tak terima dengan penolakan Amara untuk yang kedua kalinya. Rayen menarik tangan Amara dan membawa Amara dalam dekapan Rayen.


Lagi-lagi Amara merasakan Panas yang menjalar di tubuhnya. Bersentuhan dengan Rayen membuat Amara meyadari ada yang tidak beres dengan dirinya. Amara mendorong Rayen hingga lelaki itu tersungkur. Amara berlari dan mencoba mengendalikan dirinya yang semakin merasakan panas dan ada hal yang aneh pada dirinya yang menginginkan dirinya menuntaskan hasrat itu.


Amara berlari menuju ke sebuah toilet yang berada di cafe. Sepi, sepi sekali. Amara melangkahkan kakinya, ada sebuah kaki yang menjegalnya hingga ia tersungkur di lantai.


Ada 2 orang laki-laki yang tertawa dan tersenyum meremehkannya. Tatapan menjijikan seakan menelanjangi tubuhnya. Amara beringsut mundur dan menggelengkan kepalanya. Sekarang ini seakan dirinya tengah berada dalan kasus yang sama dengan 4 tahun lalu. Jika waktu itu dia tidak berdaya melawan preman karna pusing yang memdera otaknya. Kini, Amara seakan takut bersentuhan dengan 2 manusia menjijikan di depannya.


"Pergi," ucap Amara sambil menahan gejolak diri yang meronta menginginkan hal yang panas.


"Wah ada bidadari cantik," ucap lelaki itu sambil berjongkok di depan Amara. Amara terdiam, namun orang itu menarik tangan Amara.


"Lepaskan," Amara menepis tangan orang itu sehingga membuat orang itu tersenyum dan semakin mendekat.

__ADS_1


"Rupanya nyalimu besar juga, Nona. Kami akan membawamu, diamlah." ucapnya sambil menatap Amara. Amara merasakan panik, takut, dan lagi harus mengontrol dirinya, air matanya begitu saja lolos.


"Lihatlah, bidadari ini cantik sekali," mereka mengamati Amara dari atas sampai bawah.


"Apa yang kalian inginkan? Pergilah, jangan sakiti aku, apa kalian mau uang? Ambilah!" ucap Amara sambil melempar tas ke arah 2 orang itu.


Ha... haha ... tawa mereka menggelegar, Amara berdiri berjalan mundur, menjauh dari 2 orang yang terus saja melangkah maju. Amara terus saja memberikan mereka penawaran agar mereka tak menyakitinya. Namun naas, sebuah kububangan air membuatnya terpelanting. Orang itu menangkap Amara dan membopongnya. Menyekap mulutnya Amara kemudian membawa Amara pergi. Amara meronta, wajahya merah menahan gejolak hal yang berkecamuk di hatinya. Orang itu terus berjalan membawa Amara menjauh dari cafe mawar.


😂😂😂😂


Micho masih saja mengamati pecahan gelas yang ada di tangannya, otaknya masih saja mengingat Amara, wanita yang saat itu meminta pernikahan padanya, wanita galak yang mengibarkan bendera perang padannya, kini berubah menjadi wanita yang pandai menari di otaknya. Wajah yang terlihat semakin cantik tanpa make up itu benar-benar membuatnya gila. Micho tersenyum.


"Apa iya aku jatuh cinta kepadamu nona murahan?" tanyanya sambil membelai wajah Amara di ponselnya. Micho melihat jam yang melingkar ditanganya yang menunjukkan pukul 22.00.


"Kenapa dia tidak menghubungi lagi?" tanyanya pada dirinya sendiri, tadi dia sengaja mengabaikan panggilan dari Amara. Micho merasa ada sesuatu yang terjadi, perasaan tak nyaman menggelayuti hatinya. Micho membaca pesan dari Amara.


"Cafe mawar?" gumamnya.


Micho merasa khawatir kemudian memasukan ponselnya dalam saku jasnya dan melenggang pergi setelah membuat panggilan pada Damar.


😃😃😂😂


Orang itu terus mendekat setelah melempar Amara di atas ranjang. Amara terus saja memundurkan tubuhnya. Salah satu dari mereka berjongkok, telunjuknya membelai pipi mulus Amara, Amara menepis tangan itu.


"Ayolah sayang, kita bersenang-senang. Bukankah kau menginginkannya?" orang itu memegang tengkuk Amara, Amara mencoba menahan gejolak dalam jiwanya.Air matanya terus saja mengalir.


"Micho tolong aku," ucapnya lirih. Di tengah kegundahan dan kegelisahan yang menderanya. Hanya nama Micho yang terucap di bibirnya. Amara pasrah apapun yang akan terjadi padanya, mau berlari tidak bisa, mau teriak percuma.


Tangan Amara di belakang mengambil sebuah asbak, kemudian memukul orang didepannya. Orang merasakan kesakitan. Saat itu, Amara berdiri melepas sepatunya, dan berjalan dengan kaki pincang nya, preman itu menyadari Amara berlari menuju pintu.


"Jangan mencoba lari, kau tidak akan lolos kali ini," ucap salah satu dari mereka. Orang itu menariknya kasar. Amara meronta, air matanya terus saja mengalir, salah satu dari mereka, menarik tangan Amara. Keduanya mendorong Amara hingga Amara terlentang di ranjang, Ia meringsut mundur. Amara benar-benar merasakan trauma yang mendalam. Entah, dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Jangan, jangan sakiti aku,"

__ADS_1


Amara pasrah, 2 orang itu terus mendekat, Amara memejamkan matanya, berharap ada pertolongan untuknya.


😂😂😂😂😂


__ADS_2