Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
Gelisah


__ADS_3

"Amara," gumamnya pelan, hatinya sedikit sesak menyebut nama itu, Mikho menyambar kunci mobilnya dan berjalan ke luar bar.


Micho melirik jam tangan yang menunjukan pukul 22.00. Entah apa yang bergelayut di pikirannya. Micho merasakan gelisah dan ingin secepatnya sampai di rumah, berharap wanita yang selalu membuatnya sebal itu ada disana.


"Shitt," umpat Micho saat dirinya mendapati rambu-rambu lalu lintas yang mendadak merah. Beberapa menit saja membuat darahnya seakan mendidih. Gemuruh di dada seakan membuatnya semakin sesak. Beberapa menit kemudian, rambu-rambu berubah hijau.


Micho menancap gas mobilnya dan membelah jalanan nan sepi, dengan kecepatan yang tinggi. 20 menit berlalu, Micho sampai di depan rumah dan tak mendapati mobil yang di bawa Amara. Micho memejamkan matanya.


"Sial, kemana wanita murahan itu tidak ada. Merepotkan saja." gerutunya dalam hati, kemudian menancap gas mobilnya kembali.


Radit yang kala itu sedang duduk di depan dan sengaja menunggu Amara tampak gelisah. Dia bengkit dari duduknya dan mengikuti arah mobil Micho melaju.


Waktu menunjukan pukul 21.00 dan Micho belum juga menemukan Amara. Micho menghentikan mobilnya di tepi Jalan, meraih ponselnya dan menekan nama wanita murahan. Beberapa kali berdering dan tak ada jawaban dari pemiliknya. Micho menghela napas panjang dan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Shitt," umpatnya sambil memukul setiran mobil. Micho meraih ponselnya lagi dan menghubungi ponsel Damar.


"Halo bos, ada apa?" tanya suara di sebrang.

__ADS_1


"Damar, katakan dimana mobilku berada," ucap Micho tampak emosi. Damar mengernyitkan dahinya mencoba mencerna ucapan Micho.


"Apa mobil mu menghilang?" tanya Damar.


"Jangan banyak bertanya, katakan sekarang juga," ucap Micho agak membentak.


Damar membuka beberapa aplikasi di ponselnya dan memberi tahukan alamat dimana mobil Micho berada. Micho mengela napas lega. Entah mengapa, dirinya seakan melepas beban besar saat mengetahui Amara berada di tempat yang Aman.


Dengan perasaan yang mulai membaik, Micho menancap gas mobilnya menuju ke alamat apartmen yang dikirimkan oleh Damar.


Beberapa saat kemudian, sampailah Micho di sebuah gedung apartemen yang menjulang tinggi. Waktu menunjukan pukul 00.30 Micho kembali memanggil kontak Amara, kali ini orang di sebrang menjawab panggilannya.


Nada mondar-mandir kesana-kesini, sambil melirik Amara yang masih belum sadarkan diri. Tak berapa lama kemudian seseorang mengetuk pintu. Nada segera berdiri dan membuka pintu.


Micho berdiri dengan tenang, Nada mengamati Micho yang menggunakan setelan jas berwarna Navy.


"Kamu mau tetap disini?" tanya Micho sedikit sinis. Nada tersenyum tipis.

__ADS_1


"Saya akan pulang ke apartment saya, Tuan Micho. Titip Amara, jangan menyakitinya." tegas Nada. Micho hanya menyunggingkan senyum tipisnya. Nada melangkah pergi, Micho mengunci pintu dan melangkah ke arah kamar Amara.


Micho melangkah pelan, tangannya terulur untuk membuka hendel pintu kamar. Micho menatap ke arah Amara yang tertidur pulas. Denguran napas halus terdengar di telinga Micho. Micho mendekat dan mengamati setiap inci wajah Amara.


Jantung Micho terpacu lebih cepat saat tangannya mengusap lembut wajah cantik istrinya, darah Micho mulai memanas, ada sebuah rasa yang sulit untuk dijelaskan yang mulai menguasai hatinya. Sial, ini benar-benar mengganggu pikiran Micho. Micho membenahi selimut Amara yang melorot ke bawah. Micho berjongkok, ada aroma alkhohol yang di ciumnya.


Bukan lagi membenahi selimut, kini Micho membuka selimut itu. Yang benar saja aroma Alkhohol lebih menyengat dihidungnya.


"Apa yang membuatmu begini?" batin Micho.


"Dasar wanita murahan, ini mungkin sudah kesekian kalinya melakukan hal ini," gerutunya.


Micho mengambil setelan piama yang berada di walk in closet. Micho memejamkan matanya.


"Kenapa aku perduli padanya," sanggah batin Micho. Micho menepis segala rasa yang berkecamuk di dadanya. Dengan segala kelembutannya Micho mengganti pakaian wanita yang kini tengah sah menjadi istrinya itu.


Micho merasakan desiran aneh merajai hatinya, saat tangannya menyentuh kulit halus seputih kapas milik Amara. Ada desiran aneh yang menjalar di nadi dan aliran darahnya. Sial, kenapa selalu seperti ini jika dia melihat Amara? Micho segera menuntaskan kegiatannya dia tidak mau terlena dengan apa yang dirasakannya saat ini.

__ADS_1


Setelah selesai mengganti baju Amara Micho melepas jasnya. Kini dia hanya menggunakan kemeja, Micho merebahkan dirinya disamping Amara. Entah, magnet apa yang membuatnya merasa nyaman dan tenang saat tidur di samping Amara. Micho memejamkan matanya, melingkarkan tangan kokohnya di pinggang Amara dengan posesif.


🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣


__ADS_2