Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
Keluar masuk kandang


__ADS_3

Amara pasrah, 2 orang itu terus mendekat, Amara memejamkan matanya, berharap ada pertolongan untuknya.


"lepaskan dia,"


Amara benar-benar bersyukur, matanya mengarah pada suara itu, begitu juga dengan 2 orang itu, dilihatnya Rayen dengan wajah dingin penuh kemarahan. Tak menunggu lama, tangannya mengepal, Rayen menghajar ke 2 orang itu tanpa ampun, hingga keduanya babak belur dan lari entah kemana.


Rayen mendekati Amara dan memeluknya erat. Amara menangis sesenggukan. Rayen mengusap pundak Amara, Amara merasakan sensasi yang menggila pada tubuhnya. Amara mencoba mendorong Rayen. Namun Rayen Semakin mengusap pundak Amara dengan hasrat. Membuat tubuh Amara yang ada di luar kendalinya seakan meminta hal lebih dari itu. Namun, alam sadar Amara mencoba memberontak.


Rayen mendorong Amara hingga terlentang di ranjang. Amara menangis histeris. Selamat dari kandang buaya dan sekarang masuk dalam kandang singa. Rayen tampak mengunci pintu kamar, dan melepas ikat pinggangnya.


Rayen tersenyum sinis dan menatap Amara dengan hasrat yang menggebu.


"Rayen, lepaskan aku." pinta Amara sambil beringsut mundur. Rayen membuang bajunya entah kemana. Rayen tersenyum sinis dan memandang Amara penuh hasrat.


"Bukankah tubuhmu menginginkan? Kau kira aku akan melepasmu begitu saja, setelah melepaskan mu dari mereka?" tanya Rayen dengan senyum jahatnya. Amara menggelengkan kepalannya.


Dengan tubuh yang mulai kehilangan kontrol, Rayen menuju ke arah tempat tidur. Amara mundur beringsut dan menatap Rayen dengan waspada.


"Rayen, tolong biarkan aku pergi," pintanya sambil mengatupkan ke dua tangannya.

__ADS_1


"Setelah penghinaan tadi siang kau masih berani meminta aku melepasmu?" bentak Rayen dengan suara serak dan mengusap pelan pipi mulus Amara sehingga membuat darah Amara semakin menggelora.


"Aku menyelamatkanmu dari mereka yang tidak jelas, aku akan menikmati malam ini denganmu, dan kau harus menjadi milikku." ucapnya sambil membuka resleting celananya. Amara menggelengkan kepalanya. Sakit, sesak semua menjadi satu.


"Micho, tolong aku," lirihnya di sela isak tangisnya.


😁😁😁😁


"Jadi kalian gagal lagi? Kenapa kalian bodoh sekali?" Erika membentak Bos preman yang kini tengah duduk sambil memegangi tangannya yang terluka.


"Siapa lagi yang menyelamatkannya?" tanya Erika denganmu suara lantangnya karena emosi.


"Ini karna seseorang datang dan menyerang kami," protesnya.


"Kalau tidak salah wanita itu memanggilnya Rayen, ilmu bela diri orang itu tidak bisa disepelekan," protes preman itu.


"Rayen?" gumam Erika.


"****," umpatnya. Erika menghela napas kasar dan mengacak meja kerjanya.

__ADS_1


"Argggh,,, bahkan jumlah kalian lebih banyak, dan kalian kalah lagi?! benar-benar memalukan!" ucap wanita itu penuh amarah.


"Rayenn, kenapa kau tak pernah melihatku? Kenapa wanita murahan itu yang selalu menghantui mu? Arggggg,,,," teriak Erika membuat 2 orang suruhannya menunduk ketakutan.


🤗🤗🤗🤗


Nada melirik ponselnya, ia menghubungi kontak Amara. Amara tidak mengangkatnya.


Nada dan Dinda tampak panik, Amara tak kembali sejak satu jam yang lalu. Tak berapa lama kemudian Nada ditarik oleh seseorang dan membawanya ke ujung jalan. Dinda tak menyadari kepergian Nada.


"Lepas," ucap Nada. Saat ini dirinya tengah berada di hadapan Micho. Nada membelalakkan matanya memandang ke arah Damar, Micho dan Radit. Radit terkejut ketika harus melihat wajah yang selalu menyebalkan baginya itu. Nada juga tampak bertanya ada hubungan apa Radit dengan bos dan assistant itu.


"Dimana Amara?" tanya Micho penuh kekhawatiran.


"Micho, Amara entah kemana. Sejak sejam yang lalu dia tidak kembali," ucap Nada dengan takut. Micho mengepalkan tangannya dan mengeratkan rahangnya.


"Kau teman macam apa? Kenapa tidak bisa menjaga Amara," bentak Micho. Nada memejamkan matanya. Takut, benar-benar takut. Radit menatap Micho dengan sorot mata tajam. Entah mengapa, dia tidak terima Nada di perlakukan seperti itu.


"Maaf, Micho. Terakhir kali Amara bersama dengan Rayen," ucap Nada. Micho memejamkan matanya. Rasa khawatir yang tadi ada di hatinya seakan sirna. Bersama Rayen? Bukankah mereka tadi memang tengah lamaran? Lalu, apa mereka merayakan pesta untuk malam ini?

__ADS_1


Micho merasakan sesak, sakit dan kecewa tumpah ruah di dalam dirinya.


😜😜😜😜


__ADS_2