
"Semua akan baik-baik saja," lirih Kenzo.
Amara menatap ke arah papanya, mengangguk dan merasakan hangat pelukan seorang yang mengaku sebagai papanya itu. Amara memejamkan matanya, kenyataan ini begitu menyesakkan dadanya.
"Sayang, sebaiknya kamu makan dulu. Kasian cucu papa di dalam perutmu," ucap papanya sambil tersenyum. Amara menatap perut datarnya, lagi-lagi bayangan Micho menari di otaknya.
"Mas Micho, kamu dimana? Kamu harus tau kabar yang membahagiakan ini, bukankah kamu menginginkannya? Aku akan menjaganya. Kamu baik-baik ya, dimanapun kamu berada," batin Amara.
Melati Meraih bubur di atas meja kemudian menuju ke arah Amara, sedangkan Kenzo melepas pelukan hangat pada putrinya. Amara menatap ke arah Melati yang menyuapkan sesuap bubur padanya. Sesaat mereka saling menatap hingga keduanya tersenyum, walau ikatan darah mengalir butuh waktu untuk menerima semua kenyataan ini.
"Makanlah, Mama akan menyuapimu. Dari bayi kamu disuapi Mama Hana, Mama jadi iri. Tapi, Mama sangat bersyukur Mbak Hana sangat menyayangimu," ucap Melati panjang lebar dan dengan telaten meyuapi Amara. Amara hanya terdiam, yang jelas hatinya sudah lega meskipun masih ada kesedihan.
"Mama Hana sangat baik, bahkan papa juga kakakku, mereka sangat baik," lirih Amara.
"Mama dan papa tau, makanya kami tenang kamu berada diantara mereka," ucap Melati.
Makanpun telah selesai, Kenzo dan Melati pamit untuk shalat, sedangkan Amara bersama dengan Zidan yang saling berdiam sejak tadi.
"Berapa lama kamu menikah?" tanya Zidan membuka percakapan.
Amara terdiam, mendengar pertanyaan Zidan membuat dirinya harus menahan rindu kepada suami tercintanya.
"Ra,"
"Sejak kapanpun bukankan tidak penting kak? Yang jelas aku sudah menikah, dan aku sangat mencintai suamiku. Begitu juga sebaliknya," ucap Amara.
__ADS_1
Zidan menghela napas kasar, nyatanya cintanya tak seperti jalan tol yang lancar tanpa kendala.🤣
"Maaf bila aku tadi terlalu menuduh suamimu, aku hanya terkejut mendapati kenyataan ini. Bahkan aku sejak dulu mengawasimu, tetapi aku tidak tau hari pernikahanmu." Zidan menatap Amara dengan tenang.
Amara menerawang jauh, pernikahannya dengan Micho sangat memyedihkan. Tetapi sekarang, membuat senyuman di bibirnya meskipun air mata mengalir dari pelupuk matanya karna berjauhan. Pernikahan yang terjadi 3 bulan yang lalu itu sangat unik bagi Amara.
"Sudahlah, yang terpenting kakak jangan seperti itu lagi. Suamiku sangat baik, dia sangat menyayangiku meskipun di dalam darahnya mengalir darah papanya," ucap Amara.
****
Mama hana mengusap pelan dada suamiya yang tampak terkejut. Dia menatap suaminya dengan tenang.
"Ada apa Pa? Amara kenapa?" tanyanya. Papa Rusdi tersenyum danengusap pelan istri tercintanya itu.
"Mama tenang, Amara baik-baik saja. Dia berada dalam lindungan orang yang tepat," ucapnya.
"Entah, sekarang mama istirahat. Besok Amara akan pulang," ucapnya. Mama Hana mengangguk dan melenggang pergi.
Tak berselang lama, Papa Rusdi menuju ruang kerjanya. Ia mencari beberapa berkas 23 tahun yang lalu, berkas beberapa dokumen berharga yang beratasnamakan Kenzo.
"Kenzo," lirih Papa Rusdiantoro.
"Jadi kedua orang tua Amara selamat daripembunuhan itu? Syukurlah, sekarang akan banyak yang akan melindungi Amara." batin Papa Rusdi. Dia menyelidiki asal usul Amara dari berkas itu, waktu itu. Dan dia tau Milano berbahaya juga dari hal itu.
Suatu kebahagian jika kedua orang tua putrinya selamat. Usianya dan Mama Hana tidak muda lagi muda, mendapati Amara bertemu dengan orang tuanya yang jauh lebih muda darinya membuat Papa Rusdi merasa lega, Amara akan banyak yang melindungi. Terlebih ada Micho yang selalu ada untuk Amara.
__ADS_1
"Pa,"
Suara itu membuat Papa Rusdi menoleh, ada Damar dan Rafa yang berjalan dengan wajah yang kusut.
"Pa, kami belum ada kabar tentang Amara. Tapi Micho tampaknya ada di tempat yang aman," ucapnya. Papa Rusdi tesenyum dan menatap 2 orang di depannya.
"Kalian istirahatlah, Amara baik-baik saja. Micho kita cari lagi besok, papa yakin dia juga baik-baik saja." ucap Papa Rusdi. Damar dan Rafa mengangguk pelan kemudian melangkah pergi.
**
Micho mengerjabkan matanya, menetralkan pandangan matanya. Dia merasakan tubuhnya sangat lemah. Namun, bayangan Amara menyelinap masuk di otaknya membuat kekuatan tersendiri untuknya, sehingga ia kini ia benar-benar membuka matanya.
Micho menatap langit kamar yang begitu asing, ia juga menatap tangannya yang melekat selang infus. Dia mengingat, dirinya tertembak. Seketika Micho mencoba untuk duduk, tapi dirinya masih sangat lemah. Hingga dirinya terpaksa harus terbaring.
"Amara," lirihnya. Micho memejamkan matanya. Bayangan Amara begitu mengusiknya. Dia mengingat gejala hamil yang berada dalam ponselnya waktu itu, apa iya istrinya hamil? Lalu bagaimana keadaanya setelah disekap? Perasaan campur aduk menguasai hatinya, hingga terdengar sayup-sayup suara percakapan dari arah luar.
"Kenapa menyelamatkan dia? Dia pelindung Amara, bagaimana kita bisa mendapatkan putri Kenzo jika kau menyelamatkannya?" tanya suara itu.
"Diamlah, dia putraku. Mana bisa aku menghabisinya," ucap suara itu.
Deg, jantung Micho berdetak tak beraturan. Ayahnya? Seperti apa dia? Lalu, kenapa papanya berbicara dengan Milano dan Rayen? Apa mereka sama jahatnya sehingga Papa Prayoga tak pernah mau untuk memberi tahukan kebenaran tentang itu.
Seketika Micho mencoba duduk. Kali ini dia berhasil duduk, punggung Micho terasa nyeri. Hingga beberapa saat kemudian terdengar langkah kaki beberapa orang menuju kamarnya. Micho mencoba kembali berbaring dan memejamkan matanya.
"Dia putraku, aku pastikan dia tidak akan menjadi pengganggu misi kita. Aku akan memanfaatkannya untuk mendekati Amara. Kita akan menghabisi Amara seperti Kenzo dan Melati. Namun sebelum itu kita pastikan mendapat tanda tangannya," ucap Roy sambil tersenyum sinis pada Milano dan Rayen.
__ADS_1
Micho mengepalkan tangannya, matanya tetap terpejam.
"Begitukah seorang papa? Bahkan kau tidak pantas di panggil papa. Beruntung aku diangkat anak oleh papa Prayoga, tidak tau saja kau bahwa aku bukan hanya pelindung Amara. Aku adalah suaminya," batin Micho.