
"Ra, ngapain lama sekali? Cepetan, aku juga mau mandi Ra." teriak Micho.
Beberapa saat kemudian, Amara keluar dari kamar mandi dengan menggunakan jubah handuk, rambutnya yang basah digulung dengan handuk kecil dan memperlihatkan leher jenjang yang menggiurkan. Micho yang berada di samping jendela kini menatap setiap gerakan yang dilakukan makhluk cantik didepannya itu.
Amara menatap kaca riasnya, dengan lincah tangannya bergerak di kepala, mencoba mengeringkan rambutnya. Amara terkejut saat menangkap bayangan Micho yang mengamatinya dari pantulan cermin didepannya.
Amara menoleh, Micho tampak bersandar di dinding dengan mengangkat satu kakinya dan memasukan kedua tangannya di saku celana sambil mengamati setiap geraknya.
"Sejak kapan disitu Mas?" tanya Amara sambil berbalik arah dan menghadap ke arah Micho. Debaran jantungnya seakan maraton menatap wajah Micho yang terlihat segar dan tampan, mungkin Micho mandi dikamar tamu karna terlalu lama menunggu Amara berendam.
"Sejak tadi," jawabnya santai sambil melangkah ke arah Amara. Ia berjalan mendekat kemudian menatap hangat wajah cantik yang selalu membuat hatinya berdebar.
Amara terdiam dan mengamati sosok tampan yang kini hanya berjarak 2 langkah darinya, darahnya seakan berhenti.
Micho mengusap pelan pipi mulus Amara, Amara merasakan hawa panas yang menjalar ditubuhnya, seperti sengatan listrik yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.
"Aku ganti baju dulu, Mas." ucap Amara kemudian mencoba melangkahkan kakinya. Namun, dengan gerakan cepat Micho menarik tangan Amara. Membuat langkah Amara tertahan ditempatnya. Amara berhenti dan menoleh kemudian memutar tubuhnya menatap kearah Micho.
"Mau kemana hem?" tanya Micho. Amara terdiam, rasa sesak menyeruak didadanya. Micho perlahan mendekat, menatap lekat wajah cantik Amara dan mengusap pelan puncak kepala istrinya.
Micho mendekap erat tubuh sintal istrinya. Amara merasakan kebahagiaan dan haru yang bersamaan membuat buliran bening jatuh dipipinya. Merasakan isakan Amara, micho melepas pelukannya dan menatap Amara dengan teduh. Ia mengulurkan tangannya untuk mengusap air mata Amara.
"Kenapa kau cengeng sekali, pendekar tapi cengeng. Kau harus menjelaskan banyak hal padaku nanti." ucap Micho. Amara hanya diam menikmati sentuhan hangat tangan Micho di pipinya.
Micho mengangkat dagu Amara. Keduanya saling menatap dalam, melihat bibir merah muda membuat gejolak rasa yang menyeruak dihati Micho.
Micho mulai mendekatkan bibirnya, tubuh Amara mulai menegang dan memanas. Desakan rasa aneh membuat keduanya tak ingin menjauh. Pada akhirnya kedua bibir mereka bertautan. Tubuh mereka sedikit bergetar merasakan sensasi panas dingin yang melebur menjadi satu.
__ADS_1
Ciuman itu semakin memanas, dengan lembut Micho m-e-l-umat bibir Amara. Mereka terhanyut dalam ci-uman yang semakin lembut, hangat dan manis.
Namun, Amara segera melepaskan ci-uman panas itu, ia menatap kearah Micho. Wajahnya terlihat memerah. Micho membalas tatapan lembut istrinya. Wajah keduanya tampak bersemu merah.
"Aku ganti baju dulu, Mas." ucap Amara dengan gugup. Lagi-lagi Micho menarik tangan Amara. Kini diapun mengangkat tubuh istrinya didalam gendongannya. Amara terkejut dan melingkarkan tangannya di leher Micho.
"Mas aku ganti baju dulu," protesnya.
"Kenapa harus ganti jika pada akhirnya aku akan mengetahui semua juga," bisik Micho sontak membuat wajah Amara semakin memerah.
"Apaan sih," protes Amara. Micho berjalan dan membawa tubuh Amara ke ranjang.
Amara menarik selimut untuk menutup dirinya, namun Micho segera menarik selimut itu dan melempar ke sembarang arah. Amara bangun dan beringsut mundur.
"Mas, jangan menakutiku." lirih Amara. Dirinya semakin takut saat melihat Micho merangkak ke tempat tidur.
Micho menarik tali pinggang handuk Amara, sejenak ia takjub melihat kesempurnaan tanpa cela milik istrinya. Amara memejamkan matanya, tangannya mencengkeram handuk yang melekat di tubuhnya. Micho tersenyum, melihat Amara yang seperti ini karena membuat dirinya semakin gemas pada istrinya itu.
"Siap tidak siap aku tidak akan melepasmu," ucap Micho lagi. Micho mendekatkan wajahnya ke arah Amara, napasnya seakan terdengar di telinga Amara, membuat Amara semakin gugup. Kini bibir Micho berada di belakang telinga Amara, berbisik dengan halus membuat tubuh Amara bergetar.
Amara mencoba mendorong namun Micho tampak tak bergeming sedikitpun. Bibir Micho beralih ke leher jenjang Amara, sentuhan yang lembut memabukkan membuat tubuh Amara merasakan panas dingin seketika.
Amara tak kuasa lagi untuk menolak atau memberontak. Bahkan dirinya merasakan hal yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Micho membuat gigitan kecil memberikan jejak kepemilikan disana.
"emm," lirih Amara. Membuat Micho menyunggingkan senyum dibibirnya. Micho terus bermain dan menyentuh ladang bercocok tanam hingga Amara kehilangan kendali. Amara merintih kembali saat Micho kembali memberikan memberikan sensasi yang berbeda.
Rintihan Amara terdengar menggoda di telinga Micho, membuat diri Micho semakin menggila. Senjata Ampuh merespon sempurna hingga menegang dan menyesakkan dirinya. Micho perlahan melepas pakaiannya dan melempar kesembarang arah.
__ADS_1
Kini Amara dapat melihat dengan jelas betapa suaminya itu sangat tampan dan mempesona. Micho menarik handuk Amara dan melemparnya. Keduanya tampak malu-malu, netranya melihat dengan jelas goresan bekas luka yang tampak jelas di lengan putih Amara. Micho mengabaikan itu dan mereka terhanyut dalam ciuman panas yang membius.
Amara benar-benar tidak bisa menghindar dari jeratan perasaan membuncah didadanya. Ia mencoba untuk menolak kembali namun tubuhnya seakan berkhianat.
Micho mulai bergerak kebawah dan menemukan bukit kecil diatas gunung. Memainkannya sehingga membuat pemilik bukit itu semakin terbang melayang, bibir mereka masih saja bertautan.
****, Sang pemilik terong merasakan miliknya menegang sempurna saat serangan pemilik bukit menekan titik sensitifnya. Keduaanya sama-sama menegang. Keduanya tampak gugup dan melepas ciumannya, mereka saling memandang dan mengatur pernapasan. Tatapan Micho seakan berharap ia menatap Amara dengan teduh.
"Kau sudah tau perasaanku, begitupun sebaliknya. Apa boleh aku memilikimu saat ini?" tanya Micho sambil menatap lekat wajah Amara.
Amara mencoba meyakinkan dirinya, Amara memejamkan matanya sebelum akhirnya mengangguk pelan. Micho tersenyum dan mencium puncak kepala Amara beberapa kali.
"Aku akan melakukannya dengan hati-hati, Baby percayalah padaku." ucap Micho. Pada akhirnya memang Amara harus menyerahkan apa yang menjadi hak Micho. Hak yang dia pikir telah direnggut paksa darinya dulu, namun ternyata masih dimiliki olehnya.
"Aku akan mengajari cara menyenangkan suamimu, Sayang." ucap Micho membuat Amara memejamkan matanya.
Dengan perlahan Micho bermain dan memimpin permainan dengan lihai, membuat Amara bergetar hebat. Amara menjerit saat merasakan sesuatu yang keras memaksa masuk dan merobek sesuatu di bawah sana.
Tangan Amara mencengkeram kuat spray mencoba menyalurkan sakit yang di deranya. Micho mengusap puncak kepala Amara dengan lembut, memberikan ciuman dengan pelan.
Mencoba memberikan ketenangan dan kenyamanan pada Amara. Setelah dirasa Amara tengah tenang, Micho mulai bergerak lincah kembali. Membuat keduanya merasakan kenikmatan surga dunia yang tiada tara.
Beberapa lama kemudian, Amara dan Micho saling berhadapan dan saling memeluk. Micho mengecup beberapa kali puncak kepala Amara.
Mereka merasakan bahagia dan puas, ketika melakukan tendangan dan gol yang berhasil membuat jiwanya seakan terbang melayang ke langit ke tuju. Micho menatap Amara dengan penuh cinta, wanita ini benar-benar memberikan kenikmatan yang sangat luar biasa.
"Terimakasih, Sayang." lirih Micho sambil mengecup singkat bibir Amara.
__ADS_1
😀😀😀😀😀😀
Kasih hadiahnya ya, Like, komen juga jangan lupa.