
Amara menghela napas panjang dan mengamati ponselnya, mencocokan alamat yang tertera di ponsel dengan papan didepan rumah itu.
"Bagaimana Ra?" tanya Nada sambil melirik Amara yang tampak gelisah.
"Benar, ini alamatnya Nad." ucap Amara.
Keduanya berjalan kearah pintu rumah itu setelah satpam mempersilahkan masuk. Amara dan Nada berjalan beriringan menuju ke arah pintu dan memencet bel rumah dengan rasa deg-degkan.
Beberapa kali memencet bel tetapi, tidak ada sahutan. Sesaat kemudian pintu rumah terbuka menampakkan seorang paruh baya yang masih tampak cantik diusianya yang sekitar 50 tahun. Wanita itu terpaku menatap wanita cantik didepanya dengan tenang, wanita cantik dengan rambut panjang terurai, sorot mata indah yang mampu menghipnotis dirinya. Wanita cantik dengan gaya kasual yang sangan sopan dan terkesan elegan.
"Maaf, apa disini rumah dari Tuan Micho Adytia Pertama? " tanya Amara sontak membuat wanita paruh baya itu tersadar dari lamunannya.
"Benar sekali, Nona. Disini rumah Den Mikho, apa ada yang bisa saya bantu? Saya Asisten rumah tangga disini." ucap Wanita itu dengan tersenyum ramah. Amara dan Nada saling berpandangan. Asisten rumah tangga tetapi mempunyai setelan baju yang bagus dan sangat bersih. Apa sebaik itu seorang Micho memperlakukan asisten rumah tangga? pertanyaan yang mengiang di pikiran Amara dan Nada.
"Asisten? " tanya Amara dan Nada secara bersamaan. Wanita itu kembali tersenyum.
"Mari silahkan masuk, kita bicara didalam saja Nona cantik."
Amara dan Nada tampak terkejut, begitu ramah sekali wanita itu memperlakukan tamu.
"Silahkan duduk, Nona." ucap wanita itu kemudian melangkah pergi. Amara dan Nada saling berpandangan, mereka begitu terkejut dengan apa yang terjadi. Tak lama kemudian wanita yang memperkenalkan dirinya sebagai asisten rumah tangga itu keluar dari ruangan sambil membawa 2 cangkir teh.
"Silahkan diminum, Nona!" ucap wanita itu kemudian duduk didepan Amara dan Nada.
"Terimakasih, Bu." ucap Amara.
"Panggil Bibi rini, seperti Den Micho memanggil saya. Den Micho sudah menganggap saya seperti Bibinya sendiri.," ucapnya ramah. "Oh ya, ada apa 2 nona cantik kesini? " tanya wanita itu.
Amara tersenyum dan menghela napas panjang. Rasanya tidak sanggup mengatakan kedatangannya kesini untuk melabrak. Tentu saja wanita itu tidak percaya jika Amara menceritakan kebejatan Micho, mengingat betapa baik Micho memperlakukan Bibinya itu. Nada hanya was-was dengan jawaban yang akan keluar dari mulut Amara, ia mengamati Amara yang tampak berfikir.
"Saya hanya ingin bertemu dengan beliau, Bi. Apa bisa? " tanya Amara sambil tersenyum. Nada sedikit lega, hanya peryataan itu yang keluar dari bibir sahabatnya.
__ADS_1
"Sayang sekali, Nona. Satu jam yang lalu Den Micho sudah berangkat ke Kota X untuk melaksanakan pertunangan dan beberapa hari kedepannya akan ada acara pernikahan," ucap wanita itu. Ucapan Bibi Rini bagaikan pil pahit yang membuat Amara menelan rasa kecewa. Hatinya terasa sakit seperti tergores belati.
Menyakitkan, ini begitu menyakitkan kenapa juga aku harus sakit hati mendengar kabar ini? Kenapa Aku tidak sanggup mendengar orang itu bahagia diatas penderitaan ku?!. batin Amara.
Melihat ekspresi wajah Amara yang berubah sedih, Nada segera mengusap pundak Amara pelan, memberikan ketenangan pada Amara. Amara menatap wajah wanita paruh baya didepannya.
"Apa boleh saya meminta alamatnya? " tanya Amara.
Bi rini melihat perubahan wajah Amara, dia tau ada sesuatu dibalik wajah yang dari tadi tampak tersenyum kemudian berubah sedih itu. Dengan Rasa penasaran yang membelenggu hatinya, Bi Rini mengangguk dan memberikan secarik kertas pada Amara. Nada memperhatikan tulisan itu, Alangkah terkejut Nada ketika melihat alamat yang berada di tangan Amara.Perjalanan kesana memakan sekitar 5-7 jam. Apa Amara akan nekat? pikir Nada.
"Kapan acara pernikahan mereka, Bi?" tanya Amara.
"pertunangan mereka besok malam, untuk pernikahan masih 2 hari lagi." sahut Bi rini.
"Terima kasih atas informasinya,Bi. Saya pamit dulu," ucap Amara kemudian berdiri diikuti Nada dan Bi Rini. Bi Rini mengangguk pelan dan mengantarkan 2 wanita cantik itu keluar, Bi Rini memandang Amara dengan tenang. Mengamati gadis cantik itu hingga menghilang dari pandangannya.
Kenapa aku merasa gadis itu kecewa, apa gadis itu mencintai Den Micho? batin Bi Rini.
Bi Rini pun segera masuk rumah, pandangannya tertuju pada bingkai foto di dinding. Foto Micho dan Radit, anak semata wayangnya yang dianggap adik oleh Micho.
😊😊😊😊
"Sebaiknya kamu pulang,Ra. Aku akan mengantarkan mu, " ucap Nada pelan. Amara seketika menatap kearah wanita cantik itu, kemudian menatap lurus kedepan.
Amara terdiam mencoba berkompromi dengan hatinya, kenapa rasanya sesak dan sakit? Rasanya tidak rela jika Micho menikah, sedangkan dia pikir dirinya hanya sisa dari Micho. Kenapa wajah tampan itu mengusik hatinya, terlalu benci atau sedang jatuh cinta? Amara tidak tau perasaannya.
"Nada, aku kebelet pipis. Bisa hentikan mobil diujung gang? " tanya Amara. Nada mengangguk pelan dan menepikan mobilnya di sebuah toilet yang berada dekat Mini market. Amara keluar dari mobil dan menuju ke Toilet itu.
15 menit berlalu dan Amara tidak kunjung kembali, Nada tampak was-was dan mencoba bersabar. 10 menit kemudian Nada tampak gelisah dan menengok kesana-kemari.
"Kemana Amara? Apa membeli sesuatu? " ucapnya pelan. Mencoba berfikir positif atas kemungkinan yang terjadi. 30 menit berlalu dan tidak ada tanda-tanda Amara kembali. Dengan cepat Nada berlari kearah toilet yang tak berpenghuni.
__ADS_1
"****.... apa Rara merencanakan kabur setelah aku bilang akan mengantarkan pulang?!" umpat Nada kesal. Nada menghela napas panjang, memijat pelipisnya dan mencoba berpikir jernih.
Nada mengambil ponselnya dan memanggil Amara dan tak ada jawaban dari Amara. Nada menggelengkan kepalanya pasrah.
"Kak Rafa, ya aku harus menelponya? " sedetik kemudian Nada membatalkan panggilannya.
"lebih baik aku kesana," ucap Nada kemudian melangkah menuju mobilnya. Nada menancap mobilnya, tangan kananya fokus ke setiran dan tangan kirinya memanggil kontak Dinda.
"Hallo Nad, ada apa? " tanya Dinda, Nada sedikit terganggu dengan suara brisik disana.
"Dinda, kamu dengan siapa? aku butuh bantuan kamu dan Erika," ucap Nada.
"Aku lagi ngumpul sama Erika, juga Rayen bersama temannya. Ada apa Nad?" tanya Dinda. Mendengar Dinda yang berbicara dengan orang disebrang, Erika dan teman-temanya seketika diam. Mereka mengamati Dinda yang tampak khawatir.
"Aku kehilangan jejak Rara, bisakah kalian mencari nya di sekitar kota? Aku dan Rara dari sana. Sekarang aku menuju rumah Rara untuk mengabari keluarganya," ucap Nada dengan suara paniknya.
"Okey, aku akan mencari Rara bersama anak-anak. Fokus dengan kemudimu, hati-hati Nada."
"Terimakasih Dinda, tapi aku mohon rahasiakan tentang musibah yang menimpa Rara." ucap Nada.
"Sama-sama. Oke Nad, aku mengerti." ucap Dinda dan menutup ponselnya.
"Ada apa dengan Rara?" tanya Rayen.
"Rara menghilang. Nada meminta kita membantu mencarinya," ucap Dinda. Rayen menyambar kunci mobilnya dan melangkah pergi.
Erika? Wanita itu mengikuti langkah Dinda menuju mobilnya.
😊😊😊😊
Rara terus berlari hingga disebuah gang ia terkejut, saat sebuah mobil mewah melintas dengan cepat. Rara memejamkan matanya, menyilangkan tangannya didepan kepala. Pengemudi mobil dengan cekatan menginjak rem.
__ADS_1
"Shitttt,,,, " umpatnya saat kepalanya terbentur setiran mobil. Dia mengangkat kepalanya, ingin kembali mengumpat, namun wajah cantik didepan sana yang menyilangkan tangan didepan lebih mencuri perhatiannya. Silau lampu mobil menambah kesan cantik untuk wanita yang sekarang berdiri mematung didepan sana.
😊😊😊😊😊