Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
surat perjanjian


__ADS_3

"Tolong, tolong lepaskan aku," ucap Amara lirih.


Micho tersenyum sinis kemudian berdiri, mendorong Amara dari pangkuannya, Amara berdiri dan mereka saling berhadapan.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa ada disini?" tanya Amara ketus. Micho maju beberapa langkah hingga jaraknya dengan Amara hanya beberapa centi saja.


"Mau apa kamu? Berhenti di tempatmu!" ucap Amara yang panik karna Micho mengurungnya, meletakkan kedua tangannya di pundak Amara. Wajah mereka kini semakin dekat, membuat jantung Amara memompa lebih cepat. Jantungnya bergetar hebat, bayangan kekerasan 4 tahun lalu mengiang diotaknya.


"Ada beberapa hal yang harus kita bicarakan," ucapnya sambil menatap wajah Amara yang tampak cantik di depannya.


Amara melirik kearah mamanya, ia takut mamanya sadar saat dia berada di posisi seperti ini.


"Kita bicara di tempat lain, singkirkan tanganmu dari pundakku," ucap Amara ketus. Micho tersenyum sinis kemudian meletakkan jari telunjuknya di pipi Amara. Membuat usapan lembut disana hingga Amara merasakan Desiran hebat dihatinya. Amara memejamkan matanya.


"Aku akan melakukan apapun yang aku mau, dan kau tidak berhak menolak ataupun membantah kemauanku," ucap Micho di telinga Amara. Amara menghela napas panjang dirinya dilanda ketakutan, tubuhnya bergetar hebat.


"Dimana naluri murahanmu, kenapa kau ketakutan seperti ini?" ucap Micho sambil mendorong pelan pundak Amara. Amara mundur beberapa langkah dan menatap tajam ke arah Micho.


"Jangan banyak bicara, kita keluar dari sini sekarang juga!" ucap Amara kemudian melangkah pergi.


Micho mengikuti langkah Amara. Mereka berjalan beriringan, Amara meminta Nada untuk menjaga mamanya. Sedangkan Raka dan Rafa kembali ke aktifitasnya. Kini mereka berada di sebuah restaurant tak jauh dari rumah sakit Husada. Damar datang sambil membawa berkas dan duduk di antara Micho dan Amara.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Amara.


Micho menuju dekat jendela. Micho memasukan 2 tangannya di saku celananya, memandang indah pemandangan di luar untuk mengurangi penat di otaknya.


"Tentang pernikahan ini," jawabnya santai. Amara menghela napas dalam. Dia tau arah pembicaraan Micho, pernikahan ini entah pernikahan macam apa. Hanya sebuah keterpaksaan di dalam situasi yang sangat urgent.


"Aku tau, ini hanya sebuah permainan." ucap Amara. Micho menoleh ke arah Amara yang menyedekapkan tangannya di depan dada. Micho tersenyum sinis memutar tubuhnya dan menyandarkan tubuhnya di dinding. Tangannya masih setia di dalam saku.


"Bagus, jika kamu tau diri. Ada beberapa hal yang harus kita sepakati," lanjut Micho sambil menyerahkan berkas pada Amara yang diambilnya dari paper bag yang di bawa Damar.


"Apa itu?" tanya Amara sambil menerima beberapa berkas dari tangan Micho.


"Kau bisa membaca bukan? baca, dan tanda tangani," jelas Micho sinis.


Amara membuka satu persatu lembaran yang ada disebuah map berwarna biru itu. Amara membelalakkan matanya tak percaya dengan semua aturan yang berada di surat perjanjian itu.


Pihak pertama:Micho Aditya pratama


Pihak kedua : Sheyna Amara

__ADS_1



Hanya pernikahan diatas kertas


2.Hanya pernikahan rahasia


Pihak kedua tidak berhak ikut campur urusan pihak pertama


4.Pihak kedua melakukan tugas sebagai seorang istri


5.Pihak kedua dilarang meminta cerai jika pihak pertama tidak menceraikan sendiri.



Dan seterusnya.....


Beberapa lembar isi dari surat itu hanya menguntungkan Micho saja. Amara melempar berkas itu ke depan Micho. Micho menautkan alisnya.


"Kenapa hanya menguntungkanmu, aku merasa di rugikan disini. Perjanjian macam apa itu," ucap Amara.


Micho tersenyum kemudian membuka lembaran itu.


"Tidak bisa begitu Micho," sanggah Amara.


"Aku yang menentukan, aku kepala keluarga, aku suamimu." ucap Micho. Amara menghela napas panjang.


"Aku tidak setuju," ucap Amara.


"Setuju atau tidak kau harus tetap setuju, aku yang berhak atas hidupmu. Papamu? Dia tidak akan membiarkan istrinya menderita karna ulahmu," ucap Micho.


"Tidak ada kontak fisik di antara kita," ucap Amara. Micho tersenyum sinis.


"Kau itu tidak bisa melarangku. Kau harus tau, walaupun aku punya hak penuh atas dirimu, aku tidak akan tertarik dengan tubuh murahanmu," ucap Micho.


Amara menggenggam ujung bajunya, hatinya sakit mendengar ucapan Micho. Tampaknya untuk mengskak mat Micho tidak bisa dengan cara kasar. Misi yang pernah dia jalankan harus dia teruskan.


"Hadiah Perusahaan beserta cabangnya, bukankah masih berlaku? kita liat saja, aku atau dirimu yang menyerah di tengah jalan," ucap Amara sambil tersenyum sinis. Micho tampak pias dan memandang Amara yang mulai menjauh dari pandangannya. Damar tertawa dan menatap ke arah Micho.


"Jangan tertawa, apa yang membuatmu tertawa?!" bentak Micho.


Mico yang masih emosi karna kelakuan badut satu itu masih saja menggerutu, lelucon Damar tidak membuatnya baik malah merusak moodnya.

__ADS_1


Mico mulai menatap layar ponselnya. Wajah yang semula lusuh kini kian menjadi cerah. Balasan email dari Zata Star membuatnya bahagia.Tangannya menari di atas keyboard ponselnya dan membalas pesan yang dia terima.


Micho meminta pertemuan untuk membicarakan kerja sama yang akan dilakukan. Tak lama dari itu pesannya terbalas, permintaannya disetujui oleh Perusahaan tersebut. Micho tersenyum dan menatap ke arah Damar.


"Ada apa? Kabar baik?" tanya Damar. Micho tersenyum dan memberikan ponselnya pada Damar. Damar tersenyum dan meletakkan ponsel Micho di meja.


"Good job, kita akan segera keluar dari masalah ini." ucap Damar.


Micho tersenyum tipis. Setidaknya dia sudah mendapatkan kepastian jika Perusahaan itu sanggup untuk memberikan suntikan dana dalam perusahaannya, Walaupun pertemuanya masih esok hari.


Micho melirik kalender yang menunjukan tanggal 12. Itu artinya besok adalah hari ulang tahun mantan kekasihnya. Hari ulang tahun yang selalu dia rayakan selama 3 tahun yang lalu, meskipun tanpa sepengetahuan Sabrina.


"Besok adalah tahun ke 4 kita berpisah. Tahun ke 4 juga aku membuat pesta kecil untukmu tanpa kehadiranmu. Aku seperti orang gila yang masih saja menginginkan kamu kembali, padahal aku tidak pernah memperjuangkanmu untuk kembali. Aku hanya diam menuruti semua keinginan papa untuk meninggalkanmu,"ucapnya lirih.


Micho meraih ponselnya, lagi lagi melihat wajah imut sang mantan kekasih. wajah cantik gadis 18 tahun yang memikat hatinya sejak pertama Bertemu. Wajah cantik tanpa polesan make up.


"Aku berharap kita bertemu, aku akan menjelaskan semuanya,"ucapnya sambil mengusap pelan layar ponselnya. Micho menghela nafas panjang. Netranya melirik Jam tangan yang melingkar ditangannya kemudian


melangkah pergi.


"Mau kemana?" tanya Damar, Micho tak menggubris pertanyaan Damar kemudian melanjutkan langkahnya.


🤗🤗🤗🤗🤗


Amara menggenggam tangan mamanya, merapalkan doa untuk kesembuhan mamanya. Keadaan mamanya sudah mengalami peningkatan, keadaannya stabil dan telah keluar dari masa kritisnya. Amara banyak mengucap syukur pada sang Maha Kuasa.


"Ma, segera sadar. Amara ada di sini, Amara sangat merindukan mama." ucapnya. Amara beberapa kali mencium tangan mamanya dan mengajak bicara meskipun tak mendapat respon dari nya.


"Makanlah, kamu harus memikirkan kesehatanmu juga, Ra." ucap Anin kakak iparnya sambil mengusap pelan pundak Amara. Amara tersenyum ke arah Anin dan mengusap pipi tembem milik keponakannya.


"Iyaa Kak, aku akan makan nanti. Ini aku masih kenyang," ucapnya. Mendengar kepulangan Amara membuatnya bahagia, tapi kabar pernikahan dadakan itu membuat Anin kasihan pada adik iparnya. Dia tau bagaimana perasaan Amara saat ini.


"Kamu yang sabar ya, kakak doakan kamu bahagia, sakinah, mawadah dan warohmah." ucap Anin. Amara tersenyum dan mengangguk pelan.


"Terimakasih, Kak..." ucapnya.


"Ra-Ra..." Amara itu membuat Amara dan Anin menoleh bersamaan.


🤭🤭🤭🤭


Like, komen dan vote yaa....

__ADS_1


__ADS_2