Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
Suara Tembakan.


__ADS_3

"Maaf Nona, Mari kita berangkat." ucapnya. Amara tersenyum dan mengangguk pelan.


Amara menikmati perjalanan dengan diam, bayangan wajah dari manusia laknat itu mengiang di otak Amara, tentang pesta dansa, tentang dirinya yang hampir terjatuh dan ditolong Micho, tentang dirinya yang dengan tidak sengaja membenamkan wajah di dada bidang Micho. Tentang Micho yang meninggalkannya tanpa sepatah katapun.


Sesekali Amara memejamkan matanya, mencoba menghilangkan segala hal yang bersangkutan dengan Micho, mencoba metralisir hatinya dengan kebencian. Kebencian kepada manusia yang telah menoreh luka di hidupnya di masa lalu.


"Amara, jangan berharap lebih. Tolong mengertilah bahwa Micho hanya bayangan semu yang selalu menyakitimu, dia manusia laknat dia tidak pantas untuk kamu harapkan. Dia yang menyakitimu dan akan selalu seperti itu," ucap batin Amara panjang lebar.


"Maaf Nona, sudah sampai." ucap pak sopir setelah sampai di depan apartment Amara. Amara tersentak kaget kemudian turun dari mobil.


"Terimakasih, Pak."


"Sama-sama Nona." ucap Pak Andi kemudian menancap gas mobilnya.


"Hacimmm,,," Amara merasakan gatal yang mendera hidungnya. Amara menggosok hidungnya dengan jari lentiknya.


"Hacimm,"


"Rara," Nada yang sengaja menunggu Amara di dalam apartemen tampak terkejut mendengar seseorang bersin. 2 jam yang lalu dia diantar Sopir tante Elysa dan lewat jalur yang berbeda.


"Ra, dari mana saja? Kenapa baru sampai? apa yang dilakukan Micho padamu? Apa dia menyakitimu?" tanya Nada panjang lebar, Amara menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak apa-apa, mobilnya macet. Ponsel aku juga gak dapat signal disana, lihat aja bentar lagi ponselmu akan masuk beberapa pesan dariku." ucap Amara sambil melangkah masuk.


"Yakin dia tidak menyakitimu?" tanya Nada sambil mengikuti langkah Amara. Amara berbalik dan menatap Nada.


"Kamu lihat sendiri aku tidak papakan?" ucap Amara.


"Tapi aku tidak bisa percaya, aku tau pasti Micho mengancammu kan? Dia penjahat... Bisa saja dia melakukan apapun yang dia mau." ucap Nada.


"Stop, jangan berbicara lagi. Aku baik-baik saja, Micho tidak melakukan apapun, sebaiknya kamu istirahat. Ini sudah sangat larut," ucap Amara kemudian melangkahkan kakinya."

__ADS_1


"Ra, jangan lupa kunci pintu kamar. Aku pulang sekarang," ucap Nada.


"Kenapa tidak menginap?" protes Amara.


"Hanya 2 lantai, aku pulang saja." ucap Nada. Amara mengangguk kemudian melangkah ke Kamar. Tubuhnya yang sangat lelah enggan untuk melakukan apapun, Amara memejamkan matanya dan berlayar dalam mimpi.


*****


"Apa dia kucing yang kamu maksud?" tanya Meta saat sudah berada di depan mansion Micho.


"Kau mabuk? Dia manusia, bukan kucing. Bukankankah aku sudah mengatakan jika kucingnya lari?" tanya Micho.


"Kamu tidak bisa membodohiku Micho," ucap Meta.


"Aku tidak sedang membodohimu," ucap Micho sambil membuka pintu.


Meta menarik tangan Micho dan membenamkan wajahnya di dada Micho, seperti apa yang Amara lakukan tadi. Micho memejamkan matanya, ini yang tidak dia suka, Meta selalu seperti ini. Kalo tidak terpaksa mungkin dia tidak menghubungi Meta, tetapi wajah Amara yang tampak memucat membuatnya sedikit tergerak untuk segera mencari bantuan.


"Aku tidak bisa melepaskan mu, tolong kasih aku kesempatan Micho!"


"Aku sudah mengatakan padamu kita tidak bisa bersama. Ada orang lain di hatiku," ucap Micho.


"Ya, kamu selalu mengatakan ada Sabrina di hatimu. Lalu, kenapa kamu memperlakukan wanita itu begitu manis, sedangkan kamu selalu mengabaikan aku," ucap Meta ditengah isak tangisnya.


Micho menghela napas panjang, dari segi mana Meta melihatnya manis. Sedangkan hatinya begitu benci pada Amara.


"Kamu salah paham," ucap Micho kemudian mendorong tubuh Meta tetapi Meta enggan untuk melepaskan pelukannya.


"Dor,"


"Au.."

__ADS_1


Suara tembakan dan suara ketakutan Meta terdengar seiring, Micho mendorong paksa Meta dan keluar dari mobil, Micho mendapati sebuah peluru yang meluncur entah dari mana asalnya.


Sorot mata tajamnya menyisir kanan dan kirinya. Tangannya mengambil peluru yang tergeletak didekat ban mobil Meta. Micho menghela napas panjang, selalu saja dirinya mendapati peluru yang sejenis. Sejenak ingatannya terbayang bayangan entah nyata atau Halu sinasi saja. Bayangan sebuah kematian yang menimpa pasangan suami istri namun entah siapa.


"Micho, ada apa?" Meta keluar dari mobil dan menghampiri Micho.


"Aku rasa hanya salah sasaran, kau jangan kawatir. Sebaiknya cepatlah pulang, biar Damar mengantarmu." ucap Micho saat melihat Damar menghampirinya.


"Damar, Antarkan Meta." ucapnya dan Diangguki oleh Damar. Micho melangkah ke dalam mansionnya, tetapi pikirannya masih saja memikirkan tembakan misteri yang terjadi berulang kali dan beberapa ingatan aneh yang melintas di pikirannya.


"Micho," Suara Prayoga mengagetkannya.


"Apa yang terjadi? Kenapa baru sampai?" tanya Prayoga khawatir.


"Tidak papa, hanya mogok saja," ucapnya.


"Untuk terbang ke negara I dipercepat besok malam, papa harap kamu segera mempersiapkan,"


"Bukannya 2 hari lagi?" tanya Micho.


"Besok atau lusa sama saja, lebih cepat lebih baik." ucap Prayoga kemudian melangkah pergi.


"Besok?" gumamnya, bayangan Amara melintas di otaknya, banyangan Sabrina juga menari disana.


"Kenapa mereka selalu menghantui otakku?"


Micho mengusap kasar wajahnya. Apa yang sebenarnya ada di otaknya. Takut untuk menghadapi mantan di negara I atau takut jika akan kehilangan jejak Amara dan tidak bisa balas dendam padanya?


😉😉😉😉


Like komen dan hadiah y' all.. semangatin aku

__ADS_1


__ADS_2