
7 bulan kemudian
Sinar mentari menerangi kamar yang masih saja memberikan kenyamanan ditengah dinginnya pagi ini. Amara masih saja bermanja meminta peluk suami tercintanya sambil memandangi sebuah album pernikahan megah dimana dirinya dan Micho yang menjadi raja dan ratu disana.
Ada foto keluarga yang sangat dia sayangi berjejer rapi disana, dirinya juga Micho tampak bahagia dan sangat cocok. Berbeda dengan saat akad nikah di rumah sakit kala itu.
Amara membolak balikan foto dimana resepsi pernikahannya itu di gelar dengan begitu mewah. Ke empat keluarga besar turut andil di dalamnya. Keluarga Papa Kenzo dan Mama Melati, Papa Rusdi dan Mama Hana, Papa Roy dan juga Papa Prayoga. Mereka merancang semua persiapan dengan matang.
"Au," keluh Amara.
"Sayang, kenapa?" tanya Micho sambil menutup album foto itu.
"Enggak papa, Mas." Amara tersenyum kemudian membuka kembali album poto yang memperlihatkan wajah Lyly dan Mela. Ya, mereka adalah panitia yang turut andil dalam acara mengah yang diadakan keluarga besar Amara dan Micho beberapa bulan yang lalu.
"Apa yang kamu rasakan? Apa sakit?" Micho mengusap pelan perut buncit Amara yang kini sudah menunggu waktu saja. Bisa saja dengan menentukan tanggal dengan oprasi, tetapi Amara memilih lahiran secara normal saja.
"Hanya sedikit kram," ucap Amara. Micho mengusap lembut perut buncit itu dan mencium perut Amara sehingga menimbulkan gerakan yang membuat perut Amara menonjol.
"Dia nendang lagi, kayaknya dia sedang main bola," Micho meletakkan telinganya di perut buncit Amara. Amaraa tertawa sambil mengusap wajah Micho yang semakin tampan setiap harinya.
"Aku rasa nantinya dia akan menjadi orang yang mempesona seperti diriku," lanjut Micho lagi. Amara terkekeh geli.
"Tak apa, yang terpenting dia tidak genit," ucap Amara. Micho terkekeh juga, dia memandang wajah cantik istrinya yang semakin bulat saja. Berat badan dan tinggi ideal Amara kini betambah 15 KG. Membuat Amara semakin bulat, cantik dan menggemaskan bagi Micho.
"Menyindirku kan?" tanya Micho. Amara tertawa, sesekali ingatannya tertuju pada Mela dan Lyly. Karyawan kepercayaan suaminya itu tampak dekat dengan Amara meski hanya 2 minggu bersama. Keduanya yang sangat kocak membuat Amara begitu akrab dengan mereka sehingga kini pertemuan itu masih melekat di hati Amara.
"Mana ada seperti itu? Aku tidak menyindir, Mas!" ucap Amara. Micho semakin gemas melihat tingkah istrinya, memandang Amara mengusap pelan pipi Amara dan mendaratkan ciuman hangat di puncak kepala Amara.
"Aku harus bersiap, hari ini ada meeting dengan klien. Aku harus berangkat lebih awal," ucap Micho. Seketika wajah Amara berubah kecewa, entah kenapa ia ingin Micho selalu ada di sisinya. Hpl yang diperkirakan masih seminggu lagi membuat dirinya semakin ingin Micho di dekatnya.
Pasalnya, mereka berada di apartemen, jauh dari papa dan mama. Berada di apartemen adalah jalan terbaik untuk menghindari perdebatan orang tua yang sama-sama posesif. Micho dan Amara tak mau mendengar orang tuanya berebut keberadaan Amara dan Ribut, sehingga Micho memutuskan untuk ke apartemen saja.
__ADS_1
Micho yang menyadari perubahan wajah istrinya tersenyum tipis, mengusap perut Amara dan mencium perut buncit itu dengan lembut. Bayi di dalam kandungan Amara itu merespon sentuhan papanya.
"Sayang, bilang pada mama kalau papa hanya keluar sebentar, bilang juga pada mama kalau papa akan segera kembali. Jangan biarkan mama bersedih, saat ini hanya kamu yang mampu menjaga mama 24 jam," ucap Micho lirih.
Amara mengamati wajah Micho yang sedang berbincang dengan bayi di kandungannya merasa tersentuh, matanya berkaca, dirinya sungguh tak rela jika harus berjauhan dengan Micho.
"Mas, temani aku seharian di rumah,"pinta Amara. Micho duduk dengan tegak dan mengusap pelan wajah istrinya.
"Aku hanya sebentar, meeting ini tidak bisa ditinggalkan," ucap Micho sambil membelai wajah cantik Amara, mencoba membujuk istri cantiknya itu.
Amara menghela napas panjang, mencoba memberikan pengertian pada dirinya sendiri jika Micho memang harus pergi. Amara mengalah, ia menganggukkan kepalanya pelan.
"Ya sudah, aku bantu bersiap," ucap Amara. Micho tersenyum, keduanya berdiri. Amara berjalan kearah Micho dan memakaikan dasi untuknya.
Amara sedikit berjinjit untuk bisa menjangkau Micho, dengan telaten Amara memasangkan dasi Micho. Micho mengamati setiap gerakan tangan Amara. Tangannya meraih Amara dalam perlukannya, membuat Amara merasakan kenyamanan dan kembali enggan untuk ditinggal.
"Mas, apa boleh aku meminta mama kesini? Atau antarkan aku kerumah Mama Melati atau Mama Hana," ucap Amara.
Micho menatap ke arah istrinya yang menggunakan daster itu. Daster cantik selutut membuat Amara benar-benar tampak menggoda. Dia melirik jam tangan yang menunjukan 06.30, sedangkan meeting dilakukan jam 07.00.
"Tapi aku takut di sini sendiri Mas, hpl sebentar lagi membuat aku semakin tak nyaman bila sendiri," ucap Amara.
"Siapa bilang aku juga tidak takut jika kamu sendiri? Kamu ikut ke kantor saja dari pada harus putar arah ke rumah mama sangat memakan waktu, aku rasa sebaiknya kamu ikut aku," ucap Micho.
Micho tersenyum dan mengeratkan tangannya di pinggang Amara, menatap mesra wajah Amara yang cantik itu.
"Aku akan ikut bila kamu tidak terganggu," ucap Amara, Amara melanjutkan memasang dasi.
Setelah selesai memasang, Amara mendongak mengamati wajah Micho sambil mengusap pelan dada bidang Micho dengan lembut, membuat Micho merasakan desiran halus yang menjalar dihatinya.
"Aku tidak akan terganggu, lagi pula itu malah membuat aku lega bisa selalu di sampingmu. Kamu bisa istirahat di ruangan pribadiku,"ucap Micho.
__ADS_1
"Okey, jika menurutmu itu lebih baik aku akan menurut padamu, aku ganti baju dulu," Amara tersenyum dan mundur beberapa langkah, memutar tubuhnya dan berjalan kearah ruang ganti. Amara merasakan sedikit nyeri di perutnya lagi ia pun berhenti sejenak. Micho yang mengetahui segera menghampiri istrinya.
"Kenapa?" tanya Micho. Amara menggelengkan kepalanya.
"Tidak papa, Mas. Tadi sedikit nyeri, tapi ini udah nggak lagi sih," ucap Amara sambil tersenyum. Micho membungkuk sebentar mencium perut Amara dengan sayang.
"Jangan nakal sayang," ucapnya pelan. Denyutan sakit itupun menghilang. Amara kembali melangkah dan mengganti bajunya.
"Kita harus segera turun Mas, kita sarapan dulu. Aku tadi sudah masak untukmu,"ucap Amara saat keluar dari ruang ganti. Micho mengangguk dan melingkarkan tangan kanannya di pinggang Amara. Mereka berjalan beriringan menuju kearah ruang makan.
Di meja makan sudah ada Bi Mah yang tengah menyiapkan menu pagi ini di meja. Menyiapkan makanan sehat untuk Amara dan membuatkan susu untuk Nyonyanya.
"Selamat pagi, Bi!" ucap Amara. Bi Mah tersenyum dan menatap majikannya yang ramah itu.
"Pagi Non, hari ini bibi membuat sup untuk nona. Dijamin mantab," ucapnya. Amara melirik menu pagi ini dan tersenyum bahagia. Micho menarik kursi untuk Amara dan membantunya untuk duduk.
"Terimakasih, Mas," ucap Amara yang kemudian diangguki oleh Micho.
"Terimakasih juga Bi. Aku jadi merepotkan,"ucapnya.
"Siapa bilang merepotkan? Ini tugas bibi non," ucapnya, Amara tersenyum dan segera mengambil sup nya. Micho mengambilkan sup yang susah diambil oleh Amara.
"Apa tidak bisa meminta bantuan? Kenapa diam saja?" tanya Micho sambil menatap istrinya dengan geram.
"Selagi bisa aku akan berusaha," sanggah Amara.
"Tapi aku tidak mau melihatmu kesulitan," bantah Micho tak mau kalah. Micho menyelipkan anak rambut Amara yang menutup pipinya. Amara yang terdiam mengamati wajah tampan di depannya, wajah berjuta pesona yang selalu membuatnya jatuh cinta setiap saat.
Bi Imah yang melihat adegan romantis itu hanya tersenyum bahagia.
"Aku tidak akan pernah kesulitan jika ada kamu di dekatku," ucap Amara. Ucapan Amara bagai badai yang mengguncang hati Micho, memberikan kebahagiaan sekaligus keharuan yang mendalam. Ia ingin menua bersama dengan wanita di depannya. Micho tersenyum dan mengusap pelan pipi Amara.
__ADS_1
"Aku akan berusaha selalu ada di dekatmu, sampai maut memisahkan kita,"
🤗🤗🤗🤗🤗🤗