
Suasana bandara malam ini sangat ramai, lalu lalang orang kesana kemari membelah jalanan. Amara melirik anak kecil yang berdiri di pojok ruangan. Bibirnya tersenyum saat mengingat kejadian 3 minggu yang lalu, menolong anak kecil yang hampir saja menjadi korban penculikan.
Melihat anak kecil itu selamat dari penculikan adalah sebuah balasan yang setimpal dari luka yang didapatnya. Luka yang sampai saat ini masih terasa nyerinya.
Amara tersenyum, kini otaknya terbayang lelaki yang membantu dirinya. Lelaki bermasker dengan tinggi ideal, tangan kokoh dan dada bidang, wangi maskulin yang melekat di tubunya menghipnotis dirinya kala itu. Berada dalam rengkuhan lelaki itu membuatnya tenang. Kolaborasi gerakan cepat menumbangkan para musuh tampak romantis dirasanya. Mata indah dengan sorot yang tajam benar-benar terlihat jelas diotaknya.
"Siapa orang itu? Dia begitu hebat, ilmu bela dirinya juga pantas diacungi jempol. Aku? bahkan aku tidak bisa dibandingkan dengannya." batin Amara.
Tuhan, bolehkah aku berharap bahagia suatu saat nanti? Bolehkah aku berharap dipertemukan dengan lelaki yang baik, seperti laki-laki itu? Laki-laki yang mau mempertaruhkan nyawanya untuk orang lain. Lelaki yang mau berkorban untuk kebahagiaan orang lain, lelaki yang bertanggung jawab dan mencintai aku apa adanya? Bolehkah aku berharap menjalani kehidupan dengan bahagia? Tuhan.. lirih Amara.
"Mata itu???" seketika ingatan Amara seakan menangkap bayangan mata yang dikenalinya. Otaknya berfikir keras, namun nyatanya tak sanggup menapsirkan pikiran yang melintas di otaknya.
"Siapa?" ucapnya sambil berfikir dan memejamkan mata indahnya.
"Sayang, ayo kita masuk ... sebentar lagi kita berangkat. Aku tidak mau jauh-jauh darimu," ucap Wendi sambil menggandeng tangan Amara. Amara terkejut sontak menarik tangannya dari genggaman Wendi kemudian berjalan mendahului Wendi.
"Sayang, tunggu aku! " ucap Wendi.
"Wendi, jangan seperti ini. Harus berapa kali aku bilang aku sudah punya kekasih! " cerca Amara. Amara berjalan cepat kemudian memecah kerumunan. Wendi terus saja mengikuti Amara, jam terbang sebentar lagi dan akhirnya Amara memutuskan untuk menyusul Nada ke dalam pesawat.
Amara memejamkan matanya ketika duduk di dalam pesawat, rasa sesak menyerbu dadanya. Empat tahun yang lalu dirinya memutuskan untuk meninggalkan rumah dan mencari ketenangan did negara ini.
Sekarang ketika dia memutuskan untuk kembali, masihkah ketenangan berpihak padanya? Amara mengambil napas dalam-dalam, air matanya hampir saja tumpah. Perasaan campus aduk dirasakannya. Amara teringat seperangkat perhiasaan yang sempat di temukannya di pesawat. Amara membuka mata indahnya. Pria bermasker itu, apa mereka orang yang sama?
"Ada apa Ra?" tanya Nada yang melihat Amara tampak terkejut. Amara menggelengkan kepalanya dan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi belakang.
"Ra,"
"Ya,"
__ADS_1
"Jangan melamun. Tidurlah," ucap Nada. Amara mengangguk, sebentar lagi pesawat akan berangkat. Mereka memutuskan untuk memejamkan mata. Wendi? Amara melirik kebelakang dan mendapati lelaki kemayu itu tidur dengan mulut terbuka. Amara menggelengkan kepalanya. Merasa jijik dengan pemandangan yang dilihatnya.
"Tuhan ... Mana bisa aku hidup berdampingan dengan manusia aneh sepertinya. Tolong, tolong jauhkan dia dariku. Berikan jodoh yang baik dan mau menerima kekuranganku... walaupun begitu, jangan jodohkan aku dengan Wendi." ucap batin Amara kemudian mengalihkan pandangannya.
*****
Seorang pemuda tampan tampak sibuk dengan keyboard didepannya. Pandangan matanya tak beralih dari layar monitor yang ada dihadapannya.
Dari tadi membuka dan menutup e-mail yang tak kunjung mendapatkan jawaban dari perusahaan yang diharapkan bisa membantu keuangannya.
Micho menggebrak meja, meluapkan amarah yang menyeruak dihatinnya. Micho mengambil gagang telpon kantor dan memanggil seseorang untuk membawakan segelas kopi untuknya.
Tak lama dari itu seseorang masuk dengan membawakan kopi untuk atasanya.
"Silahkan Pak Micho."ucap lelaki yang menjadi salah satu staf kantor yang membantu pekerjaannya, siapa lagi kalo bukan asisten pribadinya.
"Letakan disitu saja, Damar."ucapnya.
"Keluarlah." perintah Micho santai.
Mico meraih gelas kopi dan menyesapnya, memijit pelipisnya yang berdenyut pusing sejak tadi memikirkan nasip perusahaan. Bahkan, tabungan dan penghasilan dari perusahaannya yang ada diluar sudah terivestasikan diperusahaan yang kini mengalami krisis tersebut. Namun, apa yang dia korbankan nyatanya masih belum bisa menangani masalah yang terjadi.
Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Ada nama wanita murahan disana. Mico membiarkannya, Namun ponsel Micho terus berbunyi, mungkin Amara sudah sampai bandara dan kemudian menghubunginya.
Ponsel Mico terus saja bergetar, pada akhirnya Micho mengangkat ponselnya, menggeser gambar telfon dan mendekatkan ditelinganya.
"Iya Amara. Ada apa? "tanya Micho santai.
"Aku sudah dibandara, Sayang. Jemputlah aku, aku menunggumu." ucap wanita itu. Micho mengernyitkan dahinya,
__ADS_1
"Dasar wanita murahan," gumamnya.
"Apa? Kau mencintaiku? Iyaa, aku tau. Cepat jemput aku, Sayang."
"Apa-apaan ini. Hentikan omong kosongmu."
" Iyaa, aku bawa banyak oleh-oleh. Cepat jemput aku,"
Ucapan wanita itu membuat Mico memejamkan matanya, dengan malas Mico mengangguki ucapan gadis itu dan beranjak dari kursinya.
Amara menghela napas panjang, Amara masih menunggu kedatangan Micho. Di belakang Amara berdiri, ada Wendi yang membuntuti. Sehingga, mau tidak mau Amara memanggil micho dengan sesuka hatinya dan berbicara semaunya. Dia hanya ingin memastikan Wendi Mendengar ucapannya dan membuat Wendi mengurungkan niatnya untuk berbuat nekat.
***
Mico segera menancap gas mobil miliknya. Melajukan mobilnya dengan malas. Kalau bukan Anak dari sahabat baik ayahnya dan bukan Adik dari temanya mungkin Mico sudah menyingkirkan wanita itu sedari dulu. Namun, rasa sayang terhadap ayahnya jauh lebih dia pentingkan dari pada urusan hatinya.
Beberapa menit kemudian tibalah Mico dibandara yang dimaksud oleh Amara. Sengaja Mico tak menghiraukan deringan Ponsel yang menampakkan nama Amara. Micho sengaja berjalan menyusuri jalan dan menikmati pemandangan pemandangan orang yang berlalu lalang keluar masuk bandara.
Micho yang masih berjalan seperti menangkap bayangan orang yang dia kenal, sosok yang dia rindukan selama ini. Ingin memastikan penglihatanya, lelaki yang semula duduk dengan tenang itu sekarang berdiri dan mengejar wanita yang diyakini adalah orang yang dia kenal. Micho menerobos kerumunan orang yang berlalu lalang. Micho berlari mencoba mencari apa yang dia lihat.
Deru nafas yang ngos-ngosan tidak dia hiraukan.
"Sabrina" gumamnya sambil mengamati beberapa orang.
Micho yang merasa Leah memsudukan pantatnya. jari jemarinya memijat pelipisnya.
"Sabrina, Benarkah iTunes kamu, atau hanya aku yang terlaksana memikirkanmu?" tanya Micho. Micho membuka matannya, Netranya menangkap sekilas bayangan mantan kekasih yang masih dia cintai lagi. dengan langkah seribu dia mengejar. namum,entah kemana bayangan itu menghilang.
Micho terus mencari, dia mendengar suara seseorang, dia menoleh, dan yang dia lihat adalah punggung orang yang seeing memunguti belanjaan, mungkin wanita iTunes sangat ceroboh sehingga menabrak belanjaan orang lain.
__ADS_1
###
Like komen dan hadiah ya.... love you.....