
Desakan hasrat aneh membuat keduanya tak ingin menjauh. Pada akhirnya kedua bibir mereka bertemu.
Micho merasakan manis bibir Amara, tubuh mereka sedikit bergetar merasakan sensasi panas dingin yang melebur menjadi satu. Baru kali ini hasrat itu muncul bersamaan dari keduanya, hingga mereka terbuai menikmati indah dunia malam ini.
Ciuman itu semakin memanas, memberikan kenikmatan yang berlebih disertai dengan perasaan rindu yang membuncah dari keduanya. Mereka terhanyut dalam manisnya surga dunia.
Jika dulu mereka saling memberontak dan gengsi, kali ini Amara menikmati betapa indah dan betapa manis manusia menyebalkan yang kini berstatus menjadi suaminya itu.
Tidak ada alasan untuk menolak, hatinya benar-benar jatuh kedalam pesona lelaki tampan yang dulu selalu menoreh luka di batinnya. Namun, saat ini manusia yang dia benci adalah manusia yang mampu memberikan pelukan hangat dan Kasih sayang yang nyata dirasakan. Amara merasakan kenyamanan dan ketenangan, begitu juga dengan Micho. Banyak hal yang di dapat dari manusia cantik di dalam rengkuhannya.
Ciuman itu semakin liar. Amara terkejut dan melepaskan ciuman panas itu saat terdengar teriakan seseorang dari bawah.
"Woi,"
Amara menatap kearah Micho membalas tatapan lembut istrinya. Wajah keduanya tampak bersemu merah.
"Mas, siapa?" tanya Amara sambil melangkah maju. Micho mengamati wajah istrinya yang tampak merona malu. Micho menggeleng pelan. Amara menyembul melihat ke bawah. Micho juga ikut menengok kebawah. Mereka tampak terkejut ketika melihat Rafa yang berkacak pinggang di bawah sana.
"Kakak, ngapain disitu?" tanya Amara tampak panik dan bingung menjadi satu.
Amara memejamkan matanya. Dia berhambur ke pelukan Micho dan menyembunyikan wajahnya yang merah merona. Apa Kak Rafa melihat dirinya ciuman? Batinnya.
"Ngapain-ngapain! Kamu mengunci pintunya sehingga aku tidak bisa masuk rumah, Ra!" ucap Rafa dongkol. Micho tampak tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Mengganggu saja," batin Micho. Tapi dia juga malu dan harap cemas. Bagaimana jika Rafa melihatnya? Bodo Amat. Pikir Micho.
"Maaf kak, aku lupa kalao kakak masih di luar." ucap Amara sambil tersenyum.
"Buka sekarang," teriak Rafa.
"Iya kak. Tunggu, aku turun." ucap Amara.
Micho dan Amara saling berpandangan dan mereka bergegas berjalan menuruni tangga dan membuka pintu. Memang biasanya ada Art yang membuka, tapi beberapa hari ini mereka izin pulang.
Rafa melangkah melewati Micho dan Amara begitu saja, Micho dan Amara tampak tak enak hati. Beberapa saat kemudian Rafa berhenti dan menoleh ke arah pengantin yang baru akur setelah 3 minggu menikah itu.
"Kalian punya kamar kan?" tanya Rafa ketus. Amara dan Micho mengangguk pelan.
"Cukup mataku saja yang ternodai karna ulah kalian, lain kali lihat tempat," ucap Rafa kemudian melangkah pergi.
"Rafa,!" panggil Micho.
"Apa?" tanya Rafa yang sudah sampai di atas.
"Segera menikah," ucap Micho sambil tersenyum. Rafa mengarahkan jari tengahnya pada Micho. Micho tertawa dan mengusap pelan puncak kepala Amara.
"Sebaiknya kita ke kamar, ini sangat memalukan Mas. Kak Rafa memergoki kita," ucap Amara dengan wajah malunya.
__ADS_1
"Malam ini aku ingin melahabmu," ucap Micho sambil menyeringai tipis. Wajah Amara sedikit bersemu merah, iapun mendorong tubuh Micho pelan kemudian berlalu.
Lagi-lagi Micho menarik tangan Amara, Amara terhenti. Micho mengangkat tubuh istrinya didalam gendongannya. Amara terkejut dan melingkarkan tangannya dileher Micho.
"Mas aku bisa jalan sendiri," berontak Amara.
Micho diam dan terus berjalan membawa Amara ke kamar. Micho membaringkan Amara di ranjang, membaringkan dengan pelan istri cantiknya itu. Iapun naik keatas tempat tidur dan berbaring di samping Amara.
Keduanya saling berpandangan. tenggelam dalam bahtera yang memuat sebongkah berlian yang penuh dengan cinta kasih. Amara mengusap pelan dada bidang suaminya, memberikan sensasi yang aneh pada tubuhnya.
"Apa kamu bersedia?" tanya Micho dengan senyum indahnya.
"Apa?" tanya Amara sambil menatap tajam kearah Micho dengan senyum malu-malunya.
"Aku suamimu," ucap Micho sambil mengusap pelan pipi mulus Amara. Amara tampak tersipu, bulu halusnya tampak merinding geli.
"Aku ... " Amara memejamkan matanya. Mulut seakan menolak tetapi, tubuhnya seakan berkhianat. Tubuhnya menginginkan hal lebih dari sekedar ciuman.
"Okey, aku akan menunggumu siap. Sekarang tidurlah." ucap Micho sambil berbaring, Amara ikut berbaring didekat Micho. Amara memejamkan matanya. Micho melingkarkan tangan kanannya di pinggang Amara dengan posesif. Mereka saling berhadapan.
"Aku tau kamu juga menginginkannya, Nona Amara," ucap Micho. Amara yang tadinya memejamkan matanya sontak membuka matanya. Dia melihat dengan jelas wajah Micho yang tengah tersenyum menggoda dirinya.
Amara berbalik memunggungi Micho dan menutup tubuhnya dengan selimut tebal.
__ADS_1
😀😀😀😀😀
😁😁😁😁😁😁😁