
Micho menghela napas panjang, kenyataan ini begitu menggoncang perasaannya. Amara dan dia menikah? Dia hanya bisa pasrah.
"Kau, kau berhadapan denganku jika menyakiti Amara. Kau beruntung kali ini, ada papa yang membutuhkanmu, kalau bukan karna papa membutuhkanmu, kau habis di tanganku," ucap Rafa sambil mengarahkan jari telunjuknya di hadapan Micho.
Micho memalingkan wajahnya dan tersenyum sinis, kemudian menepis jari telunjuk Rafa.
"Apa yang bisa kau lakukan? Setelah pernikahan ini, mau aku menyakiti, membahagiakan atau aku melakukan apapun itu hakku. Bukan urusanmu!" ucap Micho sambil tersenyum.
"Aku bisa saja menolak dan mengabaikan permintaan papamu, tapi aku tidak tega padanya dan juga mamamu. Aku melakukan ini hanya untuk kesembuhan mamamu, tidak lebih dari ini, Rafael Rusdiantoro." ucap Micho tegas.
Micho meraih ponselnya dan mengirimkan file ke nomer kontak Rafa yang ternyata masih sama dengan yang dulu.
"Aku kirim semua berkas yang kamu perlukan untuk kebutuhan pernikahan ke kontakmu, Kakak ipar!" ucap Micko kemudian melenggang pergi.
Rafa mengepalkan tangannya, meraih ponselnya dan melihat beberapa file berkas yang dikirim Micho. Nomer kontaknya masih sama seperti dulu. Tidak berubah, profil merekapun masih sama. Foto 3 orang yang menyatukan tangannya.
Rafa memejamkan matanya, dulu Micho adalah yang paling baik diantara dirinya dan Damar, paling pengertian dan paling sabar. Sekarang? Kenapa justru dia seperti monster yang mengerikan? Tetapi Rafa masih saja bisa menangkap sisi baik dari Micho, sahabatnya. Harus bagaimana? Bersyukur atau sebaliknya? Rafa benar-benar dilema dan terjebak Salam situasi yang membingungkan.
Rafa memandang punggung Micho yang menjauh darinya. Segera dia pergi mengurus segala keperluan pernikahan untuk adiknya.
***
Micho menatap langit-langit rumah sakit, membersihkan luka dan mendapat pengobatan pada lukanya. Micho memejamkan matanya, menikah dengan Amara? kenapa bisa begini? Kenapa tidak menolak saja? pikiranya masih bergulat dengan hatinya.
Mau menolak seharusnya bisa, ancaman Pak Rudi bisa dia atasi, tapi kenapa malah mengikuti kemauannya? Micho meraih ponselnya dan menghubungi Damar.
"Ada apa Bos?"
"Datang ke rumah sakit Husada bersama Papa, persiapkan mas kawin dan mahar pernikahan serta jas untukku. Aku akan menikah," ucapnya. Orang diseberang tertawa mendengar ucapan Micho.
__ADS_1
"Kau bermimpi?" tanya Damar.
"Jangan banyak bicara, laksanakan dan cepat kesini." ucapnya kemudian menutup ponselnya. Damar mengernyitkan dahinya.
"Menikah?" tanyanya pada diri sendiri. Pada akhirnya Damar pergi dan menghubungi Prayoga meskipun dirinya tidak yakin pada ucapan Micho.
Beberapa saat kemudian, Micho membersihkan dirinya menatap dirinya di depan kaca. Micho memandang luka lebam di wajahnya.
"Rafa, aku maafkan kelakuanmu. Suatu saat nanti kau akan mengerti kebenarannya, aku hanya membantunya, tidak lebih dari itu. Sekarang, dimana keberadaanya akupun tidak tau, Bianca menghilang setelah kejadian itu." ucapnya lirih.
Micho meraih ponselnya, membuka galeri dan menatap wajah Sabrina di ponselnya. Sabrina Yang memilih sepaket perhiasan yang indah. Micho mengusap wajah cantik itu.
"Sabrina, jika waktu itu kita menikah perhiasan ini akan mempercantik dirimu. Tapi, entah dimana sekarang perhiasan itu aku juga tidak tau. Aku menyingkirkannya, berharap ada orang yang mencariku kemudian mendekatiku sebagai penggantimu lantaran perhiasan itu.
Namun, nyatanya orang yang mendapatkannya tak sematre itu. Sampai sekarang, dia tidak datang padaku, mendengar cerita para karyawanku yang lucu, kata mereka, mereka sampai memaksa wanita itu untuk menerimanya. Mungkin wanita itu punya kekasih, hingga bersi keras menolak. Aku bangga padanya. Dia wanita hebat. Aku sampai enggan untuk melihat foto yang diambil karyawanku. Aku takut jatuh hati dan patah hati lagi. Kata Mela, dia sangat cantik," ucap Micho sambil menatap foto Sabrina.
****
Amara mempersiapkan dirinya dengan dibantu oleh Nada. Amara masih saja menangis, wajah cantiknya tampak sembab. Nada menghapus air mata yang mengalir deras dia pipi Amara.
"Hei, jangan menangis. Kamu kuat, kamu wanita hebat. Aku mohon kuatkan hatimu demi mama. Papa tadi pamit untuk menyelesaikan urusannya. Dia menyerahkan segala urusan pernikahan pada wali hakim. Kak Rafa dan kak Raka yang akan menyaksikan pernikahanmu." ucap Nada panjang lebar.
Amara mengangguk, mau bertanya kenapa tidak kakaknya saja walinya. Tapi, Amara enggan untuk membuka mulutnya, ia hanya pasrah dengan apa yang akan dia hadapi. Mau papa atau hakim yang menjadi walinya sama Saja. Suaminya tetap manusia laknat yang bernama Micho aditya Pratama.
Beberapa jam berlalu, persiapan acara pernikahan sederhana telah didepan mata. Rafa dan Raka sudah berada diruangan bersama dengan wali serta penghulu. tak lama dari itu, Micho dan Damar serta prayoga datang bersama. Rafa melirik Micho yang tampak tampan dengan setelan jas yang melekat dia tubuh kekarnya. Micho duduk dan meletakan mas kawin serta maharnya. Rafa juga melirik ke arah Damar. Damar juga melakukan hal yang sama, mereka sama-sama canggung berada dalam situasi yang tidak nyaman ini.
Tak lama dari itu, Amara dan Nada datang bersamaan. Nada menggandeng Amara yang memakai kebaya putih nan cantik membalut tubuhnya. Wajah cantik nan mempesona meskipun sembab di wajahnya.
Micho memandang Amara, sebuah rasa menyelinap masuk ke dalam hatinya. Netranya enggan berpaling dari pemandangan di hadapannya. Micho segera mengalihkan pandangannya ketika Amara duduk tepat disampingnya. Sejenak mereka sailing menatap tajam. Hingga pada Akhirnya pak penghulu mengucapkan ijab Qobul pernikahan Micho dan Amara.
__ADS_1
"Sah," ucap Para saksi bersamaan meskipun ini adalah ke tiga kalinya Micho mengulang ijab Qobulnya. Pak penghulu membacakan doa keselamatan untuk memepelai berdua. Amara meneteskan air matanya. Rasa haru menyerbu hatinya. Kini dia telah sah menjadi istri dari Micho.
Amara mengusap wajahnya ketika pak penghulu telah selesai membacakan doa. Amara dan Micho saling menatap, entah apa yang dirasakan keduanya. Keduanya hanya diam tanpa kata.
Pak penghulu memberikan sepasang cincin pada mempelai. Amara dan Micho memasangkan cincin di jari mereka secara bergantian. setelah itu Amara mencium tangan Micho, dan Micho mencium puncam kepala Amara. Keduanya larut dalam acara sakral pernikahan. Rasa aneh menjalar di hati keduanya. Amara memejamkan matanya, entah apa yang akan terjadi nanti iapun tidak tau.
Micho melepaskan ciumannya kemudian menatap ke arah Papanya. Mereka sungkem pada Prayoga. setelah itu Micho berjalan ke arah Rafa, Rafa yang semula diam meraih Micho dan menepuk pundaknya.
"Jika membuat adikku menangis, aku akan menghabisimu," ucapnya pelan sekali. Micho diam tak menanggapi.
Micho berjalan kearah Raka, Raka hanya menepuk pundaknya. Micho melirik Amara yang menangis di pelukan Rafa. Micho mengalihkan pandangannya kemudian melangkah pergi setelah pak penghulu dan pak hakim pamit pergi. Damar dan Prayoga mengikutinya.
Amara memeluk erat Nada, kini mereka berada di ruang rawat mamanya.
"Mama, Amara sudah menikah. Mama bangun. Amara akan menemani mama." ucap Amara sambil mencium tangan mamanya yang telah melewati masa kritis.
Micho membawa paper bag dan masuk ke dalam ruang rawat mama Hana. Nada yang melihat Micho masuk segera pergi tanpa sepengetahuan Amara.
"Nad,tolong ambilkan minum itu, aku haus," ucap Amara, memang Amara sedari malam tak makan apapun.
Tidak ada sahutan dari Nada, Amara berdiri, namun badannya yang lemah tak kuat untuk berdiri. Amara merasa pusing, tubuhnya terpelanting. Amara memejamkan matanya. Saat itu tangan kokoh segera menangkapnya Amara melingkarkan tangannya di leher orang itu.
Mereka sangat dekat, hembusan napas Micho menampar wajah Amara. Amara membuka matanya, kini dia duduk menyamping di pangkuan Micho. Wajah mereka hanya berharap 5 centi. Mata mereka saling menatap tajam. Amara menyadari posisinya, ia menekan dada Micho dan melompat turun dari pangkuan Micho.
Namun, Micho seakan enggan melepaskannya, tangan pria yang telah sah menjadi suaminya itu melingkar di pinggang Amara, menariknya hingga posisi mereka semakin dekat dan merapat.
"Tolong, tolong lepaskan aku," ucap Amara lirih.
😍😍😍😍😍
__ADS_1