Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
121


__ADS_3

"Mana bisa aku berpaling dari suami seunik kamu,Mas." ucap Amara dan membuat Micho tersenyum. Micho mengusap pipi lembut Amara kemudian meraih Amara dalam dekapannya. Merasakan ketenangan yang sama seperti sebelumnya.


"Unik katamu?" tanya Micho. Amara mengangguk dalam dekapan Micho.


"Hemm, unik sekali dan tidak akan pernah ada yang bisa memalingkan cintaku. Sekaya apapun dia, sekaya Reyen. Atau sebaik Kak Zidan, sekeren Radit. Atau bahkan seposesif Kak Rafa," Amara terkekeh geli sendiri, bagaimana bisa dia menggombal seperti itu.


Micho tertawa mendengar ucapan Amara, ada sedikit tawa yang terdengar dari mulutnya. Tapu ada juga sedikit ngilu karna nama Radit juga berada dalam pikiran Amara. Apa Radit juga termasuk jajaran orang yang dekat dengan Amara sebelumnya? Micho mengeratkan pelukannya kemudian mengusap pelan pundak Amara.


"Jika yang mencintaimu salah satu dari mereka bagaimana?" tanya Micho. Hatinya sakit saat menanyakan hal itu pada Amara. Dia takut akan terluka nantinya. Amara melepaskan Micho dari dekapannya dan mendongak.


Amara mengambil dasi si leher Micho dan membenahinya.


"Apa kamu takut aku akan berpaling? Atau kamu cemburu ?" tanyaa Amara sambil tersenyum. Tapi tidak untuk Micho, Micho terdiam tenggelam dalam rasa was-was di hatinya.


Amara wanita yang sangat baik dan cantik, sayangnya dia baru menyadari beberapa bulan ini. Dia tidak bisa memungkiri jika memang banyak orang di luaran sana yang menginginkan wanita cantik dan baik seperti istrinya.


"Mas," panggil Amara sambil mengusap pelan dada bidang Micho.


"Apa aku harus menjawab? Bagaimana bisa aku kehilangan wanita baik sepertimu, hem? Aku sangat mencintaimu, sayang. Amat dan sangat mencintaimu," ucap Micho sambil mengusap pelan puncak kepala Amara. Amara tersenyum dan mengalungkan tangannya di leher Micho.


Amara menatap wajah tampan yang semakin bersinar setiap harinya itu. Tak ada sedikitpun keraguan tentang cinta Micho. Micho benar-benar telah berpaling dari Sabrina. Sosok cantik yang sampai sekarang masih belum bertemu dengannya.


"Kau tau, pertanyaanmu tidak membutuhkan jawaban dariku," ucap Amara.


"Tapi aku membutuhkannya Sayang, kau terlalu sempurna untuk dicintai. Bahkan Rafa, aku kadang suka iri saat dia bersikap posesif padamu," kesal Micho. Amara tertawa.

__ADS_1


"Heh, kenpa iri? Kak Rafa kakak ku," sanggah Amara sambil memandang Micho. Micho meraih pinggang Amara posesif.


"Tapi aku tidak suka, kau sudah bersuami. Aku yang akan menjagamu. Lain waktu dekat-dekat dengannya," ucap Micho. Amara tertawa dan menggelengkan kepalanya.


"Mereka memang sangat mencintai aku, tapi..." Amara menjeda ucapannya dan meletakan 2 tangannya di dada bidang Micho. Mengusap pelan, sehingga membuat Micho merasakan sensasi yang membuat aliran darahnya seakan berhenti.


"Tapi apa?" sahut Micho. Amara tersenyum.


"Tapi aku yakin, jodohku sampai maut memisahkan adalah orang yang kini ada di depanku. Tidak akan terganti dan akan selalu di hati. Seharusnya kamu bisa membaca hatiku. Jika aku mencintai mereka. Aku tidak akan jadi wanita brengsek yang tega menggagalkan sebuah pernikahan hanya untuk mendapatkan tanggung jawab darimu. Mereka ada sebelum cintamu untukku ada di hatimu Mas. Tapi, aku tidak pernah bisa menerima cinta mereka, lagi pula jodoh sudah di atur oleh Allah SWT," ucap Amara.


Micho meraih Amara dalam dekapannya. Rasanya sangat lega ketika mendengar penuturan dari Amara.


"Radit, apa kamu dan Radit mempunyai hubungan serius sebelumnya?" tanya Micho. Amara menggeleng pelan. Apa kecemburuan pada Radit masih ada gara-gara tempo hari? Pikir Amara.


"Bagaimana bisa?" tanya Micho.


"Ya bisa, sehari sebelumnya aku bertemu Radit di depan hotel Indah," ucap Amara.


"Kalian kencan?" tanya Micho. Amara mengernyitkan dahinya. Kenapa ada pertanyaan bodoh dari suaminya? Kenapa Micho jadi aneh seperti ini. Amara menatap lekat suaminya. Benarkah ini Micho yang dulunya emosional dan semaunya sendiri itu?


"Mana ada kencan, waktu itu aku masih sok karna aku pikir aku sudah tidak peraw*n lagi. Aku dari rumahmu dan kamu sudah berangkat ke kota X. Nada memintaku untuk pulang, dan aku kabur dari Nada untuk memyusulmu. Aku bertemu dengan Radit di depan hotel, dia hampir saja melenyapkan aku dengan mobilnya. Radit dengan segala gombalan anehnya itu mampu membuat aku tertawa," ucap Amara panjang lebar sambil mengingat masa lalunya yang kadang sedikit lucu. Micho kembali mengingat, bahwa malam itu dia menghubungi Radit untuk segera menyusulnya.


"Jadi kalian berangkat bersama?" tanya Micho lagi. Dia ingin tau, sedalam apa cinta Radit pada Amara sampai dia memilih pergi. Jika Amara tidak mencintai Radit, maka rasa bersalah sedikit berkurang.


"Mana bisa aku semobil sama orang yang baru kenal. Aku naik taxi, dan bertemu kembali malam harinya di hotel Nuansa. Nah, saat itu Radit memberikan aku nomer ponselnya, ya udah. paginya aku berangkat bersama, berpisah di gang aja sih. Setelah itu aku tidak lagi berurusan dengan Radit," ucap Amara.

__ADS_1


"Memangnya kenapa Mas? Kenapa jadi membicarakan Radit?" tanya Amara. Micho menatap Amara lekat.


"Radit meminta izin pergi dari sini dan menghendel perusahaan di negara P. Aku rasa dia mencintaimu Sayang. Mungkin dia tak mau terluka dan memilih pergi," ucap Micho. Amara membelalakan matanya. Manabisa? Amara memejamkan matanya. Baru saja dia mau melabrak Rafa karna Nada pergi. Lalu apa ini? Amara memejamkan matanya dan memposisikan dirinya sebagai Rafa.


"Jadi Radit pergi? Tapi aku tidak tau jika seperti ini," ucap Amara. Ada rasa bersalah ketika harus mengetahui kenyataan ini. Amara memejamkan matanya mencoba menguasai hatinya.


"Maafkan aku jika menciptakan keadaan ini, Mas." ucap Amara. Micho terdiam dan menggelang pelan.


"Ini bukan salahmu, ini takdir. Jodoh tidak akan pernah tertukar, katamu tadi. Mungkin Radit bisa berfikir dengan jernih jika jodoh Tuhan yang mengatur. Makanya Radit mencoba menyembuhkan lukanya dan memilih pergi, jikapun dia merebutmu aku pastikan dia kalah dariku." ucap Micho. Amara memejamkan matanya. Tapi tersenyum mendengar ucapan terakhir Micho.


"Ya, kamu benar Mas. Radit dan Nada, mereka mempunyai cara sendiri untuk menyembuhkan luka. Mereka sangat tau arti persaudaraan lebih dari segalanya, aku salut sama mereka. mereka tidak pernah mau mengungkapkan, walaupun sekedar untuk melegakan, mereka sangat menjaga hubungan baik," ucap Amara.


"Hem, mereka terbaik. Kamu juga istri terbaik." ucap Micho. Radit dan Nada? Amara dan Micho tampak saling memandang.


"Bagaimana kalau kita menjodohkan mereka?" ucap keduanya bersamaan. Amara dan Micho tertawa bersama kenapa mereka mempunyai ide konyol yang sama?


"Sudahlah, mereka punya hati. Biarkan mereka di tuntun Allah saja untuk bertemu jodohnya masing-masing. Lagi pula jika Allah menakdirkan berjodoh sejauh apapun mereka pasti akan dipertemukan."


Amara menatap Micho, benar apa kata Micho. Biarkan mereka menyembuhkan luka dan bertemu jodohnya nanti. Amara mengambil ponselnya dan menulis pesan untuk Nada yang sedari tadi tidak dapat di hubungi.


Nada, aku relakan kamu pergi Sayang. Bahagia selalu, jaga butik ya. Semangat Nada, kamu adik sahabat dan saudara terbaik. Sayang kamu. kirim


😘😘😘😘


Nada dan Radit ada Novel tersendiri nantinya ya😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2