Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
Hanya Amara


__ADS_3

Suasana malam begitu indah, saat ini Amara berdiri di depan kaca, menatap dirinya yang tampak berbeda dari biasanya. Nada, sahabat Amara itu mempoles wajah Amara sehingga wanita yang memang sudah cantik itu lebih cantik mempesona. Nada tidak mau Amara kehilangan momen, tante Elysa yang mengatakan akan mengenalkan Amara dengan seseorang membuat Nada bersemangat untuk menjadikan Amara wanita tercantik di malam ini.


"Rara, kamu cantik sekali. Aku mau hari ini kamu jangan menyiakan kesempatan. Cobalah membuka hati," ucap Nada sambil tersenyum.


Amara menatap dirinya dicermin, cantik sekali. Dirinya yang memakai gaun berwarna dusty lengan panjang dengan bawahan selutut membuatnya sangat anggun. Amara menghela napas panjang. Sanggupkah untuk membuka hati? Bahkan dia begitu jijik melihat dirinya saat ini. Hanya cantik diluar, tetapi tak mempunyai kehormatan. Micho, wajah itu masih sangat jelas di ingatannya. 4 tahun berlalu tetapi dirinya tak sanggup untuk melupakan malam itu.


"Nada, jangan berharap banyak. Aku tidak yakin bisa memulai," ucapnya. Tak lama dari itu, ponsel Amara berdering. Layar ponselnya menampilakan nama Kak Rafa. Amara tersenyum dan menggeser tombol hijau di ponselnya.


"Halo, Asalamualaikum Kak Rafa." sapa Amara dengan senyum indah menghiasi wajahnya.


"Walaikumsalam, bagaimana kabar adiknya aku yang cantik? kamu baik-baik saja?" tanya Rafa sambil memandang wajah cantik Amara dari layar ponselnya.


"Hemm, aku baik. Kakak bagaimana?"


"Kakak juga baik, kakak menghawatirkanmu." ucap Rafa.


"Selalu begitu, aku tidak papa, Kak!" ucap Amara.


"Tadi kakak menghawatirkanmu. Tapi, sekarang tidak lagi." ucap Rafa.


"Gitu ya, ya udah matiin aja ponselnya!" sewot Amara.


"Gimana mau khawatir, kamu tampak berdandan seperti itu. Pasti kamu lagi bahagia," ucap Rafa. Amara tersenyum dan memandang kakaknya.


"Ini ulah Nada," ucap Amara sambil melirik Nada yang membereskan perlengkapan make up di atas meja.


"Bilang sama Nada suruh dandan juga, suruh dia nyari cowok." ucap Rafa yang jelas sekali ditelinga Nada. Hati Nada seakan bergetar hebat, dia mengharapkan Rafa Namun tak mungkin bisa untuk mengungkapkan.


"Ye, kakak sendiri aja nggak cari cewek. Udah tua kak, mau nunggu apa?" tanya Amara sambil melirik Nada, dia tau pasti perasaan Nada seperti apa saat ini.


"Nunggu kalian berdua menikah," ucap Rafa.


"Nikah aja sama Nada," ucap Amara mencoba mempropokasi.


Uhuk, Uhuk...

__ADS_1


Nada seketika tersedak dan membuat Rafa tertawa.


"Lihat Ra, Nada grogi. Lagian Nada udah kakak anggap adik sepertimu, jangan mengada-ngada." ucap Rafa. Nada menghela napas panjang, dia mencoba menguatkan hatinya dan memandang ke arah ponsel Amara.


"Kak, kalo aku maunya nikah sama kakak gimana?" ucap Nada, Rafa sedikit pias.


"Kamu serius?" tanya Rafa. Nada tersenyum, sedangkan Amara merasakan dak dik duk tak karuan.


"menurut kakak?" timpal Nada lagi.


"Aku tau, kamu hanya bergurau. Lagi pula kalian tau, jika aku masih mengharapkan seseorang." ucap Rafa. Nada memejamkan matanya, merasakan sesak yang mendera batinnya. Sedangkan Rafa, lelaki itu membayangkan wajah Bianca Alea Natasha. Wanita yang selalu mengisi hatinya.


Amara memandang kearah Nada dan Rafa bergantian, dia tau perasaan Nada. Dia juga tau bahwa Rafa masih mengharapkan gadis yang mengisi hatinya.


"Udah bercandanya?" tanya Amara mencairkan suasana. Rafa tersenyum singkat.


"Nad, masih mau berkata-kata?" tanya Amara. Nada menggelengkan kepalanya.


"Kak, sambung lagi nanti ya." ucap Amara.


"Hem,"


"Kakak harap kamu mau menata hidup, kakak yakin akan ada orang yang mau menerimamu apa adanya, kakak yang akan membantumu bicara." ucap Rafa. Amara memejamkan matanya.


"Kakak jangan berharap lebih," ucap Amara.


"Lupakan b*j*n*an itu. Jangan mengingat luka itu, ato kamu mau kakak membawanya kehadapanmu?" tanya Rafa. Amara menghela napas panjang.


"Sudahlah kak. Jangan lagi membahasnya, aku akan menentukan hidup ku sendiri, aku janji aku akan bahagia." ucap Amara. Rafa tersenyum dan mengangguk.


"Berangkatlah," ucap Rafa. Amara mengangguk pelan. Sambungan telpon dengan Rafa telah putus, iapun menatap Nada yang tampak bersedih.


"Kamu bersedih?" tanya Amara. Nada menggelengkan kepalanya.


"Aku patah hati sebelum menjalani, rasanya sakit sekali Amara." ucap Nada. Amara menatap ke arah Nada dengan tenang.

__ADS_1


"Kamu terlalu naif dan menyakiti dirimu sendiri, seharusnya kamu mengatakan pada Kak Rafa tentang perasaanmu,"


"Aku tidak seberani itu," ucap Nada.


"Mau sampai kapan?" tanya Amara. Nada menggelengkan kepalanya.


"Sebaiknya kita berangkat, Aku rasa kita sudah telat." ucap Nada dan diangguki oleh Amara.


😍😍😍😍😍


Disebuah rumah yang megah, Prayoga, Elysa, Herman dan putra Elysa tengah bercengkrama. Elysa mengatakan pada Prayoga jika akan mengenalkan putranya kepada putri dari sahabat baiknya. Prayoga hanya terdiam tak menjawab apapun.


"Yoga, apa kamu mendengarku?" tanyanya.


Prayoga menerawang jauh, ingatannya masih terpatri dengan Amara. Gadis yang saat itu menangis pilu merasa kehilangan kehormatannya. Adik dari sahabat Micho sendiri. Sejak saat itu prayoga mengatakan akan menjadi penghalang kedekatan Micho pada selain Amara. Dan kini sahabatnya akan menjodohkan Micho? Apa yang harus dikatakannya?


"Yoga," panggil herman.


"Ya,"


"Apa kamu setuju?" tanya Herman. Prayoga terdiam.


"Kamu tenang saja, dia gadis yang baik. Dia juga cantik, mandiri, dia berasal dari keluarga baik-baik." ucap Elysa.


"Kita serahkan saja pada mereka, Micho sudah dewasa. Biarkan dia yang menjawabnya," ucap Prayoga.


Herman dan Elysa tersenyum, mereka melanjutkan bercengkrama, disela obrolan mereka Prayoga mengetik pesan kepada Micho putranya.


Tante Elysa dan Herman akan menjodohkan mu dengan putri temanya. Papa ingatkan, Papa tidak akan menyetujui pernikahanmu jika tidak dengan Nona Amara. Hanya Amara. Papa harap kamu bisa menolak dengan halus. Kirim.


😁😁😁😁


lanjut tak????


kasih semangat dong, like komen dan vote ya.. 😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2