Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
Masih teringat kamu


__ADS_3

Nada dan Amara hanya mengangguk pelan, kemudian mengantarkan customer sepesial itu ke depan.


"Om dan tante hati-hati, nitip salam buat joy. Bilang sama dia harus fokus skripsi, jangan mainin cewek." ucap Amara panjang lebar.


"Salam diterima," sahut Herman membuat Amara dan Nada saling berpandangan kemudian tertawa.


"Kami pergi dulu nona cantik," ucap Elysa sambil tersenyum. Mobil mereka berjalan dan menghilang dari pandangan. Amara dan Nada saling berpandangan.


"Mau bagaimana caraku untuk menghindari pernikahan, nyatanya dunia normal yang seharusnya di jalani mengiang didepan mata." ucap Amara sambil memandang jauh ke depan sana. Nada menoleh ke arah Amara, dia mengusap pelan pundak bosnya.


"Ra, itu wajar terjadi. Kamu itu cantik, baik dan kamu berhak untuk bahagia," ucap Nada. Amara menatap sahabat nya.


"Kamu pikir kamu juga tidak berhak bahagia? Kamu berhak bahagia. Apalagi kamu sempurna, tidak seperti aku. Lalu, kenapa kamu malah mengikuti diriku yang menjalankan hidup tak sesuai dengan yang seharusnya?" ucap Amara sambil menatap ke arah sahabatnya.


"Aku memang berhak bahagia. Tetapi, bahagiaku akan tiba jika sahabatku juga bahagia." ucap Nada sambil menatap ke arah Amara.


"Nad, kamu seharusnya tidak melakukan ini. Kamu layak untuk menikah, layak untuk menjadi istri dan ibu. Jangan memperdulikan aku, ini beban bagiku ketika keputusan yang aku ambil malah menghambat kebahagianmu," ucap Amara. Nada memegang pundak Amara, tersenyum padanya.


"Aku bahagia jika kamu juga bahagia, jangan protes lagi, sebaiknya kita masuk dan membereskan kekacauan yang di buat oleh laki-laki kemayu itu," ucap Nada sambil tersenyum.


"Kamu betul, sebaiknya kita membereskan kekacauan yang di buat si kemayu itu, tidak akan ada habisnya jika kita berdebat, anggap saja memang kamu belum bertemu jodoh yang tepat." ucap Amara sambil tersenyum juga, merekapun melangkah bersama ke dalam butik.


***


Gedung Pratamaya yuda, Micho tengah sibuk mengerjakan beberapa berkas yang harus dia pelajari. Sebentar lagi, dia harus kembali bertemu dengan klien. Tidak lama kemudian, pintu ruangannya terbuka dan menampakka wajah Meta, sekertarisnya.


Wanita dengan baju seksi itu mendekati Micho dan mengalungkan tangannya di leher Micho. Micho tersentak kaget. Wanita di belakangnya ini sangat membuatnya tak nyaman.


"Meta, hentikan. Aku banyak kerjaan," ucap Micho sambil menepis tangan Meta.


"Sayang, kenapa kamu selalu seperti ini? Aku kekasihmu!" ucap Meta sedikit membentak. Micho menghela napas panjang.

__ADS_1


"Bukankah kamu sendiri yang memberikan status tak jelas seperti itu pada hubungan persahabatan kita? Aku hanya menganggapmu sekertaris juga sahabat baik. Tidak lebih dari itu, Meta." ucap Micho sambil berdiri. Keduanya saling berhadapan, Meta tampak kesal sekali pada Micho.


"Memang aku yang mengatakan pada publik, bukankah kamu tidak pernah menyanggah? Bukankah itu artinya kamu menyetujuinya?" ucap Meta. Micho memijat pelipisnya.


"Perlu aku katakan kenapa aku tidak membantah?" bentak Micho. Meta menatap Micho dengan tajam.


"Kenapa?"


"Karna aku menghargaimu, kamu sahabat baik. Aku tidak mau kamu malu dihadapan publik. Sekarang pergilah, jangan menggangguku,"


"Mic, kenapa tidak pernah kamu pertimbangkan perasaanku? dengan kamu melakukan ini, kamu membuat aku semakin mengagumimu, kenapa kamu membiarkan aku seenaknya? kenapa kamu tidak mempermalukan aku saja?" bentak Meta. Micho menghela napas panjang.


"Meta, aku tidak ada waktu untuk berdebat. Aku tidak mau ikut campur dengan urusanmu, mau segencar apapun kamu berbicara tentang kita di depan publik aku masa bodoh, yang penting jangan salahkan aku jika kamu sakit hati seperti ini. Bagiku, aku dan kamu adalah sahabat baik." ucap Micho kemudian melangkah pergi. Meta menghela napas panjang.


"Okay, aku akan terus berusaha memenangkan hatimu, Micho. Sampai kapanpun," ucap Meta pelan. Micho melangkahkan kakinya ke arah ruang santai. Netranya mendapati Mela dan Lily tengah sibuk menghadap komputer.


"Mela, buatkan aku kopi dan antarkan ke sini secepatnya," ucap Micho.


"Baik pak,"


"Segera!" tegas Micho kemudian melenggang masuk ke ruang santai.


Micho berdiri di dekat jendela, menatap bangunan yang menjulang tinggi di sekitar kantornya. Micho menghela napas panjang dan mengeluarkannya pelan. Tangannya meraih ponselnya, membuka galeri yang masih menyimpan satu poto imut milik mantan tunangannya.


"Sabrina, aku masih mengingat kamu. Aku juga masih ingat wajah manusia menjijikkan yang menggagalkan pertunangan dan pernikahan kita." ucap Micho lirih.


"Permisi, Pak. Kopinya," ucap Mela sambil meletakkan kopi di meja.


"Mela,"


"Ya, ada yang bisa saya bantu pak?" tanya Mela sambil mendekat ke arah Micho yang kini me masuk kan ponselnya di saku jas.

__ADS_1


"Apa kamu pernah jatuh cinta?" tanya Micho. Mela mengernyitkan dahinya. Mela hanya diam tak menjawab.


"Apa kamu pernah jatuh cinta, kemudian sakit hati dan harus kecewa pada pasanganmu?" tanya Micho lagi. Mela masih mencoba untuk tenang dan mendengar keluh kesah atasannya.


"Apa jika ada kesalah pahaman di hubungan kalian kamu tidak mau dengar penjelasan dari pasanganmu? apa kamu menghindarinya begitu saja dan enggan untuk bertemu dengannya? Apa itu benar?" tanya Micho. Micho menatap Mela dengan mata yang berkaca, selama 4 setengah tahun bekerja disini baru kalian ini bosnya itu seperti itu. Mela hanya diam saja.


"Mela, apa laki-laki pantas untuk diperlakukan seperti itu?" tanya Micho.


Mela menghela napas panjang, dadanya sesak mendengar ucapan Micho. Apa maksudnya? bukankah atasanya itu berhubungan dengan Meta dan mereka baik-baik saja? Lalu, kenapa Micho tampak prustasi? Sekarang pikiran Mela malah terbayang oleh bayangan Sheyna. Gadis cantik yang datang kesini 4 tahun lalu.


"Apa bapak ada masalah? Mungkin bapak bisa berbagi," ucap Mela.


"Jawab saja pertanyaanku,"


"Jika bapak bertanya seperti itu, maka jawabannya bisa di dapat apabila saya tau alur permasalahannya, jika tidak tau maka saya tidak bisa menjawab. Karna setiap masalah punya jawaban dari sudut pandang yang berbeda, dari perbedaan itu kita cari sebuah solusi agar bisa diterima keduabelah pihak," ucap Mela. Micho menghela napas panjang, dan menatap Mela lebih tenang.


"Terimakasih, kamu boleh pergi." ucap Micho. Mela mengernyitkan dahinya dan hanya bisa mengangguk menuruti permintaan atasannya.


Mela melangkah ke arah dimana lyly duduk. Gadis 23 tahun itu menghapus air matanya.


"Kamu kenapa?" tanya Lyly. "Apa Pak Micho memarahimu?" lanjut Lily. Mela menggelengkan kepalanya.


"Aku sedih," ucap Mela.


"Kenapa?" tanya Lily antusias. Mela menceritakan apa yang dikatakan Micho padanya, Lyli juga terdiam terbawa suasana.


"Apa iya, Nona Sheyna yang Pak Micho maksud? " tanya Lyli. Mela menatap Lily dengan sorot mata teduh.


"Aku juga berfikir hal yang sama,"


🤭🤭🤭🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2