Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
139


__ADS_3

Hari berganti hari, 2 hari telah berlalu, Rafa sudah di bawa pulang. Kini Amara berada di apartemen, karna kedua orang tua Amara sama sama menginginkan putri dan menantu mereka ikut dengan mereka. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk tidak bersama dengan siapapun.


Mereka akan mengunjugi keduanya beberapa hari sekali.


Amara dan Micho kini berada di dapur, keduanya tampak saling menatap karena terjadi keributan yang berulang. Amara selalu tidak puas dengan apa yang dibuatkan oleh Micho. Sedang Micho juga telah berusaha sebaik-baiknya memberi apa yang Amara minta.


"Mas," Amara mengusap pelan pundak Micho. Dia tau dia sangat merepotkan sehingga membuat Micho berdiam. Ya Micho memilih diam dari pada meladeni sikap Amara dan keceplosan seperti waktu itu kemudian membuat Amara bersedih. Micho tidak mau itu terulang.


Micho masih saja berdiam, merasa sudah tidak berdaya di diamkan. Amara sedikit berjinjit ia mendaratkan ciuman dadakan untuk suaminya.


"Jangan ngambek lagi dong, tidak ada jatah malam ini untuk suami yang ngambekan," ucap Amara kemudian melangkah pergi.


Micho mengernyitkan dahinya, iapun tersadar jika istri cantiknya mencoba untuk mengancamnya.


Micho menyeringai tipis saat istrinya berjalan dan menuju kekamarnya. Sesaat kemudian Micho melirik saja, kemudian mengambil piring berisi nasi tanpa kecap di atas meja dan segera mengikuti langkah permaisuri hatinya itu dengan hati yang bahagia.


Di dalam kamar, Micho mendapati Amara menyembunyikan tubuhnya di bawah selimut.


Dia pun segera meletakan nasi goreng di meja kemudian berbaring dan melingkarkan tangannya di pinggang Amara.


Micho menekan tangannya di hidung Amara membuat Amara sesak nafas dan membuka selimut sampai lehernya.


"Kamu mau membunuhku, Mas?" keluh Amara. Dia membalikan badannya sehingga mereka berhadapan.


"Kenapa?" tanya Micho. Dia tersenyum melihat istrinya itu manyun.


"Sesak napas tau nggak sih," kesalnya. Micho tertawa dan mengusap pelan pipi Amara.


"Mana ada seperti itu, aku hanya ingin kamu membuka selimutmu itu," ucap Micho.


"Mau apa? sebaiknya kita tidur, sudah malam," ucap Amara masih dengan mode sebalnya.


"Kamu tau, kamu sudah membangunkan senjata ampuhku karna mencuri ciumanku. Kamu harus bertanggung jawab untuk itu," ucap Micho. Amara membelabakkan matanya.


"Kenapa bisa begitu? Salah siapa mengabaikanku?" sanggah Amara.


"Aku tidak perduli, kamu harus betanggung jawab," ucap Micho sambil mendekatkan tubuhnya kearah Amara.

__ADS_1


"Mas, aku lelah," ucap Amara memelas. Ucapan itu membuat Micho terkekeh, dirinya hanya ingin menggoda istrinya yang tampak cantik itu. Amara bangun dan menyandarkan dirinya ke ranjang. Micho juga melakukan hal yang sama. Keduanya juga saling terdiam. Amara memandang lurus kedepan.


"Kenapa?" tanya Micho sambil menoleh kearah Amara. Amara menatap suaminya dan mengusap pelan pipi Micho.


"Boleh aku meminta sesuatu?" tanya Amara. Micho menoleh kemudian beringsut meletakan kepalanya dipangkuan Amara.


"Jika permintaanmu tidak membuat keributan lagi aku akan melakukanya. Kita keluar saja jika kamu menginginkan sesuatu," jawab Micho.


Amara tersenyum penuh arti dan memandang Micho dengan mesra.


"Apa yang akan kamu inginkan ? hemmm?" tanya Micho sambil menggenggam erat tangan Amara. Amara tersenyum tipis.


"Aku ingin bertemu Sabrina," ucap Amara. Seketika Micho melepas genggaman tangan Amara. Dia bangun dari pangkuan Amara, berjalan menuju ke balkon kamar. Amara memejamkan matanya, apa permintaanya aneh? Atau berlebihan?


Seketika Amara bangkit dan mengikuti langkah Micho. Keduanya berdiri di pinggiran pagar, menatap indah langit malam yang bertabur bintang.


"Tolong percaya padaku, Aku mencintaimu Nona. Tolong jangan meminta hal yang aneh. Aku dan Sabrina tidak lagi ada hubungan apapun," ucap Micho. Amara memandang Micho dengan tenang, mencoba memberikan senyuman termanisnya.


"Aku ingin meminta maaf. Tolong juga hargai permintaanku," ucap Amara. Micho terdiam, seolah mempertimbangkan permintaan istrinya.


"Yang pasti aku akan memeluk Sabrina," ucap Amara. Micho tersenyum dan menghadap ke arah Amara.


"Okey, tapi jangan lama-lama,"


"Memangnya kenapa kamu tak mau aku menyakitinya begitu?" sewot Amara.


"Aku tidak mau istriku berbagi pelukan, hanya aku yang boleh berlama memelukmu," ucapnya.


Wajah Amara merona merah, dia memandang Micho penuh cinta.


"Sejak kapan kamu pandai merayu?" Amara bertanya sambil mendongak menatap Micho.


"Sejak aku menyadari bahwa cintaku begitu dalam untukmu," ucap Micho, Amara menghela napas panjang. Micho selalu saja seperti ini, membuatnya melayang, bahagia dan nyaman. Micho mengusap pelan wajah cantik Amara. Tangan kirinya merangkul pinggang Amara.


"Gombal lagi," celetuk Amara.


"Aku serius,"

__ADS_1


"Lalu, apa kamu mau mempertemukan kami?" tanya Amara. Micho tampak memejamkan matanya. Dia teringat papa Prayoga memberikan undangan padanya tadi. Ya, Papa Prayoga di bebaskan oleh Tuan Alexander sehari yan lalu.


Micho mengambil kertas undangan di saku celananya dan memberikan kepada Amara.


Amara mengambil kertas itu dan membaca dengan teliti.


"Aqiqah? Putra Sabrina?" tanya Amara. Micho mengangguk.


"Sekarang?" tanya Amara lagi.


"Ya, papa ingin menemui 2 keponakannya," ucap Micho.


Amara memandang Micho dengan senyumannya. Mengalungkan tangannya di leher Micho. Pikiranya melayang jauh. Membayangkan pertemuanya dengan Sabrina nanti. Amara memandang lekat wajah Micho. Mengamati setiap sudut wajah Micho yang tampan itu.


"Apa aku terlalu tampan? Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Micho. Amara hanya tersenyum dan menggeleng pelan.


"Hem, kamu memang tampan sehingga mampu menarik hatiku untuk jatuh cinta denganmu," ucap Amara.


Antara percaya dan tidak, hati Micho mendadak berbunga. Ia tersenyum dan memandang Amara. Micho mengeratkan pelukan, ia menatap Amara dengan tenang.


"A-ku..." ucap Amara dengan gugup.


"Apa?" tanya Micho dengan tenang.


"Aku akan ganti baju, bukankah kita akan berangkat?" tanya Amara.


Micho mengangguk pelan. Dia maju beberapa langkah dan mengangkat dagu Amara. Memberikan sekilas ciuman mesra kemudian mencium perut datar Amara sebelum akhirnya melangkah pergi.


Amara memejamkan matanya, sentuhan itu membuatnya bahagia. Amara meletakan kedua tangannya di dada.


😍😍😍😍


Menuju End ya... terus dukung karya othor remahan ini ya. aku bahagia selalu ada kalian yang selalu dukung. Meskipun aku tidak sepemes yang lain, tapi aku bangga kalian selalu ada😍😍😍.


Mampir juga untuk dukung karya temen aku, sambil nungguin up detnya babang Micho.


__ADS_1


__ADS_2