
"Tetap berada di tempatmu, Nyonya Micho." ucap Micho dingin, yang seakan tak menghiraukan luka di tangannya.
Amara tampak panik sambil melirik ke arah lengan atas Micho yang mengeluarkan darah segar. Micho itu telah mengorbankan dirinya untuk melindungi Amara. Amara merasakan sesak. Dia teringat perkataan ayahnya siang tadi.
"Papa dan mama tidak pernah menolak atau menerima karna kamu akan dalam bahaya, sedangkan kamu jauh disana. Sekarang, kamu sudah bersuami, jika papa lengah menjagamu ada suamimu yang akan selalu berdiri disini, di sampingmu," ucap papanya sambil menunjuk arahnya sendiri.
"Micho, turunkan aku. Lihatlah lenganmu berdarah." protes Amara. Micho menatap tajam ke arah Amara.
"Apa kau tidak bisa diam? Kau pikir aku akan membiarkanmu berjalan dengan keadaan kacau seperti ini? Kau pikir disini aman untuk menurunkanmu? Bagaimana jika mereka Meluncurkan tembakan lagi?" ucap Micho tegas. Amara hanya menghela napas panjang.
Amara melirik ke arah Micho yang tampak biasa saja, tanpa mengeluh dan mengaduh meskipun lengannya terus mengeluarkan darah segar. Amara memejamkan matanya, bertanya-tanya siapa yang melakukan penembakan ini?
Micho terus saja berjalan, setelah memasukan sidik jari. Ia mendorong pintu hingga terbuka. Amara merasakan Micho sedikit gemetar. Amara melirik wajah Micho yang tampak memucat. Amara tau betul, kini Micho tengah merasakan sakit di lengannya.
Amara yang masih saja merasakan panas akibat obat perangsang itu mulai menegang, ia melompat dan berhadapan dengan Micho. Micho seakan marah melihat aksi istrinya itu. Amara bingung harus bagaimana dan harus melakukan apa.
"Micho, sebaiknya kamu kerumah sakit," ucap Amara sambil beringsut mundur. Amara memegang kepalanya dengan kedua tangannya dan duduk dilantai. Micho memejamkan matanya, dia merasakan perih di tangannya tapi dia juga tak tega melihat kondisi Amara.
Micho melepas jaketnya, dan menyobeknya. Dia mengikat lukanya kemudian Mengangkat tubuh Amara. Amara menatap Micho dengan panik. Amara takut Micho kenapa-napa.
"Micho, pergilah obati lukamu." ucap Amara.
Micho tak menjawab ucapan Amara. Ia membawa Amara ke kamar dan membaringkan Amara disana. Amara hanya pasrah. Micho adalah suaminya, dan jika Micho melakukan, ini juga bukan yang pertama. Pikir Amara.
Micho membuka baju Amara, Amara memejamkan matanya. Sesak, bahagia, sedih, kecewa, semua berkecamuk dalam hatinya. Entah bagaimana, rasanya dia ingin menuntaskan hasratnya malam ini.
Amara yang tak bisa mengontrol dirinya menarik Micho dan menyerang Micho dengan ciuman. Micho meladeni ciuman panas dari Amara. Ciuman manis yang membuat Micho gelap mata dan tak sanggup menolak, darahnya mendidih, tubuh bagian bawahnya menegang.
Micho memejamkan matanya, Amara tengah menyiksanya beberapa minggu ini, namun Micho tak sanggup jika harus memanfaatkan Amara yang saat ini dalam pengaruh obat yang diberikan orang lain untuk mencelakakannya.
Micho tak sanggup jika menikmati kondisi Amara yang tengah terpaksa, jika nanti menginginkan Micho akan memintanya baik-baik pada Amara.
Amara sudah membuang gaun yang menempel di tubuhnya, menyisakan pakaian dalam dan ****** ***** saja. Bibir mereka masih saja bertautan, hingga pada akhirnya Amara melepas ciuman panas itu.
"Micho, tolong aku, tolong aku, panas Micho." rintih Amara seakan memohon.
__ADS_1
Micho memejamkan matanya, dia bangkit dan menggendong Amara kedalam kamar Mandi. Micho menyalakan Shower dengan suhu air yang sangat dingin, seperti ritualnya setiap malam. Micho menurunkan Amara, mereka berdua berdiri dibawah guyuran dinginnya air.
Air dingin mulai membasahi tubuh Amara dan Micho. Amara yang semula merasakan panas dalam tubuhnya seakan berangsur membaik. Micho meraih Amara dalam dekapannya, mencari kehangatan di bawah guyuran air dingin. Amara melihat bawah dan melihat warna merah yang bercampur dengan Air.
Amara mendorong tubuh Micho dan melihat lengan Micho. Dirinya yang tengah merasakan dingin menatap ke arah Micho.
"Micho, kenapa menyiksa dirimu? Kamu bisa saja menolongku dengan cara lain," Amara mematikan shower dan menatap ke arah luka Micho kemudian memandang Micho yang tengah memucat.
Micho memegang kedua pipi Amara, tersenyum dan mengusap pipi Amara dengan lembut.
"Aku akan memintanya nanti, aku tidak akan menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Aku tidak mau kamu kehilangan hal yang berharga dengan terpaksa," ucap Micho. Amara merasakan kehangatan di dalam ucapan Micho. Tapi bukankan memang dirinya sudah kehilangan hal yang berharga itu 4 tahun lalu? Amara mengglengkan kepalanya.
"Tapi,"
"Arggghhh," Micho mengerang kesakitan, menghentikan ucapan Amara. Amara panik dan segera memakai jubah handuk yang ada di sana. Amara menuntun Micho keluar dari kamar mandi.
"Arghhh ,,," keluh Micho yang tampak kesakitan sambil menjatuhkan tubuh basahnya ke ranjang dengan menelungkup. Micho memiringakan tubuhnya sehingga lengan yang terluka ada di atas.
Amara tampak panik saat melihat Micho yang berteriak kesakitan.
"Micho, sebaiknya kita kerumah sakit." ucap Amara sambil memegang lengan Micho dengan panik.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Amara.
"Ambil pisau di sana," ucap Micho sambil mengarahkan telunjuknya ke arah kotak P3K. Amara dengan panik segera berlari ke arah kotak yang di tunjuk Micho. Amara membawa kotak itu dan membukanya, ada gunting, pisau dan beberapa alat bedah lainya di sana. Micho memberikan pisau pada Amara.
"Untuk apa?" tanya Amara.
"Ambil peluru ini," ucap Micho sambil membuka jaket yang tadi melilit di lukanya. Amara tampak tak percaya dengan ucapan Micho. Bagaimana bisa dia melakukan itu? bahkan dia ngeri melihat seperti ini.
"Mana bisa, sebaiknya kita panggil dokter, Micho." protes Amara
"Ini sudah malam, lagi pula di luar tak aman, lakukan saja!" ucap Micho di tengah kesakitannya. Amara menerima pisau itu.
"Aku tidak bisa, bagaimana bisa aku mengambil peluru ini?" tanya Amara. Amara hanya menatap pisau dan luka berdarah itu bergantian. Amara menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Cepat, Ra. Aku bisa mati kalau kau diam saja." ucap Micho.
Amara yang ketakutan terpaksa mengarahkan pisau itu ke lengan Micho. Kaos oblong Micho menghalangi aksinya. Amara memotong kaos basah itu dan melepasnya. Amara membuang kaos itu dari tubuh Micho, sehingga menampakkan tubuh yang atletis dan six pack milik Micho. Amara terpesona, tapi ia mencoba menghilangkan segala pikiran liar yang menjelajahi otaknya.
Setelah di rasa nyaman, Amara memandang luka tembak itu. Meski sebenarnya takut, Amara terpaksa harus membedah dan mengambil peluru itu dari tangan Micho.
"Arghhh,,," Micho mengerang kesakitan, saat Amara menggerakan pisau itu di luka Micho.
"Micho, aku tidak bisa meneruskannya. Sebaiknya kita menghubungi dokter," ucap Amara. Micho menatap Amara seakan memohon, membuat Amara tak bisa berkata apapun lagi.
Amara yang tengah bingung dan putus ada membujuk Micho akhirnya meneruskan membedah. Rasa was-was, takut, semua bercampur aduk. Amara menggerakan pisau kasana kemari, sehingga darah merembes, membuat Amara berdesir ngiku, setelah beberapa saat akhirnya Amara bisa mengeluarkan peluru itu dan bernapas lega. Mendengar rintihan Micho tadi membuatnya tak tega.
Amara membersihkan luka Micho dan memerban luka itu.
"Micho, sebaiknya kamu istirahat, coba posisi kamu di nyamankan, celana kamu basah, sebaiknya ganti dulu," ucap Amara panjang lebar tetapi tidak mendapatkan sahutan dari Micho.
"Micho, Micho." Amara merubah posisi Micho yang semula miring menjadi terlentang. Micho tampak memejamkan matanya, membuat Amara panik dan terkejut.
"Micho, bangun." ucapnya sambil menepuk pelan pipi Micho.
"Micho," ulangnya sambil menepuk pipi Micho lagi. Amara seakan lemas ketika melihat kondisi Micho. Amara memijat jempol Micho, menekan dadanya tapi tak kunjung sadar.
Amara memejamkan matanya, apa yang harus dilakukannya? sepertinya dia harus membuat napas buatan. Ya, napas buatan.
Amara memencet hidung Micho dengan tangan kanannya, tangan Kirinya mengangkat dagu Micho kemudian mendekatkan mulutnya dengan mulut Micho. Meniupkan napas pada Micho, Amara semakin khawatir saat tak ada respon dari Micho.
"Micho, bangunlah. Ini perintah dari istrimu, apa mau mati secepat ini dan membuatku menjadi janda secepat ini?" tanya Amara di tengah kepanikannya sambil mengusap air mata yang tiba-tiba keluar dari matanya.
Amara Kembali melakukan hal yang sama, memencet hidung Micho dan menghembuskan napas di mulut Micho. Amara melakukannya dengan memejamkan matanya.
Amara terkejut saat sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Hembusan napas orang lain juga menerpa wajahnya. Amara membuka mata, Micho menatapnya dengan teduh. Keduanya saling berpandangan, entah sejak kapan Micho kembali dari pingsannya. Amara melepas tangannya dari hidung Micho dan melepas tangan Micho dari pinggangnya. Tak ada satu patah katapun yang terucap, Amara duduk di pinggiran ranjang.
Micho bangun dan melingkarkan tangannya di pinggang Amara, menempatkan dagunya di pundak Amara.
"Aku bangun menuruti perintahmu, aku tidak mau mati secepat ini dan menjadikanmu janda," ucap Micho.
__ADS_1
Amara menoleh wajahnya yang semula sedih dan tegang kini menahan senyuman yang membuat wajahnya merona merah. Amara mendorong tubuh Micho sebelum akhirnya berhambur dalam pelukan Micho dan menyembunnyikan wajahnya yang merona disana.
😍😍😍😍😍😍