
Sebuah Mobil berhenti di halaman Apartemen yang megah. Amara turun dan melepaskan kacamata kemudian mengamati apartemennya. Amara tersenyum dan berjalan dengan Anggun menuju kearah kamar sambil menarik kopernya.
Beberapa saat kemudian, Amara sampai dan membuka pintu apartemennya. Dengan senyuman yang menghiasi bibirnya Amara menarik koper menuju ke kamarnya. Amara berjalan ke arah jendela dan mengamati pemandangan indah didepannya. Sebuah gedung yang menjulang tinggi yang berjejer dengan rapi.
Ponsel Amara berbunyi dan memperlihatkan nama Nada disana. Amara menghela napas panjang dan segera mengambil ponselnya, menggeser tombol hijau dan memunculkan wajah cantik Nada Aira Damayanti.
"Hai, Nada." sapanya sambil mengamati wajah cantik Nada yang tampak sendu. Nada menatap wajah cantik Amara dan mengusap Air matanya.
"Kenapa meninggalkan aku, Aku tak sanggup jauh darimu," ucap Nada dan berhasil membuat Amara melengkungkan bibirnya. Amara tersenyum tipis.
"Temani aku disini, kita sama-sama meniti karir dan melupakan masa lalu." ucap Amara. Nada menghapus air matanya dan memandang kerah Amara.
"Apa aku sanggup? Bahkan aku belum memulainya, apa aku harus meninggalkan nya?" tanya Nada yang kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Nada, Bangunlah dari mimpi burukmu. Cobalah untuk menikmati hidup. Aku yakin kamu sanggup, bukankah kamu masih belum bisa mengungkapkan perasaanmu pada Kak Rafa? lalu bagaimana dia bisa tau kalau kamu diam saja?" ucap Amara. Nada tersenyum dan memandang kearah Amara.
"Entahlah, Ra. Aku juga tidak tau bagaimana cara ku untuk memulainya. Aku takut, aku takut jika Kak Rafa akan menolakku dan membuat kerenggangan hubungan persahabatan kita." ucap Nada sambil memandang Amara.
"Apa kamu mau aku yang mengatakan pada Kak Rafa tentang perasaan mu? " tanya Amara, Nada menggeleng dengan cepat dan memelototkan matanya. Amara tertawa melihat respon dari Nada yang begitu Menggelikan.
"Lalu apa yang bisa aku lakukan?" tanya Amara sambil mengedipkan matanya, mencoba menggoda Nada yang merona wajahnya.
"Tidak usah melakukan apapun, kamu hanya perlu berdoa untuk kebahagiaan ku," ucap Nada. Amara tertawa dan menggelengkan wajahnya.
__ADS_1
"Temani aku, Nad. Tanpamu aku bukan apa-apa."
"Apaan sih, Ra. Ucapanmu itu menggelikan, pantas aja banyak yang mengira kita tidak normal, mungkin mereka mendengar ucapan Ambigumu itu," ucap Nada. Amara menghela napas panjang, mengedarkan pandangan matanya menatap kearah gedung yang menjulang tinggi. Menatap kerlip bintang yang bersinar terang di langit sana. Wajahnya tak seceria tadi, ulasan senyum yang menghiasi bibirnya entah sirna ditelan gelisah.
"Ra," Nada mencoba memanggil sahabatnya namun, tak kunjung mendengar nya.
"Ra, jangan sedih. Apa aku salah bicara? Aku hanya bercanda, memang benarkan banyak orang yang mengejarmu dan kamu abaikan? lalu, apa aku salah? " tanya Nada. Amara menggelengkan kepalanya, mengusap air mata yang tiba-tiba membasahi wajah cantiknya.
"Aku menghindari mereka karena aku menjaga harta yang paling berharga, tapi sekarang semuanya hancur, aku tidak punya tujuan selain membahagiakan papa dan mama. Hidupku hanya untuk itu," ucap Amara.
"Yang terpenting sekarang adalah menyembuhkan lukamu, membahagiakan dirimu. Aku yakin, akan ada seseorang yang tulus mencintaimu tanpa menilai kekuranganmu," ucap Nada. Amara menatap langit yang tampak bersinar meskipun tertutup mlam.
"Aku tidak layak untuk mereka, tidak ada yang bisa aku persembahkan kepadanya. Rasanya menyakitkan untuk orang yang berstatus gadis tetapi sudah tidak memiliki kehormatan," ucap Amara prustasi.
"Jangan berkata seperti itu, tidak baik Ra." ucap Nada.
"Apa banyak yang tau tentang ini?" tanya Amara. Nada menggelengkan kepalanya.
"Kami sepakat akan menjaga rahasia ini. Kamu tidak usah khawatir." ucap Nada. Amara tersenyum dan mengusap air matanya pelan.
"Terimakasih, Nada. Kamu itu memang Sahabat yang selalu tau apa mauku." ucap Amara.
😊😊😊😊😊
__ADS_1
Di Sebuah Ruangan keluarga, seorang paruh baya masih saja menangis, kepergian putri satu-satunya membuat dirinya benar-benar bersedih.
"Ma, Rara tidak akan kenapa-napa. Coba mama tenangkan diri mama. Coba untuk selalu berbaik sangka,." ucap papanya.
Rafa hanya terdiam, mencoba untuk tenang dengan keadaan mamanya. Mamanya masih saja bersedih karna kepergian Amara.
"Rafa, apa kamu tidak mau memberi tau kakak?" tanya Raka. Rafa menyesap Kopi yang ada didepannya dan menatap kakaknya dengan tenang.
"Memberi tahu apa Kak?" tanya Rafa. Raka menggelengkan kepalanya pelan.
"Jangan menutupi apapun, kakak tau ada yang kalian sembunyikan. Mau kakak cari tau sendiri, apa kamu memberi tau kakak? " tanya Raka. Rafa menghela napas panjang dan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.
Rafa yang masih Ragu enggan untuk bicara, bahkan permintaan Amara untuk menjaga rahasia itu masih saja mengiang di otaknya. Permintaan Amara untuk tidak melakukan apapun pada Micho masih saja terpatri di otaknya. Hanya Amara, adik kesayangannya yang mampu mengontrol emosinya hingga tak melakukan apapun pada Micho.
"Nanti saja aku akan menceritakan padamu, Kak. saat ini aku masih belum bisa memastikan apapun, "
"Hem, kakak akan menunggumu bercerita. Okey." ucap Raka. Rafa mengangguk dan melenggang pergi.
😊😊😊😊
Micho yang baru saja sampai di Apartemennya menatap ponselnya. Mengamati kontak yang sudah tidak bisa dihubungi.
"Sabrina, kenapa kamu tidak mau mendengar penjelasan ku? Aku sangat mencintaimu, kenapa kamu dan keluarga mu tidak mau memberi kesempatan padaku untuk bicara? aku sangat mencintaimu, Sabrina... " ucapnya lirih. Micho mengusap kasar wajahnya dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Mengingat Sabrina yang tak mau mendengar penjelasan apapun membuatnya merasakan sesak didada. Kepergian Sabrina yang entah kemana juga memberikan luka pada dirinya. Bersamaan dengan itu, ingatannya tentang Amara membuat dadanya bergemuruh panas. Micho mengepalkan tangannya dan mengeratkan rahangnya.
😊😊😊😊😊