
"Hentikan, jangan mendekat. Aku membencimu," ucap Amara. Amara berlari ke arah mobil Micho. menancap gas mobil dan meninggalkan Micho di taman itu.
"Ra, dengarkan dulu. Aku butuh waktu Ra,"
Micho berlari mencoba menghentikan laju mobil Amara, Micho menghadang mobil Amara. Namun, Amara yang tampak terpukul enggan menghentikan laju mobilnya, Micho terpaksa menghindar dari pada mati konyol tertabrak mobil Amara.
"Shitt ,,, " umpatnya sambil memukul pohon yang ada di sampingnya. Darah segar mengalir dari tangannya.
"Arrgggghh,,,"
Lagi-lagi Micho memukul pohon besar yang ada di sampingnya, menyalurkan segala kemarahannya di tengah hujan yang mengguyur.
***
Amara telah sampai di depan rumahnya, dengan cepat ia berlari menuju rumahnya. Rafa yang tengah berbicang dengan seseorang menutup ponselnya.
"Ra, bagaimana? Aku sudah menghubungi temanku untuk mengurus masalah yang tadi siang,?" ucap Rafa sambil berjalan ke arah Amara. Amara tak menghiraukan ucapan kakaknya dan melewati begitu saja.
"Ra," Rafa yang tengah khawatir menarik tangan Amara. Amara menghentikan langkahnya dan menatap Rafa. Rafa memperhatikan wajah Amara yang sembab dan basah kuyup.
"Apa yang terjadi?" tanya Rafa.
"Lepaskan Kak, jangan perdulikan Micho. Aku membencinya!" ucap Amara kemudian menarik tangannya dari genggaman Rafa. Rafa mengusap kasar wajahnya, tadi siang mereka baik-baik saja. Kenapa sekarang jadi begini?
"Ra, tunggu." Rafa mengejar langkah Amara. Namun, wanita cantik itu masuk ke dalam kamar dan mengunci kamarnya.
"Ra ,,, katakan padaku, ada apa Ra?" tanya Rafa sambil mengetok pintu.
Amara menyandarkan dirinya dipintu. Dia pun menangis sejadi-jadinya. Mengingat wajah Micho, pria yang mencuri hatinya. Pria yang kini selalu membayangi otaknya, pria yang pernah menorehkan luka dan kini telah menjadi suaminya. Entah bagaimana hancurnya perasaannya saat itu. Cinta itu masih saja bersemayam dihati nya. Namun, setelah mencoba bangkit dari keterpurukan, nyatanya fakta yang telah lalu, baru saja di ketahuinya.
Menyakitkan atau membahagiakan? Kenapa baru dia ketahui semuanya setelah perjuangan panjang yang dia lakukan? Kenapa dia baru mengetahui setelah semua kesulitan dan kesedihan dia lalui? Kenapa dia baru mengetahui semuanya setelah mengorbankan kebahagiaan orang terdekatnya? Kenapa baru mengetahui saat ini? Egois sekali Micho, Apa salahku???
Amara merosot dan memeluk lututnya. Hatinya merasa hancur, tapi juga bahagia. Saat ini dia hanya bisa menangis, menangisi luka lama yang bersemi kembali. Menangis karna harus bersedih atau mungkin malah tangis bahagia.
"Ra, buka." suara Rafa masih terdengar. Namun, Amara masih saja enggan untuk membuka.
"Ada apa Rafa?"
__ADS_1
Mama Hana dan papa Rusdi datang menemui Rafa yang tengah berteriak.
"Aku juga tidak tau, Ma. Amara tidak mau mengatakan, dia datang dan langsung saja masuk ke kamar," ucap Rafa. Mama Hana dan papa Rusdi tampak berpandangan.
"Ra, buka pintunya, Nak. Ada apa, Nak? Bisa kamu ceritakan sayang?" tanya Mama Hana. Amara mengusap air matanya dan berdiri.
"Amara baik-baik saja, Ma. Amara mau Istirahat," ucap Amara. Mama Hana menatap ke arah Rafa dan papa.
"Ya sudah, istirahatlah." ucap mama Hana.
"Lebih baik kita tinggalkan Amara, tampaknya dia butuh waktu. Ada hal yang dia sembunyikan," ucap papa Rusdi. Mama Hana dan Rafa mengangguk. Mereka berjalan ke arah ruang tamu.
Tak berapa lama kemudian, terdengar suara mobil berhenti, Rafa segera melihat siapa yang datang. Rafa melihat Micho dan juga Damar yang tampak berjalan dengan tergesa. Rafa berjalan ke arah Micho dengan segala amarah. Rafa yang dari dulu memang tak suka melihat Amara menangis tampak tersulut emosi.
"Apa yang terjadi pada Amara?" tanya Rafa sambil mengamati tubuh Micho yang basah kuyup.
"Dimana Amara?" tanya Micho.
"Kau apakan adikku? Harus bagaimana aku bilang padamu untuk tidak menyakitinya?" tanya Rafa sambil memegang kerah Micho.
"Jangan harap," bentak bentak Rafa. Damar hanya bisa menatap ke arah 2 manusia yang kini sedang emosi itu.
"Lepaskan!!! " bentak Micho. Rafa yang sedang emosi memberikan bogem mentah pada Micho. Micho menatap tajam ke arah Rafa. Keduanya saling menatap, beberapa hari yang lalu hubungan keduanya tampak membaik. Dan kini tampaknya mereka sama-sama dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
"Aku mau menemui istriku,"
"Jangan harap bisa menemuinya, apa yang kau lakukan sehingga membuatnya memangis? Hah?! " Rafa lagi-lagi memberikan bogem mentah. Micho diam tak membalas, yang ingin dia lakukan Hanya bertemu dengan Amara.
"Rafa, apa Yang kamu lakukan?" Papa Rusdi berjalan mendekat. Mama Hana tampak terkejut melihat kedua putranya tampak berkelahi. Rafa melepaskan kerah Micho, Micho mengusap mulutnya yang berdarah.
"Apa yang kalian lakukan? Jangan pakai kekerasan, Rafa. Semuanya bisa kita bicarakan baik-baik!" bentak Papa Rusdi. Mama Hana hanya terdiam melihat pemandangan di depannya.
"Aku ingin bertemu Amara, Pa. Tapi Tuan Rafa tampaknya tidak suka dengan kedatanganku," ucap Micho sambil menatap ke arah kedua mertuanya berada.
"Jaga bicaramu, Tuan Micho Aditya Pratama!" ucap Rafa, dia menarik kembali kerah baju Micho.
"Singkirkan tanganmu, Tuan Rafa yang terhormat. Aku kesini bukan untuk membuang waktu berkelahi denganmu," bentak Micho.
__ADS_1
"Aku tidak akan menyingkir jika kau hanya mau menyakitinya," bentak Rafa.
"Dia istriku, aku bebas melakukan apapun!" timpal Micho. Rafa mengeratkan rahangnya.
"Aku tidak akan membiarkan adikku menangis karna ulahmu," ucap Rafa. Rafa memberikan beberapa pukulan dan tendangan yang berhasil di tepis oleh Micho. Perkelahian mereka begitu tegang, papa Rusdi tampak menggelengkan kepalanya. Damar yang mencoba melerai malah mendapat serangan dari keduanya.
Amara yang mendengar keributan tampak terkejut, dari jendela kamarnya ia biasa melihat dengannya jelas perkelahian antara Damar, Rafa dan Micho. Amara menggelengkan kepalanya. Ketiga orang itu selalu saja menggunakan otot. Amara berlari keluar dan menghampiri mereka.
"Berhenti!!!"
Suara itu terdengar nyaring, Micho dan Rafa saling menatap dan melepaskan cengkeraman. Micho mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Rafa juga melakukan hal yang sama.
"Kenapa kalian seperti anak kecil? Kalian pikir ini jalan terbaik untuk memecahkan masalah?" bentak Amara. Micho, Rafa dan Damar hanya terdiam. Micho mendekat ke arah Amara dan menatap wajah cantik Amara. Amara menahan gejolak rasa yang membuncah di hatinya. Sakit rasanya saat melihat Micho yang kacau dan penuh luka di wajah dan tangannya.
"Ra, dengarkan aku. Aku mohon," ucapnya. Amara memejamkan matanya. Dia menggelengkan kepalanya.
"Apa Maumu?" tanya Micho. Amara menghela nafas panjang.
"Aku butuh waktu untuk sendiri, Mas."ucap Amara. Micho merasakan sesak di hatinya. Hanya Amara yang mampu menenangkannya. Lalu, bagaimana bisa dia melalui hari tanpa Amara di dekatnya?
"Ra, aku tidak bisa. Aku akan menjelaskan semua padamu, beri Aku waktu." ucap Micho tampak memohon.
"Aku hanya butuh waktu untuk menerima semuanya, kamu tau mas? Semuanya begitu tiba-tiba. Dan aku tidak bisa untuk menjabarkan bagaimana perasaanku," ucap Amara sambil mengusap air mmatanya
"Ra, aku butuh kamu." ucap Micho sambil memegang kedua pundak Amara. Amara menggelengkan kepalanya.
"Jangan paksa aku, untuk ini. Bukankah kita hanya berteman? Pergilah, jangan menampampakan wajahmu sampai waktu menyembuhkan lukaku," ucap Amara kemudian memutar tubuhnya dan melangkah pergi. Mama Hana yang tak bisa menangkap arti pembicaraan mereka mengejar Amara. Rafa tampak mengeratkan tangannya. Papa Rusdi mendekat ke arah Micho dan menepuk pundaknya.
"Bersabarlah, Rara butuh waktu. Papa yakin, apapun yang terjadi di antara kalian akan Ada Jalan keluarnya. Semua bisa kita bicarakan nanti," ucap Papa Rusdi. Micho mengangguk pelan.
"Rafa, papa harap kamu memberi privasi untuk Amara dan Micho. Jangan ikut campur urusan rumah tangga mereka, apalagi bertindak bodoh dengan berkelahi. Sekarang mulailah berfikir untuk urusanmu sendiri, kapan kamu akan membawa mantu untuk papa dan mama." ucap papa Rusdi kemudian melangkah pergi. Micho dan Damar tampak berpandangan. Seulas senyum terbit di sudut bibir Micho. Micho melirik ke arah Rafa yang kebetulan juga meliriknya.
"Apa?" sewot Rafa.
"Jangan mengurus rumah tanggaku, urusanmu hanya mencari jodoh." ucap Micho kemudian melenggang pergi diikuti Damar. Rafa mengeratkan rahangnya dan mengepalkan tangannya.
😂😂😂😂😂😂
__ADS_1