Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
94


__ADS_3

Amara membuka jendela kamarnya. Ia melihat Micho yang merebahkan tubuhnya di bawah pohon. Amara lagi-lagi merasakan sesak di dadanya. Amara memutar langkahnya dan berlari menuruni anak tangga.


Amara menghentikan langkahnya, netranya melirik kearah foto pernikahan yang terpampang di dinding ruang keluarga. Amara mengusap pelan foto yang menampakan wajah tampan suaminya. Suami yang beberapa hari ini membuatnya berdebar saat didekatnya. Membuatnya tertawa bahagia saat menggodanya dan membuat sebal saat menjahilinya.


Amara mengedarkan pandangannya merasa sepi tanpa adanya Micho. Hatinya berdesir ngilu. Sesak tiba-tiba, Amara memejamkan matanya.


"Aku mencintaimu," ucapnya pelan, mencoba mengeluarkan unek-unek yang menyesakkan dadanya. Amara menghela napas kemudian mengeluarkan pelan. Dengan langkah seribu Amara bergegas keluar dari rumah megah itu.


Rafa yang sejak tadi begadang di pojok ruangan mengamati langkah Amara. Rafa hanya diam, sebenarnya dia sudah bisa membaca gelagat Amara dan juga Micho yang sama-sama saling memiliki perasaan. Namun, melihat Amara menangis selalu membuatnya emosi dan tidak bisa mengendalikan dirinya.


Amara berjalan keluar, berlari ke arah pohon besar dimana Micho berada tadi. Namun dadanya terasa sesak ketika tak mendapati Micho di sana. Amara mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan manusia yang bisa membuat dirinya nyaman itu.


"Mas Micho kamu dimana?" lirihnya. Amara mencoba mengedarkan pandanganya kembali. Micho sudah tak ada ditempat itu. Amara merosot kebawah, tak kuat menahan sesak dan lemas di kakinya.


Micho telah pergi meninggalkannya, air matanya mengalir deras. Amara memejamkan matanya, menghela nafas panjang. Dadanya semakin sesak menerima kenyataan yang begitu menguras pikiranya. Air matanya benar-benar tak terbendung.Tadi dia masih melihat laki-laki itu disini. Dan sekarang tidak ada wajudnya.


"Ra," Amara mengusap air matanya. Berharap suara yang memanggilnya adalah Micho. Amara menoleh. Rafa, yang dilihatnya adalah kakak tercintanya. Rafa menarik Amara untuk bangkit. Amara menyambut uluran tangan kakaknya, Rafa menarik Amara dalam pelukan hangatnya.


"Sudah malam, sebaiknya kamu masuk. Angin malam tak bagus untukmu, lihatlah bajumu basah kuyup sejak tadi. Kamu bisa masuk angin," ucap Rafa. Amara melepaskan pelukan Rafa dan mengedarkan pandangannya lagi.


"Jangan memikirkannya, besok kita mencoba mencarinya." ucap Rafa. Amara mengangguk pelan meskipun sebenarnya ia tak mau kembali tanpa Micho, keduanya melangkah menuju ke rumah.


Apa sesakit ini? Memiliki perasaan yang sama, namun takdir tak pernah berdamai dengan keadaan. Ini begitu menyakitkan, tapi aku sudah terbiasa dengan itu. Mas Micho, jika pada akhirnya kamu memilih pergi alangkah baiknya jika kamu tak pernah hadir dalam hidupku. batin Amara.


Amara membuka pintu kamarnya, menyandarkan tubuhnya di pintu. Amara memejamkan matanya, menahan segala gejolak yang mendera hatinya. Lagi-lagi bayangan Micho menghantui pikirannya.


"Apa kamu mencariku, Nona Amara?"


Deg


Jantung Amara bergetar hebat, suara itu begitu mengusik hatinya. Nyata apa hanya halu saja? Lagi-lagi jantung Amara berdetak tak beraturan setelah mendengar suara yang dia rindukan. Amara membuka matanya, mencoba memastikan pendengarannya. Yang benar saja, Micho ada di hadapannya. Menyunggingkan senyuman yang membuat Amara tampak haru dan meneteskan air mata.

__ADS_1


"Mas ... "ucap Amara. Micho menatap teduh 2 bola mata nan indah di depannya. mengamati ciptaan Tuhan yang nyaris sempurna itu.


"Hemmm ..." Micho mendekat ke arah Amara, merentangkan ke dua tangannya. Amara mengamati wajah Micho yang tampak lebam karna pukulan Rafa.


"Aku merindukanmu," ucap Micho. Amara tampak terkejut, Micho mengucapkan kata rindu yang sakral bagi Micho dan itu membuat air mata Amara kembali menetes. Amara tak bisa menahan lagi gejolak di dadanya. Amara berhambur ke pelukan Micho, bahkan dia juga sangat merindukan suaminya itu.


Beberapa jam berpisah membuat keduanya harus merasakan sakit dan harus menahan sesak. Amara mencari kenyamanan di dada bidang Micho. Sedangkan Micho mengecup puncak kepala Amara beberapa kali. Menyalurkan kerinduan yang mendera batinnya.


"Maafkan aku, aku menyakitimu selama ini. Membiarkanmu hidup dalam ketakutan dan ketidaknyamanan, maafkan aku. Ra," ucap Micho. Amara berdiri dan melepas pelukan dari Micho, ia mendongak dan menatap ke arah Micho. Amara meletakan telunjuknya di bibir Micho, membuat Micho tampak mengurungkan niatnya untuk bicara. Micho menggenggam tangan Amara, mencari ketenangan disana.


"Ini bukan hanya salahmu, ini salahku juga. Salah kita yang yang sama-sama memikirkan diri sendiri." ucap Amara. Micho tersenyum, tapi dia juga menangis. Ucapan Amara benar-benar membuatnya terharu, bahkan Sabrina tidak pernah memberikan kenyamanan yang sama seperti apa yang Amara berikan. Micho mencium tangan Amara beberapa kali, menyalurkan kerinduan pada wanita cantik yang pernah mengibarkan bendera perang padanya. Wanita cantik yang menjadi murahan ketika di depannya.


Micho Menatap wajah istinya yang masih saja menangis. Micho mengusap air mata Amara dan kembali merengkuh Amara dalam dekapannya.


"Jangan menangis lagi, aku tidak akan pernah pergi darimu. Kau tau, aku sadar bahwa aku sangat mencintaimu, Sayang," ucap Micho. Amara memejamkan matanya. Baginya ini seperti mimpi, bagaimana bisa Micho adytia Pratama yang angkuh itu menyatakan perasaanya? Amara terdiam dalam pelukan hangat Micho.


"Apa kamu yakin, Mas?" tanya Amara di dalam dekapan Micho.


"Jangan mendongak seperti itu. Apa kamu berniat menggodaku dengan menampakkan leher jenjangmu itu, hem?" ketus Micho yang berhasil membuat Amara tersenyum di tengah isak tangisnya.


"Mas, Micho." ucapnya lirih. Micho mengusap sisa air mata Amara dan memandang wajah cantik Amara. Keduanya saling menatap.


"Apa yang perlu aku lakukan supaya kamu percaya? Aku mungkin tidak bisa memberikan perusahaan beserta cabangnya saat ini, karna kondisi perusahaan sangat mengkhawatirkan." ucap Micho. Amara menggelengkan kepalanya.


"Selesaikan masalalumu, setelah itu aku akan percaya jika kamu benar-benar mencintaiku," ucap Amara.


"Aku akan melakukannya untukmu," ucap Micho. Amara tersenyum dan mengusap sudut bibir Micho yang tampak berdarah.


"Aduh," rintihnya. Amara tampak khawatir dan mengambil kotak p3k di sudut kamarnya.


"Mau mandi dulu atau aku obati dulu, Mas?" tanya Amara sambil duduk di sofa di samping Micho duduk.

__ADS_1


"Apa kamu berharap aku mandi?" tanya Micho. Amara menatap Micho yang tampak menatap dengan tatapan aneh.


"Bukankah mandi malam adalah kebiasaanmu, mas?" tanya Amara. Micho mengusap kasar wajahnya. Dia mandi malam untuk menahan hasrat. Lalu, apa gunanya sekarang? Bukankah mereka suami istri yang saling mencintai? Apa iya begitu? bukankah Amara belum mengungkapkan isi hatinya? Micho tersenyum kecut.


"Aku mandi dulu," ucapnya. Amara mengangguk. Dia bergegas ganti baju dan menyisir rambutnya.


Beberapa saat kemudian pintu kamar mandi terbuka, Amara yang melihat Micho hanya menggunakan handuk yang melingkar ditubuhnya langsung waspada. Ia tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh sepasang pengantin baru saat baru saja menikah. Apalagi Micho telah mengungkapkan perasaannya.


“Kamu kenapa, Ra?” tanya Micho saat melihat Amara menutup seluruh tubuhnya dengan bed cover.


"Tidak apa-apa, Mas” jawab Amara ketus. Ia bahkan gemetar karena takut Micho akan menyentuhnya dengan mendadak.


Melihat sikap kekanakkan istri cantiknya itu, Micho tersenyum. Ia merasa Amara sangat lucu dan menggemaskan. Sehingga ia pun mendekat ke arah Amara.


Micho duduk di samping Amara dan menyibak bed cover hingga Amara terperanjat kaget.


“Kenapa berselimut rapat sekali, Ra?” tanya Micho. Amara mengerutkan alisnya.


"Mas! Ngapain dibuka? Aku kedinginan,” keluh Amara.


“Ngapain? Kamu lupa kita sudah menikah? Bukankah kita tidak hanya teman? Kita suami istri, Ra!” ucap Micho.


Deg!


“Jangan bilang kamu mau macem-macem, Mas!” ancam Amara. Amara menggengam erat bed cover. Micho menyeringai tipis.


"Macem-macem apa? Kamu lupa aku suamimu? Aku bebas melakukan apa pun terhadap kamu,” ucap Micho sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Amara.


Amara tampak panik. Jantungnya berdebar hebat saat wajah Micho semakin mendekat.


“Tolong layani aku, Ra” pinta Micho.

__ADS_1


😂😂😂😂😂😂


__ADS_2