
Radit menarik tangan Nada hingga mereka saling berhadapan dengan sorot mata yang tajam. Nada merasa takut dengan orang didepannya yang mencengkram erat tangannya.
"Lepaskan," ucap Nada sambil menarik erat tangannya. Radit menggeleng dan melempar cek yang ada ditangannya.
"Kau pikir uangmu bisa menyelesaikan persoalan? Jangan sombong, Nona. Tidak semua bisa di selesaikan dengan uang!" ucap Radit. Nada menghela napas kasar.
"Kau pikir kau cantik sehingga mengira Aku mengajakmu bermalam? Jangan mimpi, banyak wanita diluaran sana yang jauh lebih cantik dari wajahmu itu," ucap Radit kemudian menghempaskan tangan Nada. Nada merasa nyeri yang amat luar biasa.
"Shiitt," umpat Nada. Radit mengambil cek diatas meja dan merobek cek di depan wajah Nada. Meremas cek itu dan membuang ke tempat sampah di sampingnya.
"Itu tempat yang patut untuk untuk sampah yang berserakan," ucap Radit kemudian melenggang pergi. Nada menatap punggung Radit yang menjauh dari tempatnya.
Nada menghela napas panjang dan pergi dari tempat itu.
****
Amara, Papa dan juga Mama Hana sedang menikmati suasana malam. Mereka bercengkrama melepas rindu. Rafa keluar bersamaan Nada, Raka dan Anin telah pulang beberapa jam yang lalu. Besok Mama Hana sudah di perbolehkan pulang, ini adalah hal yang membahagiakan bagi Amara.
"Asalamualaikum," suara itu membuat ke tiga orang yang sedang Asik bercengkrama menoleh, Amara melihat Micho berdiri didepan pintu, dengan kemeja warna navy dan celana senada. Wajah itu tampak segar dan tampan. Micho juga membawa parsel buah di tangannya.
Micho berjalan kearah mertuanya kemudian meletakkan beberapa parsel di meja. Micho mencium tangan papanya, mamanya dan kemudian mengusap puncak kepala Amara dan memberikan kecupan hangat di puncak kepala Amara.
Amara merasakan detak jantung yang tak beraturan. Wajah Amara berubah pucat, dia memalingkan wajahnya dengan cepat. Kebenciannya kian menjadi pada lelaki yang kini menjadi suaminya itu karna surat perjanjian yang merugikannya. Setidaknya, jika suatu saat nanti dia harus berpisah. Dia sudah pernah menikah, sehingga jika suatu saat nanti menikah lagi dia tidak mengecewakan suaminya karna statusnya bukan lagi seorang gadis.
Micho melepas ciumannya dari kening Amara, Ada perasaan aneh yang menjalar dihatinya. Micho menatap Amara dengan ekspresi wajah yang datar.
"Mama sudah baikan?" tanya Micho kemudian duduk di dekat Amara.
"Mama sudah baikan, mama senang sekali pada akhirnya Rara mempunyai pendamping, siapa namamu?" tanya Mama Hana pada Micho.
"Iya, siapa namamu? Bahkan papa juga belum tau," ucap Papa Rudi sambil tertawa.
"Micho," ucap Micho sambil tersenyum.
"Jadi, apa kalian sudah kenal sebelumnya?" tanya Mama Hana. Micho mengangguk pelan.
"Tante Elysa dan Om Herman yang mempertemukan kami." ucap Micho sekenannya. Amara melirik ke arah Micho. Dia takut Micho melakukan sesuatu yang akan menyinggung mamanya.
"Elysa?" tanya mama Hana antusias. Micho mengangguk lagi.
"Lebih tepatnya mempertemukan setelah sekian lama kami berpisah," Tegas Micho. Mama Hana tersenyum dan menatap Amara. Papa Rudi menyimak ucapan menantunya itu.
__ADS_1
"Jadi kalian sudah kenal sebelumnya?" tanya Mama Hana lagi. Amara melirik Micho yang menyeringai tipis.
"Ma, sebaiknya mama istirahat. Besok mama harus pulang, jadi sekarang harus istirahat ya, lain waktu mengobrol lagi sama Micho," ucap Amara menyela ucapan Micho.
"Micho?" tanya Mamanya. Amara memengangguk.
"Rara, alangkah baiknya kamu memanggil suamimu lebih sopan, Mas misalnya." ucap Mama Hana sambil mengusap kepala Amara.
Amara tampak terkejut. Kini dia melirik ke arah Micho yang tampak senang karna pembelaan mamanya. Amara tersenyum canggung.
"Kau, pandai sekali mengambil hati mama." batin Amara.
"Ya sudah, lebih baik kalian pulang. Ini adalah malam pertama kalian. Papa dan Mama tidak mau mengganggu malam kalian," ucap Papa Rudi sambil tersenyum. Mama Hana tertawa dan menggenggam erat tangan Papa Rudi.
"Mereka serasi sekali, seperti kita waktu muda saja, Pa." ucap mamanya.
"Maka dari itu, karna kita pernah muda. Lebih baik kita membiarkan pengantin baru menikmati malam pertamanya." ucap Papa.
Amara tampak tersenyum canggung, sedangkan Micho merasa muak dengan sandiwara yang di mainkannya.
"Ya sudah, sebaiknya kalian pulang," ucap papanya.
"Maaf ma, pa. Malam ini saya izin untuk membawa Amara pulang ke rumah saya." ucap Micho sopan. Mama dan papa tersenyum.
Micho merangkul pundak Amara dan memperlihatkan kemesraan. Membuat Amara muak sekali.
"Pandai sekali memainkan drama," gerutu Amara dalam hati.
"Wahh, mama ikut senang kalau begini. Iya, mama dan papa mengizinkan. Bawalah istrimu ke rumahmu, Nak Micho." ucap papa sambil menepuk pundak Micho pelan.
Amara memejamkan matanya? Kerumah Micho, padahal dia pulang untuk pulang ke rumah orang tuanya, kenapa ini malam pulang ke rumah Micho? Amara menghela napas kasar.
"Kalau begitu kami pulang dulu, ma, pa." pamit Micho pada ke dua mertuanya. Papa Rudi mengantar menantu bersama putrinya sampai di depan pintu dan menatap punggung mereka yang menjauh dari pandangannya.
***
Amara dan Micho hanya diam. Kini mereka berjalan ke arah parkiran depan. Mereka melangkah menuju ke arah mobil mewah warna silver di pojok sana.
Micho membuka pintu mobil sedangkan Amara masih berdiri di sebrang.
"Mau berdiri disitu terus?" tanya Micho agak sinis. Amara segera membuka pintu mobil dan duduk di jok belakang. Micho juga masuk, mereka duduk bersebelahan.
__ADS_1
"Jalan Dit," ucap Micho.
Radit mengangguk dan melirik ke arah sepion, namun dia tidak dapat melihat jelas wajah istri dari kakaknya yang membuat penasaran itu.
"Baik, Kak." ucapnya. Amara seperti mengenal suara itu, namun ia enggan mencari tau. Amara memalingkan wajahnya ke luar jendela.
Radit mengarahkan mobilnya menuju ke jalan menuju rumah Micho. Amara melirik ke arah Micho yang tampak sibuk dengan ponselnya. Amara kembali memalingkan wajahnya berusaha untuk tidak perduli pada Micho disampingnya. Micho melirik Amara yang seakan mengabaikannya. Micho mendengus dan menatap ke luar jendela.
Sebentar kemudian, ada gelagat aneh yang ditunjukan Radit. Radit menancap gas dan menambah kecepatan laju mobilnya. Ditengah fokusnya menyetir, dia mengeluarkan alat komunikasi dan mencoba menghubungi Damar. Micho tampak santai, ia melirik Amara yang mulai takut dan memejamkan matanya.
"Ini ada apa? Pak supir, kenapa kencang sekali?" teriak Amara.
"Maaf kakak ipar, tidak ada apa-apa. Lebih baik kakak ipar berpegangan yang kuat, " ucap Radit.
"Turunkan kecepatanya, atau turunkan aku saja." ucap Amara sambil memegang kuat jok depannya.
Micho menatap Amara yang semakin takut,
Micho mengakiri panggilannya dan memasukan ponsel di sakunya.
"Geser kesini," ucap Micho sambil menepuk tempat kosong di sampingnya. Amara hanya diam. Rasa gengsinya mengalahkan ketakutan pada dirinya.
"Aku bilang geser, dengar apa tidak?" ucap Micho sedikit membentak.
"Tidak, Aku disini saja." tolak Amara dengan wajah pucatnya.
"Kau itu keras kepala sekali, apa kau mau aku bermain kasar,?" bentak Micho. Amara terdiam, ia berpegangan kuat saat Radit kembali menambah kecepatannya.
Amara merasa ketakutan yang sangat, ia terpaksa membuka sabuk pengamannya. Dengan gerakan cepat Micho menarik Amara yang ketakutan kedalam rengkuhannya. Mereka saling menatap. Kini Amara ada di pangkuan Micho, dengan reflek tangan Amara mengalung di leher Micho.
"Lebih cepat lebih baik, belok kanan putar balik, kita cari jalur lain. Hindari saja preman Jalanan itu, aku tidak punya waktu untuk meladeni mereka." ucap Micho dengan pandangan yang masih tertuju pada wajah cantik istrinya.
"Okey kak," ucap Radit kemudian membelah keramaian dan berhasil keluar dari kejaran preman jalanan.
Mereka telah sampai ke rumah, malam begitu larut. Amara tertidur di pangkuan Micho, Micho mengamati wajah yang kini mencari kenyamanan di dadanya.
"Perlu bantuan Kak?" tanya Radit. Radit mencoba melihat wajah istri kakaknya namun tak bisa karna tertutup rambut.
"Buka pintu mobil, aku akan mengangkatnya," ucap Micho. Radit turun dan membuka pintu. Micho keluar dan berjalan menuju ke kamar pribadinya.
🤭🤭🤭🤭🤭
__ADS_1