Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
Papa


__ADS_3

"Kamu tenang saja, aku baik-baik saja. Ada seseorang yang membantuku," ucapnya sambil menyuapkan bubur ke mulutnya.


"Bagaimana aku tidak kawatir, lihat lenganmu sampai di jahit gitu. Aku khawatir, Ra!" Nada mendengus kesal dan menampakkan wajah sebalnya. Amara meletakkan mangkoknya dan menatap Nada dengan senyuman termanisnya.


"Bagaimana bisa aku ditinggalkan sama kamu nantinya, kamu terlalu berharga buat aku. Lihat kau itu tampak seperti kakak yang selalu mengkhawatirkan adiknya. Terimakasih, Nada. Kamu yang terbaik," Amara menatap Nada sambil merangkul pundak. Menyadarkan kepalanya di bahu Nada.


"Hei, kenapa selalu seperti ini, kau itu sahabatku. Jangan seperti ini, Aku mengkhawatirkanmu begitu juga dengan kak Arfan," Nada berbicara panjang lebar. Sesaat kemudian ponsel Nada berbunyi, kontak Tante Hana tertera disana. Beberapa jam yang lalu, Nada menghubungi Mama Amara dan memberi kabar tentang musical yang dialami Amara.


"Hallo, Asalamualaikum tante,"


"Walaiikumsalam, Sayang. Bagaimana keadaan Amara sekarang? Boleh tante bicara?" tanya Mama Hana terdengar sedikit terisyak. Nada memandang Amara kemudian memberikan ponselnya pada Sahabatnya itu.


"Hallo ma, Asalamualaikum," sapa Amara sopan. Selalu begini, setiap kali mendengar suara wanita 60 tahun itu Amara selalu menangis. Air mata mengalir deras di pelupuk matanya. Rasa rindu menggebu seakan meremas hatinya. Mama yang sudah tua belum pernah dia bahagiakan, permintaan untuk melihat anaknya di pelaminan seakan menjadi sebuah permintaan yang berat baginya.


"Sayang, bagaimana keadaanmu? Kami semua mengkhawatirkanmu, apa boleh kami kenapa Nak?" tanya Mama Hana di sela isak tangisnya.


Amara menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya. 4 tahun berlalu, dia tau betul bagaimana rindu seorang ibu menggerogoti hati ibunya. Amara diam, terdengar sedikit keributan entah apa yang terjadi pada Mama Hana.


"Hallo Ma, Ma... Halo ma," suara Amara berteriak namun tak ada sahutan.


Sedangkan di mansion Rusdiantoro, Raka dan Anin yang baru datang segera berjalan cepat menuju kamar mamanya. Kerinduan pada putrinya membuat mereka datang menjenguk. Mereka khawatir saat asisten rumah tangga mengatakan bahagia Mama Hana tak sadarkan diri.


"Ma," mereka mendekat ke arah Mama Hana dan segera mendekati mamanya. Sesaat kemudian Raka melirik ponsel mamanya yang masih tergeletak di lantai dan masih saja panggilannya berdetik.


"Hallo Ra," suara isakan tangis Amara terdengar di telinga Raka.

__ADS_1


"Halo kak, bagaimana keadaan Mama. Mama kenapa kak?" tanya Amara. Raka yang tampak emosi dan juga khawatir melirik ke arah mamanya kemudian memejamkan matanya.


"Pulang! Kakak tidak menerima alasan apapun! Kamu sayang mama atau sayang pada egomu sendiri? Kakak sudah bersabar selama 4 tahun ini melihat mama menderita karna merindukanmu, mama juga selalu menangis di setiap malam. Pulang besok! Kakak tidak rela mama menangis karna keegoisan kamu!" cerca Raka kemudian mematikan ponselnya.


Raka meletakkan ponsel mamanya di meja kemudian mendekati mamanya yang telah di periksa dokter beberapa menit yang lalu. Papa dan juga Rafa berdatangan, mereka baru saja melakukan meeting di beberapa tempat. Tuan Rusdiantoro yang biasanya di rumah harus ikut pergi bertemu dengan beberapa tamu penting perusahaan.


"Bagaimana keadaan mama, Raka?" tanya papa nya tampak khawatir. Raka mencoba tersenyum walaupun hatinya bergemuruh marah. Dirinya yang dari dulu sudah mengira ada sesuatu dengan Amara tak lagi bisa memendam amarahnya. Amara, adik tercintanya itu selalu saja enggan menceritakan apa yang dialaminya. Rafa? bahkan adik yang baginya sangat keras kepala itu, akan selalu melakukan apa yang diminta Amara.


"Mama baik-baik saja, pa. Dokter bilang mama hanya lemas karna dari kemarin tidak makan," ucap Raka. Tuan Rudi memejamkan matanya. Amara, putrinya itu sudah membuat kekawatiran yang sangat menyiksa keluarganya.


"Rafa, Raka. Papa tidak ada toleransi lagi. Kirim beberapa orang dan seret adik kesayangan kalian untuk pulang sekarang juga," ucap Papa. Rafa dan Raka saling memandang.


"Tapi pa," ucap keduanya bersamaan.


"Pa, Amara sakit, biarkan dia mendapat perawatan untuk malam ini, Aku sudah meminta Amara pulang besok." ucap Raka panjang lebar.


Tuan Rudi tampak menghela napas, kesehatan istrinya yang dipertaruhkan, dia tidak bisa membiarkan ini berlarut.


"Satu minggu untuk Amara sampai disini, kalian katakan pada adikmu itu." ucap Tuan Rudi kemudian melangkah pergi. Tuan Rudi memandang langit luas, selama ini tidak pernah menghubungi putrinya bukan karena apapun. Rasa rindu yang menggerogoti hatinya membuatnya sakit. Bahkan rasa sakit itu dia sembunyikan dari siap saja.


Amara putri kesayangan yang memilih pergi 4 tahun yang lalu membuat dirinya tergoncang. Keputusan yang dibuat sepihak itu melukai hatinya. Kepergian Amara memberikan beberapa kejanggalan sehingga membuat dirinya mencari informasi yang mengakibatkan Amara pergi.


Beberapa hari kemudian, tuan Rudi mendapatkan apa yang dia mau. Sebuah Kesalah pahaman yang membuat dirinya bangga pada putrinya. Baginya Amara melakukan pertanggungjawaban yang hebat. Bagaimana tidak, Amara yang merasa telah mengecewakan keluarganya menghukum dirinya sendiri dan mencoba tegar menghadapi kehidupannya yang berat tanpa mereka M


meskipun alasan itu tidak diutarakan Amara.

__ADS_1


Dengan keadaan Amara yang seperti itu membuat Tuan Rudi yakin Amara akan Aman. Dirinya yang merasa sudah tidak suci lagi sangat menjaga diri dari buaya darat yang berkeliaran di luaran sana.


Tuan Rudi sengaja membiarkan ini untuk menjaga putrinya. Dia tidak yakin Amara akan menjaga diri dengan baik jika mengatakan pada putrinya itu dia selamat dari pemerkosaan yang hampir terjadi. Sekarang baginya penderitaan Amara sudah cukup, dia ingin Amara kembali. Dia bangga sekarang putrinya telah sukses membangun usahanya tanpa sedikitpun bantuan darinya.


"Papa bangga padamu, bahkan kamu menjaga diri sendiri dengan baik karna trauma masa lalu. Ma'af papa membiarkanmu menderita berpisah dari kami," ucapnya lirih.


"Micho Aditya Pratama." gumamnya.


****


Amara menangis sesenggukan. Ucapan kakaknya bagai pisau yang tajam menancap di hatinya bahkan rasa sakit di lengannya sekarang tak sebanding dengan sedih hatinya. Kini Nada mencoba menenangkan Amara.


"Nad, aku harus pulang." ucap Amara, Nada mengangguk pelan.


"Iya, tapi tidak saat ini. Bersabarlah, pasti mama baik-baik saja, mama orang yang kuat." ucap Nada.


Amara menghela napas panjang. Bahkan bayangan papa selalu mengiang diotaknya. Rasa rindu juga menggerogoti hatinya. Papa yang dulu sangat perhatian padanya sekarang tak mau menghubunginya. Papa kecewa padaku? pikirnya.


Amara mengusap air mata yang meleleh di pipinya dengan pelan kemudian Amara bangkit dari ranjangnya dan membuka pintu ruang rawat. Amara mengendap keluar, sekarang yang ingin dia lakukan adalah pergi. Nada, sahabatnya itu pasti melarangnya. Amara melangkah pelan saat Nada pamit untuk kemudian toilet.


"Mau kemana kamu?" suara itu membuat Amara memejamkan matanya. Amara terdiam dan berdiri ditempat.


****


Haiii... selamat membaca.... 😍😍😍😍 like komen dan vote ya. .. 🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2