Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
Menjemput mama


__ADS_3

"Bodo amat, mau apa juga aku nggak perduli," ucap Amara kemudian melangkah ke kamarnya.


Amara meraih ponselnya dan menghubungi Nada. Semalam dia tidak lagi bertemu Nada setelah Nada memutuskan untuk pergi bersama Kak Rafa.


"Halo Ra, ada apa?" tanya Nada di sebrang. Amara menghela napas panjang dan mengeluarkan pelan.


"Aku mau ke rumah sakit menjemput mama, mau ikut??" tanya Amara. Nada tampak malas sekali, hatinya dirundung duka gara-gara pertemuanya dengan manusia menyebalkan tadi malam.


"Nada, kenapa kamu malas sekali. Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Amara sambil memoles wajahnya dengan make up di tasnya.


"Kau ingat Aku bercerita padamu waktu dulu, saat Aku bilang padamu kalau Aku bertemu buaya darat yang mengajak ku ke apartmen?" tanya Nada. Amara tampak berpikir dan mengangguk pelan.


"Ya, Aku ingat. Kenapa?" tanya Amara. Amara tau, Nada tidak pernah sedikitpun mau membuka hatinya. Cintanya sudah nyangkut untuk kak Rafa meskipun dia tau kak Rafa hanya menganggap dirinya adik saja.


"Aku bertemu dengannya, dia mengejekku. Dia menyamakan aku dengan sampah yang berserakan dan harus di buang ke tempat sampah, bukankah itu sangat menyebalkan?" tanya Nada. Amara tersenyum, pasti Nada sangat sedih saat ini.


"Cup, cup, sebaiknya kita bertemu. Jika kita berpisah kita selalu saja mempunyai masalah. Sepertinya memang kita harus bersama untuk menghadapi masalah bersama," ucap Amara. Nada tertawa dan mengangguki ucapan Amara.


"Segera bersiap, aku akan menyusul." ucap Nada kemudian mematikan ponselnya. Amara segera bersiap.


Nada memandang jam dinding yang menunjukan pukul 07.00 Nada segera beranjak dari kamarnya. Ayah dan juga ibunya sudah menunggunya untuk sarapan bersama.


"Yah, ibu,,," ucapnya sambil tersenyum.


"Mau kemana? Ke rumah sakit lagi?" tanya ayahnya.


"Iya, yah. Menjemput tante Hana," ucap Nada.


"Ayah dengar Amara sudah menikah, apa benar Nad?" tanya ayah. Nada menatap ke arah ayahnya dan tersenyum.


"Iya, tapi pernikahan mereka masih dirahasiakan yah. Hanya pihak keluarga saja yang tau," ucap Nada.


"Lalu, kapan kamu mau menikah juga? Kalian biasanya kompak," ucap Ibunya. Nada hanya tersenyum saja.

__ADS_1


"Nanti ya, Bu. Kalao sudah ketemu jodohnya," ucap Nada kemudian mengambil tas tangannya dan berpamitan pada ayah ibunya.


"Selalu seperti ini, kabur aja terus nak." ucap ibunya sambil tersenyum.


"Kak Arfan aja dulu an, bu. Aku belakangan aja," teriak Nada sambil tertawa kemudian melenggang pergi.


*****


Micho tersenyum sambil memandang balasan e-mail dari Zata Star yang mengajak mereka untuk bertemu jam 2 siang nanti. Damar datang sambil membawa beberapa berkas penting dari ruangannya.


"Pagi, Bos. Kau tampak bahagia sekali. Apa kau belah duren tadi malam?" goda Damar sambil tersenyum. Micho melirik Damar dan menatap Damar dengan sorot mata tajam. Asistennya itu selalu saja membuat dirinya sebal.


"Maaf bos, aku hanya bercanda. Kali aja benar, Bukankah berdua serasa nyaman dan hangat," goda Damar lagi. Micho melempar kertas ke arah Damar dan berhasil di tangkapnya.


Damar masih tersenyum, sedangkan Micho tampak berfikir, yang benar saja, Memang Micho merasa nyaman. Dia juga merasa nyenyak dan lelap. Kini bayangan wajah Amara mengiang di otaknya.


"Kau pesta sampai jam berapa?" tanya Damar sambil membuka berkas yang tadi di lempar Micho. Biasanya Micho memang menyiapkan pesta sampai pagi untuk merayakan ulang tahun Sabrina.


"Aku tidak berpesta," ucap Micho. Damar tersenyum dan menepuk pundak Micho.


"Enakan belah duren kan?" tanya Damar. Micho memelototkan matanya dan mendorong Damar kasar, Damar tertawa dan menggelengkan kepalanya.


"Santai, Bro." ucap Damar.


"Lebih baik kita pergi sekarang, lebih baik datang lebih dulu," ucap Micho. Damar mengangguk pelan. Damar memberikan berkas kantor pada Radit sebelum dia pergi bersama micho.


*****


Nada Dan Amara berada di sebuah Taman yang indah. Taman yang selalu mereka datangi ketika merasa sedih waktu dulu, Mama Hana sudah di bawa pulang beberapa jam yang lalu. Rafa juga sempat mengikuti 2 adiknya itu kesini kemudian pamit pergi.


Amara menghela napas panjang, melepaskan segala jeritan hati yang susah untuk di ungkapkan. Nada juga melakukan hal yang sama, mencoba mengurangi beban pikiran dengan berteriak kencang. untung saja di taman hanya ada mereka berdua sehingga tidak menjadi pusat perhatian orang.


"Jadi bagaimana rasanya menjadi nyonya Micho?" tanya Nada. Amara tertawa sambil mengusap air mata di sudut matanya.

__ADS_1


"Tidak ada yang istimewa, bahkan dia semakin menyebalkan dan semaunya sendiri. Aku rasa Aku harus membuatnya bertekuk lutut di hadapanku, agar dia tau rasanya sakit hati ketika berharap kemudian di tinggal pergi," ucap Amara.


"Memangnya kamu sudah tidak lagi berharap padanya?" tanya Nada.


"Entah, aku juga tidak tau bagaimana perasaanku saat ini. Yang aku tau, Aku berhak bahagia suatu Saat nanti, walaupun bukan dengan Micho." ucap Amara.


Nada menghela napas panjang dan merangkul pundak Amara.


"Jangan berharap bahagia bersama orang lain, jika disamping mu berproses mencintaimu," ucap Nada. Amara memandang Nada dan mendorong pundak Nada.


"Aku bukan dirimu yang berharap pada satu hati yang nyatanya tidak bisa aku miliki, aku pernah patahati dan tak mau untuk mengulang kembali," ucap Amara. Nada menatap Amara. Keduanya mempunyai jalan cerita yang berbeda, namun berusaha untuk saling menguatkan.


"Aku tadi bertemu Dinda, Dia mengajak kita bertemu. Ada acara reoni beberapa hari lagi," ucap Nada. Amara tersenyum dan tampak berpikir.


*****


Waktu menunjukkan pukul 14.00 Damar dan Micho tengah berada di sebuah restaurant di tengah kota. Mereka melirik kesana-kesini menunggu kedatangan seseorang yang diharapkan bisa membantu perusahaan yang mengalami krisis.


"Bagaimana Damar?" tanya Micho.


"Semoga saja Zata Start mau Menyetujui proposal kita. Kita sudah mengerjakan proposal dengan sebaik mungkin Pak."


"Bagus," sahutnya. Hening, keduanya masih mepersiapkan segala sesuatunya. Tak berselang lama,


terdengar hentakan sepatu high heels menuju ke arahnya.


Seorang wanita cantik beejalan menuju ke arah meja Damar dan Micho. Penampilannya yang cantik menghipnotis semua orang yang mereka lewati, setelan baju kerja nan apik mereka di tubuh indahnya. Wajah yang ayu yang terpampang nyata. Sorot mata teduh yang di sembunyikan di balik Kacamata hitamnya.


Mata wanita cantik itu memandang ke arah 2 lelaki yang masih tak menyadari kehadirannya.


"Hem, permisi. Apa benar dengan Pak Micho dari Alexander group?" tanya suara yang tiba-tiba muncul mengisi keheningan di antara 2 manusia yang sibuk dengan berkas. Damar menoleh, kemudian berdiri menyambut kedatangan wanita cantik yang kini berdiri di sampingnya.


😇😇😇😇😇😇

__ADS_1


__ADS_2