
Mereka meluapkan emosi dengan cinta. Menghilangkan sesak dengan sayang. Semoga saja Olive tak melihanya.
Dering ponsel membuat mereka terkejut, Amara melepas ciuman Micho dan mengambil ponselnya. Dengan menahan malu Amara mencoba melepas lengan kokoh yang enggan beralih dari pinggangnya. Namun, pemilik tangan sepertinya tak mau melepasnya, alhasil Amara mengambil ponsel di sakunya dan menatap ada nama Nada memanggilnya.
"Assalamualaikum, Nad" sapa Amara, netranya menatap Micho yang mengamatinya.
"Walaikumsalam, Ra. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Nada.
"Iya Nad. Aku baik-baik saja. Apa kamu merindukanku?" tanya Amara sambil mengusap pelan wajah Micho dengan tangan kanannya.
"Iya." jawab Nada. Amara terkekeh pelan melirik ke arah Micho yang tampak tak suka dengan ucapannya tadi.
"Ishhh, baru juga sebentar tidak bertemu. sudah kangen aja." ucap Amara.
"Aku hanya memastikan kamu bahagia," ucap Nada. Amara tersenyum dan mengangguk pelan.
"Aku bahagia ..." belum meneruskan ucapannya, kini Micho mengambil alih ponsel Amara.
"Hei Nona Nada, istriku bahagia. Sebaiknya kamu mengakhiri panggilanmu. Kamu tau, kami terganggu. Segera matikan ponselmu, aku akan melanjutkan momen bahagia. Besok saja kamu menelpon lagi," ucap Micho sambil menatap Amara yang tampak protes karena ulahnya.
__ADS_1
"Iya, Tuan. Selamat menikmati. Besok aku akan datang kerumah dan mengambil alih Amara darimu," ucap Nada Ketus.
"Selamat beristirahat. Asalamualaikum," ucap Micho.
"Walaikumsalam," jawab Nada. Nada melihat ke arah ponselnya. Selalu begini, dirinya benar-benar kesepian semenjak Amara menikah beberapa minggu yang lalu.
Sebenarnya Nada ingin bertanya tentang wanita yang tadi bersama dengan Rafa dan Micho. Dirinya yang tak sengaja lewat di depan pengadilan menyaksikan percakapan 3 manusia itu. Hanya ingin memastikan, apa wanita cantik tadi adalah wanita yang di sukai Rafa? Wanita yang cantik, namun tampak kurus dan tak terurus.
Nada memejamkan matanya, memberikan ruang untuk hatinya agar bisa menunggu hari esok. Ia ingin menemui Amara dan menanyakanya.
***
"Kenapa mematikanya mas?" tanya Amara.
"Kasian Nada, mungkin ada sesuatu yang ingin dia tanyakan." ucap Amara dengan sorot mata sebalnya.
"Itu bukan urusanku," jawab Micho, Amara memggelengkan kepalanya.
"Ish, kamu. Lalu, bagaimana sidangnya?" tanya Amara. Mendengar pertanyaan Amara membuat Micho berubah, Amara mengernyitkan dahinya. Kini Micho melepas pelukan Amara dan duduk di sofa. Amara mengikuti langkah Micho dan duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Amara. Micho tampak memijit pelipisnya.
"Papa harus mendekam di dalam tahanan, kau tau. Terlalu banyak kesalahan yang papa lakukan, pada Andika juga Zahira Anak dari kakak papa sendiri," ucap Micho. Amara menatap ke arah suaminya dan memandang dengan tenang.
"Apa kamu sudah bertemu dengan mereka?" tanya Amara. Micho menggelengkan kepalanya.
"Aku belum punya waktu, hari ini waktuku untuk mendapatkan kenyamanan di pelukanmu," ucap Micho sambil merangkulkan tangannya di pundak Amara. Membuat keduanya saling memandang dan berada dalam pemikiran masing-masing.
"Sebaiknya kita makan dulu, aku memasakan makanan sepesial tadi," ucap Amara. Micho memelototkan matanya. Bagaimana bisa istrinya malah mengabaikan permintaanya.
"Apa kamu tidak dengar?" tanya Micho.
"Mas, ada Oliv," sanggah Amara.
"Dia bermain, tidak akan tau." ucap Amara. Amara memaksa berdiri dan menata makanan di meja makan.
Micho mendekat ke arah Amara dan meraih pinggang Amara dari belakang, meletakan dagunya diatas pundak Amara.
"Aku menginginkanmu, Nyonya." lirih Micho, desakan hasrat aneh memenuhi jiwanya. Amara memejamkan matanya, ia juga merasakan hal yang sama.
__ADS_1
"Uncle, aunty ..."
🤣🤣🤣🤣🤣