Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
Merasa bahagia


__ADS_3

Amara mendorong tubuh Micho sebelum akhirnya berhambur dalam pelukan Micho dan menyembunyikan wajahnya yang merona disana. Micho merasakan nyaman, Ia mengusap puncak kepala Amara dan mencium puncak kepala Amara.


Micho yang sempat tak sadarkan diri sebenarnya sudah sadar saat Amara memberikan napas buatan yang pertama.


Namun, manis bibir Amara yang dirasanya seperti madu membuat dirinya seakan tak mau menyiakan kesempatan memperoleh kemanisan. Micho mendengar ucapan Amara tetapi terus memejamkan matanya. Hatinya semakin menggelitik saat Amara mengoceh ria, namun rasa kasihan menggelayut saat Amara mengusap air matanya.


"Apa enak sekali berada dalam pelukanku seperti ini?" tanya Micho dengan suara ketusnya.


Amara mengangkat tubuhnya dari dekapan Micho dan berdiri. Rona merah di wajahnya masih saja tampak. Amara menatap Micho dengan canggung.


"Maaf, aku reflek saja." ucap Amara. Micho berdiri, mereka saling berhadapan. Amara mendongak menatap ke arah Micho yang lebih tinggi darinya.


"Gantilah, nanti kau bisa masuk angin jika memakai pakaian basah seperti itu. Kau bisa mengambil pakaian disana," tunjuk Micho ke arah walk in closed. Amara mengangguk dan berjalan ke arah dimana baju perempuan tersimpan.


Micho melirik luka yang berbalut perban di lengannya. Ia memejamkan matanya.


"Siapa sebenarnya mereka? Kenapa mengusik hidupku?" ucap Micho lirih kemudian melenggang pergi ke kamar mandi.


Micho mengganti pakaiannya dengan baju santai. Ia duduk di sofa sambil menunggu Amara yang tak kunjung keluar. Micho meraih ponselnya dan mengirimkan pesan ke Damar.


Bagaimana? Apa yang kau lakukan pada Rayen?


Tapi, entah kenapa Damar belum juga membalas pesan darinya.


Beberapa saat kemudian, pintu kamar ganti terbuka. Micho menatap ke arah Amara yang muncul dari balik pintu. Wanita 24 tahun itu tampak cantik dengan balutan baby doll berwarna merah muda yang sedikit longgar. Rambut basahnya di gerai, wajah yang semula lusuh tampak segar dengan balutan make up natural yang di poles di wajahnya. Micho tampak terpesona dan menatap Amara tanpa berkedip.


"Micho, apa aku aneh? Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Amara sambil mengibaskan tangannya ke arah Micho yang tampak melamun.


"Micho," ulang Amara.


"Apa?" tanyanya sedikit bingung.


"Apa aku aneh? Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Amara lagi. Micho mengusap wajahnya kasar dan menatap ke arah Amara.


"Kau itu memang aneh, kenapa baju kegedean seperti itu di pakai?" tanyanya mencari kesalahan Amara. Amara menatap dirinya.


"Apa aku ganti saja? Aku sengaja ingin yang longgar seperti ini," ucap Amara sambil memutar langkahnya.

__ADS_1


"Tidak usah, pakai itu saja. Sekarang aku akan memintamu melakukan sesuatu," ucap Micho ketus.


"Apa yang kau inginkan? Aku tidak mau jika melakukan sesuatu yang berhubungan dengan pisau," ucap Amara sedikit ngeri membayangkan luka Micho yang tadi di oprasinya 😜. Micho mengernyitkan dahinya.


"Lalu?" tanya Micho.


"Aku akan melakukan sesuatu jika tidak berhubungan dengan pisau," ucap Amara dengan jelas.


"Lalu kau mau melakukan jika berhubungan dengan bibir? Mana bisa aku kenyang jika kau beri bibir dan mulutmu yang belum gosok gigi itu," ucap Micho dengan ketus sambil melempar ponselnya ke sofa.


Amara membelalakan matanya, ucapan Micho membuatnya geram. Jika tadi sempat terpesona dengan kebaikan Micho. Kini dia hanya bisa menggelengkan kepalanya saja dan menarik kata-katanya. Amara memejamkan matanya, rasanya hatinya dongkol, tetapi wajahnya tampak merah merona karena malu.


Micho tampak berdiri dan melangkahkan kakinya di depan Amara. Menatap wajah cantik Amara yang begitu menggemaskan baginya.


"Jadi kau mau aku masak?" tanya Amara mencoba menghilangkan kecanggungan.


"Kau pikir apa? Kau pikir memasak tidak pakai pisau?" tanya Micho kemudian melangkah pergi.


"Ish, jangan menghindar, bicara dengan jelas kan bisa, kenapa berbelit-belit?" ucap Amara. Amara menarik tangan Micho dan memandang dalam ke arah Micho. Micho menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya menatap ke arah Amara. Baru kali mereka tampak dekat dan tenang.


Berhadapan dengan Amara membuat jantung Micho berdetak dengan cepat. Tanpa sadar, tangan kiri Micho bergerak ke dagu Amara, wajahnya mendekat dan terus mendekat. Amara memejamkan matanya. Keduanya larut dalam suasana hening karna detak jantung yang seperti genderang mau perang. Tiba-tiba deringan ponsel mengganggu suasana itu.


Maafkan bos, aku salah pencet. Aku besok akan ke apartemen mu.


"Shitt,,, mengganggu saja." gerutu batin Micho. Micho menatap Amara yang tampak menunduk.


"Sebaiknya kita masak, aku lapar sekali. Kita tidak mungkin keluar saat ini, keadaan diluar tampaknya belum aman untuk kita." ucap Micho sambil memasukan ponselnya ke dalam saku. Amara mengangguk pelan dan melenggang pergi.


Amara berlari menuju dapur, Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding dan meletakan tangannya di dada. Amara merasakan detak jantung yang tak beraturan. Malam ini adalah malam yang sangat menyakitkan, tetapi juga sangat berkesan.


"Micho, terimakasih." lirihnya.


Amara membuka matanya kembali dan segera membuka lemari pendingin untuk mengambil beberapa bahan. Amara mulai memotong beberapa bumbu dan menumisnya. Rambutnya yang bergerak kesana kemari membuat dirinya kesusahan.


Amara menggulung rambutnya yang mulai kering ke atas sehingga memperlihatkan leher jenjangnya. Namun, gerakannya tampak sulit karna satu tangannya kotor.


Micho yang baru saja datang melihat Amara yang tampak kesusahan. Ia mendekat dan membantu Amara. Tak sengaja tangan Micho menggenggam tangan Amara. Keduanya tampak terkejut dan canggung. Segera Micho menyelesaikan tugasnya dan mengambil air mineral.

__ADS_1


"Terimakasih, Micho." ucap Amara.


"Hem ,,, kau hanya boleh menggulung rambut ketika bersamaku," ucap Micho sukses membuat Amara yang ada didepannya mengeryitkan dahi.


"Kenapa begitu?" tanya Amara.


"Lakukan saja apa susahnya?" tanya Micho. Amara diam. Menjawab ucapan Micho dipastikan tidak akan menyelesaikan masalah.


"Kau tampak jelek jika menggulung rambut, jangan dilakukan. Kau lebih cantik dengan rambut di gerai," ucap Micho sukses membuat Amara merona.


"Jangan merayu. Aku tidak yakin dengan ucapanmu," Amara mengalihkan pandangannya, menghela nafas panjang menyembunyikan segala rasa yang berkecamuk di dadanya.


"Jangan GR, gitu aja terbang," ucap Micho ketus. Amara memandang kearah Micho yang tampak menyebalkan.


"Apa kau tercipta memang sangat menyebalkan seperti ini?" gerutu Amara. Micho yang tadinya diam mendadak tertawa dan mendekat ke arah Amara.


"Aku suka melihatmu seperti ini, tetaplah bahagia dan jangan pernah bersedih." ucap Micho sambil mengacak rambut Amara kemudian berlalu.


Mendengar ucapan Micho mendadak membuat Amara merasa bahagia. Amara menatap punggung Micho yang menjauh darinya.Ya, perkataan Micho sukses membuatnya merasa bahagia, entah dari segi mana.


"Micho," teriaknya.


Micho menoleh dan memutar tubuhnya kemudian berhenti, menunggu kedatangan Amara yang berjalan kearahnya.


"Apa? "tanya Micho sambil mengamati wajah cantik yang sebenarnya cantiknya 180 derajat lebih tinggi jika menggulung rambut itu. Amara menghela nafas panjang dan tersenyum.


"Terimakasih," ucap Amara. Micho memasukan keduanya tangannya ke dalam saku dan mendekat ke arah Amara. Mengamati wajah cantik yang akhir-akhir ini selalu menghantui otaknya.


"Terimakasih untuk apa?" tanya Micho.


"Terimakasih untuk yang kamu lakukan malam ini, lain waktu aku akan membantu kesulitanmu. Bukankah kita masih berteman?"


Amara mengulurkan jari kelingkingnya. Micho mengeluarkan tangan dari sakunya dan mengulurkan kelingkingnya juga. Tangan mereka bertautan. Amara merasa bahagia, Micho juga sama.


"Lepaskan, jangan gosong masaknya." ucap Micho sambil menarik uluran tangannya kemudian melenggang pergi. Amara menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Entah, malam ini dia begitu bahagia.


****

__ADS_1


Jangan lupa ritualnya, like komen, hadiah ya 😍😍😍😍😍


__ADS_2