
"Apa yang sebenarnya terjadi? bisa kau ceritakan pada kami?" tanya Elysa. Prayoga tersentak kaget.
"Apa maksudmu, Elysa?" tanya Prayoga. Elysa menghela napas panjang kemudian kembali duduk di hadapan prayoga.
"Aku tidak buta Yoga, aku tau ada yang kalian sembunyikan. Coba ceritakan pada kami," desk Elysa. Prayoga terdiam, rasanya sakit harus menceritakan Kejadian masa lalu yang begitu menyakitkan bagi Amara itu.
"Kita akan mencari solusi bersama, aku rasa mereka perlu untuk saling memahami." ucap Herman. Prayoga menghela napas dan menatap ke arah Herman. Bayangan masa lalu berputar di otaknya. Sesekali netranya melirik ke bawah, mengamati 2 orang yang tampak menikmati pesta kecil disana.
"Sebenarnya mereka sudah pernah bertemu," ucap Prayoga. Elysa dan Herman saling berpandangan. Mereka antusias sekali mendengar ucapan Prayoga.
"Jadi mereka sudah saling kenal?" tanya Elysa. Prayoga menggeleng pelan.
"Aku tidak tau pasti, yang jelas ada sebuah kejadian yang membuat Micho memutuskan untuk meninggalkan kampung halaman kami 4 tahun yang lalu,"
"Apa? 4 tahun yang lalu?" tanya Elysa dan Herman bersamaan. Prayoga mengangguk pelan. 4 tahun yang lalu adalah hari dimana Hana mama dari Amara menghubunginya dan meminta padanya untuk menjaga Amara, putri kesayangannya di negara P. Tidak ada sanak saudara sehingga Hanna meminta Elysa mengawasi Amara.
"Kau tau kejadian apa?" tanya Elysa. Rasa penasaran Menggerogoti hatinya. Hana saat itu menangis dan menduga ada yang tidak beres pada putrinya.
Prayoga menceritakan apa yang terjadi 4 tahun yang lalu, Elysa dan Herman saling berpandangan. Mereka tau posisi Amara, dia juga tau posisi Micho. Amara, gadis itu begitu prustasi saat itu.
"Sekarang aku tau permasalahannya, jadi Amara menyembunyikan semua dari orang tuanya, pantas saja Mbak Hana menginginkan Amara untuk menikah dan Amara sangat keberatan," ucap Elysa.
"Aku tidak habis pikir dengan Micho, kalo dia mencintai calon istrinya, kenapa dia melakukan itu pada Amara?" ucap Herman. Prayoga menggelengkan kepalanya.
"Dimana-mana kucing akan menyerang daging walaupun dia sudah punya tempe," ucap Elysa sewot. Membuat Prayoga dan Herman mengerutkan keningnya.
"Aku tidak bisa membiarkan ini terlalu larut lebih lama. Aku tau, Amara masih mengharapkan Micho menikahinya. Micho, kamu harus bertanggung jawab atas ulahmu," ucap Elysa panjang lebar.
***
__ADS_1
Amara dan Micho terhanyut dalam alunan musik romantis yang menghiasi malam, keduanya hanya terdiam menikmati lagu dengan gerakan syahdu. Amara hanya menundukkan kepalanya, sedangkan Micho sesekali melirik wajah yang tampak cantik didepannya. Wajah cantik dengan bulu mata yang indah, mata yang indah, hidung yang indah. Tidak ada cela untuk manusia yang tadi dikatai ondel-ondel itu.
Micho segera menguasai hatinya, Amara yang merasa diawasi mendorong tubuh Micho. Amara melangkah mengambil jus yang ada di atas meja, jantungnya berdebar tak karuan.Rasa sakit dan takut bercampur menjadi satu, dia mencoba menguasai hati dan pikirannya.
Micho melangkah mendekat ke arah meja, dia mengambil satu gelas cofe yang terhidang dimeja. Netranya memandang ke arah Amara yang memandangi bunga indah di taman.
"Kabar apa yang akan kita bawa untuk tante Elysa dan Om Herman?" tanya Micho. Amara menoleh dan meletakan gelas di atas meja. Amara menatap ke arah Micho dan tersenyum tipis.
"Dari awal aku sudah mengatakan pada mereka untuk tidak berharap lebih, jadi anda tidak usah khawatir!" ucap Amara.
Micho terdiam, gadis di depanya benar-benar telah berubah. Dulu dia memaksanya untuk menikah dan dengan keberanianya menggagalkan pernikahannya. Sekarang, seakan menjual mahal. Ada sedikit rasa kagum pada pesona gadis yang ada dihadapannya, gadis yang merasa telah ternodai olehnya.
Angin malam berhembus Kencang, membuat Amara memeluk dirinya sendiri. Netranya masih saja mengamati gemericik air yang indah di kolam hias. Micho tersentuh untuk membuka jaket yang dipakainya dan meletakan ditubuh Amara. Amara mendongak, dilihatnya wajah tampan yang sibuk memasangkan jaket itu. Namun ingatannya tertuju pada jaket yang pada hari naas itu menutup tubuhnya. Sudah dipastikan jaket itu juga milik Micho.
Nada dan Damar saling berpandangan, mereka melihat adegan manis di bawah sana. Entah itu pura-pura atau nyata sekarang pemandangan di bawah sana membuat mereka tersenyum tipis.
"Jangan merepotkan dirimu untuk berbuat ini, Tuan Micho." ucap Amara sambil melangkah mundur. Micho menghela napas panjang, dia juga bingung dengan ulahnya sendiri. Bagaimana bisa dia seperhatian itu pada Wanita disampingnya.
"Diamlah, aku hanya menjalankan peran. Kau tau, Om herman dan Tante Elisa sudah banyak membantuku aku tidak mau mengecewakannya," ucap Micho kemudian melangkah ke dalam rumah. Amara menatap kepergian Micho dengan geram kemudian ikut melangkah masuk.
"Wah, kalian sudah puas?" tanya Elysa sambil berjalan ke arah Amara yang tampak sedikit pucat.
"Rara, kamu tidak papa?" tanya Elysa.
"Aku tidak papa, Tan." ucapnya, Micho terdiam dan menatap Amara, Rasa benci kembali muncul mana kala ingatan tentang Sabrina terngiang di otaknya.
"Micho, kamu antar Amara ya. Kelihatannya Amara tidak baik-baik saja," ucap Elysa.
"Tapi bagaimana dengan Damar?"
__ADS_1
"Tapi, Bagaimana dengan Nada?" ucap Amara dan Micho bersamaan.Elysa tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Kalian kompak sekali, " goda Elysa membuat keduanya salah tingkah.
"Kalian tenang saja, Damar dan Nada masih mengerjakan skripsi dengan Joy. Tampaknya masih agak lama," ucap Elysa.
Micho menghela napas panjang, apa ini bagian dari rencana papanya? kalo iya kenapa tadi sebelum berangkat kesini papanya Mengirimkan pesan itu? Bukankah itu artinya papanya juga tidak tau, meskipun di pastikan dia bahagia atas kenyataan ini.
"Sebenarnya ini ulah papa atau murni ide gila Tante Elysa?" ucap batin Micho.
"Tapi, tante..." sanggah Amara.
"Tante tidak menerima alasan, jadi Micho 2 hari lagi akan balik ke kampung halamanya. Tante harap kalian sudah memutuskan status untuk hubungan kalian," ucap Elysa.
"Tante, ini terlalu cepat," sanggah Amara dan Micho bersamaan. Elysa menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya.
"Sekarang kalian masih ada waktu 2 hari untuk saling mengenal, gunakan dengan baik." ucap Elysa kemudian tersenyum.
"Micho, antarkan Amara." ucap Elysa lagi. Micho dan Amara terdiam.
"Ow, jadi kalian masih mau disini menikmati pesta? No problem," ucap Elysa. Amara menghela napas panjang. Membantah orang tua Jauh lebih nyaman dibanding membantah sahabat mamanya.
"Kalo gitu Amara pamit, Asalamualaikum." ucap Amara kemudian melangkah pergi, Micho melakukan hal yang sama kemudian Mengikuti langkah Amara.
Elysa tersenyum bahagia, Amara dan Micho pasti akan sungkan menolak kemauannys.
"Mbak Hana aku akan berusaha mewujudkan impianmu, melihat putrimu bahagia di pelaminan." ucap Elysa pelan.
😍😍😍😍😍
__ADS_1