Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
Masa lalu


__ADS_3

"Lalu untuk apa kau menghubungiku lagi?" tanya Roy dengan tatapan sinisnya.


"Tuan Roy, sudah lama sekali kita tidak bertemu. Bahkan 23 tahun telah berlalu, aku baru saja mendapatkan kontakmu kembali," ucap Milano dengan tawanya. Roy tampak menyunggingkan senyum tipisnya.


"Jangan banyak basa-basi, ada apa menghubungiku?" tanyanya sinis.


"Tahan dulu, Tuan Roy. Aku meminta bantuan padamu, aku tidak lagi meragukan kemampuanmu. Dengan keberhasilanmu membunuh Kenzo juga keluargannya tanpa jejak adalah bukti nyata jika kau adalah orang yang sangat professional." ucap Milano dengan tawa


"Jangan banyak bicara, katakan apa maumu!" ketus Tuan Roy.


"Luangkan waktumumu, kita bertemu lain waktu." jawab Tuan Milano santai.


"Atur waktu," ucap Roy kemudian menutup ponselnya. Roy menghela napas panjang.


***


Flash back.


Malam begitu sunyi, tidak seperti biasannya. Suasana mansion megah di sebrang jalan tampak sunyi juga. Kenzo, Tuan Muda yang baru saja merayakan kelahiran putri pertama tampak bahagia, di malam itu hanya ada dirinya dan Melati, istri kesayangannya yang masih membuka matanya. Beberapa pembantu dan juga penjaga tampak kelelahan dan tidur serentak setelah acara makan malam.


Hujan turun dengan lebat, gemuruh petir beberapa kali menggelegar. Putri cantik yang ada di gendongan Melati tampak terkejut dan terbangun.


"Sayang, kenapa menangis terus? Kamu adalah princesnya mami yang cantik, jangan nakal ya," ucap Melati sambil mengusap wajah putrinya dengan lembut.


"Kenapa putri kita menangis?" tanya Kenzo sambil mendekat ke arah istrinya.


"Aku juga nggak tau, mas. Dia tampak bersedih, sama seperti langit yang mendung sejak tadi." ucap Melati. Tak beberapa lama kemudian, putri cantik itu tampak diam, Melati masih saja bermain dengan putri cantiknya. Netranya menangkap bayangan hitam di bawah sana.


Tampak beberapa orang memakai penutup kepala berjalan ke arah pintu belakang. Melati tampak sedikit tegang dan melirik kenzo yang tengah memejamkan matanya.


"Mas, bangun," ucap Melati sambil menggoncang tubuh Kenzo. Kenzo tampak tak merespon, membuat Melati tampak tegang dan melirik Ke arah putri cantiknya.


"Tuhan, ada apa ini? Kenapa mas kenzo tampak susah sekali bangun?" ucap Melati. Dari sebuah CCTV Melati dapat melihat dengan jelas pergerakan beberapa orang yang tengah mengendap masuk.

__ADS_1


"Mas, bangun." ucap Melati. Kepanikan mendera hatinya saat tubuh Kenzo tidak merespon segala ucapannya. Melati melirik Kenzo dan ke arah CCTV lagi, salah satu penjaga yang tampak keluar dengan menguap dengan cepat di tumbangkan dan di ringkus kemudian entah di bawa kemana.


Melati memelototkan matanya, ia menggelengkan kepalanya dan menutup mulutnya. Melati melirik putri cantiknya, dia tampak memikirkan sesuatu, apa ada yang sengaja memberi obat tidur? Kenapa seolah semuanya sudah di rencanakan? Kenapa rumah tampak sepi dan sekarang hanya dirinya yang membuka mata, apa penjaga dan asiaten rumah tangga telah tertidur semua? Melati melirik makanan yang ada di atas nakas.


Ya, Kenzo baru saja makan makanan sisa pesta tadi malam. Melati mencoba lagi mengguncang tubuh Kenzo, dan benar saja Kenzo benar-benar tak merespon.


"Mas, kita dalam bahaya, bangun!" ucap Melati dalam kepanikannya. Dia melihat beberapa orang berpencar di beberapa penjuru. Dengan tenang Melati menurunkan tubuh gagah suaminya ke kolong tempat tidur. Dia mencoba menyembunyikan Kenzo yang tertidur nyenyak. Dia juga mencoba menulis surat untuk Kenzo.


Melati melirik ke arah putri cantiknya dan mengambil beberapa surat berharga dan benda berharga kemudian meletakan di dalam tas. Netranya mengawasi beberapa orang yang kian mendekat ke arah kamarnya. Melati mengambil kunci pintu rahasia yang menghubungkan kamarnya dengan loby bawah.


Melati menggendong putri cantiknya dan melirik ranjang yang menyembunyikan tubuh suaminya. Melati mengusap air mata yang membasahi pipinya.


"Princess Sheyna Amara nya mami dan papi, kita harus menyelamatkan diri. Kita dalam bahaya, biarkan papi di sana dulu, Nak." ucap Melati kemudian masuk ke dalam lift.


Melati yang tampak ketakutan dan panik tampak memencet tombol liff dan turun ke lantai satu, is tampak mengamati sekitaran. Tak ada orang di sana, Melati segera berlari keluar. Ia sudah melindungi dirinya dengan payung. Pada saat sudah masuk ke dalam mobil, tampak seseorang mengejarnya. Melati mempercepat laju mobilnya.


"Princes, bertahanlah nak. Doakan Mami bisa manyelamatkanmu," ucap Melati sambil melirik putri cantiknya yang kini ada di gendongannya.


Decitan rem mendadak berhenti, di depan Melati berdiri beberapa orang. Melati mengamati seseorang yang memakai ikat kepala emas yang menghadang jalannya. Tanpa pikir panjang Melati mengambil arah dan menancap gas mobilnya menabrak kerumunan.


Mereka mengejar laju mobil Melati yang sangat tinggi, hingga sampailah Melati pada gang yang buntu. Mau tidak mau, Melati turun di tengah derasnya air hujan. Melati melihat sepasang suami istri yang sedang berteduh, mungkin mobilnya mogok atau malah terjebak buntu sepertinya. Melati berlari, hingga beberapa orang mengejarnya.


"Berhenti," ucap salah satu dari preman itu. Melati yang tampak kasihan pada anaknya yang semakin kedinginan dan takut terjadi apa-apa pada putrinya meletakan putrinya di sebuah gubuk yang dekat dengan keberadaan pasangan suami istri tadi.


Setelah meletakan putrinya, Melati melihat orang misterius itu mendekat. Melati berlari menjauhi gubuk itu untuk mengecoh orang misterius itu menjauh dari tempat dimana putrinya berada.


Sepasang suami istri tampak terkejut saat melihat beberapa orang bersliweran ke arahnya, mereka yang terjebak buntu karena lari dari perampokan terkejut. Mereka pikir orang yang tampak itu adalah orang yang mengejar mereka tadi, mereka bersiap dan berlari. Tapi, beberapa saat setelah mereka menjauh, suara tangisan bayi terdengar dari arah gubuk. Pasangan itupun mendekat ke arah gubuk setelah dirasa aman dan tak ada lagi orang yang mengejar mereka.


***


Prayoga duduk sambil menggendong bocah tampan 5 tahun, dia tampak sedikit cerewet dan ingin segera menemui papanya. Namun, papanya masuk saja di ruang rahasia. Micho Aditya Pratama, bocah itu tampak berlari ke arah ruangan.


"Dimana Kenzo?" Roy menekan pelatuk ke arah salah satu bodyguard rumah Kenzo.

__ADS_1


"Kami tidak tau tuan," ucap mereka.


"Katakan, atau kalian memilih mati?" tanya Roy dengan tatapan tajamnya.


Tak beberapa lama kemudian, beberapa anak buahnya datang.


"Bagaimana, kau menemukan Melati dan anaknya?" tanya Roy pada anak buahnya.


"Maaf Tuan, Melati kabur," ucapnya.


"Dor, Dor Dor," Roy tampak murka dan menembak beberapa bodyguard Kenzo dan asisten rumah tangga.


"Tapi dia terjun ke jurang dan dipastikan meninggal dunia," lanjut anak buahnya. Roy tampak menyunggingkan senyumnya.


Disaat yang bersamaan, Micho masuk ke dalam ruangan dan melihat darah berkeceran. Wanita dan lelaki yang tumbang itu tampak jelas di ingatannya.


"Papa, kenapa mereka?" tanya bocah itu. Roy tersentak kaget dan melirik ke arah anak buahnya yang ceroboh tak mengunci pintu kembali.


Dengan sigap Prayoga yang baru datang menggendong Micho dan membawa Micho keluar dari tempat terkutuk itu.


"Papa yoga, aku mau turun." pinta Micho. Te tapi Prayoga malah membawa Micho ke rumahnya.


Deringan ponsel Roy terdengar, Roy menggeser tombol hijau.


"Halo Tuan Milano," sahut Roy.


"Bagaimana? Kau berhasil membunuhnya?" tanyanya dengan sinis.


"Tentu saja," jawab Roy, meskipun sebenarnya dia tidak yakin. Bahkan Kenzo tak di temukan, sedangkan Melati jasadnya tidak juga di lihatnya dengan mata kepala.


"Bagus, aku akan mentransfer bagian untukmu." ucapnya.


Flash Back off

__ADS_1


__ADS_2