
Amara berbalik memunggungi Micho dan menutup tubuhnya dengan selimut tebal. Micho mendekat dan melingkarkan tangannya pada pinggang Amara. Mereka memejamkan matanya dan mengarungi samudra mimpi nan indah.
😂😂😂
Rafa memegang handel pintu dan membuka pintu kamarnya. Wajahnya tampak tersenyum memandang foto Amara yang tersenyum di foto keluarga yang berada di dinding. Rafa yang dengan jelas mengetahui adegan mesra Amara dan Mikho merasa geli sendiri, ia menggelengkan kepalanya dan mengusap wajahnya yang memerah.
"Gila, ini benar-benar gila. Micho-Micho, apa yang sebenarnya ada di dalam hatimu? Sabrina? Bianca? Mereka yang membuat kelimpungan. Dan sekarang? Kau tampak sekali mencintai Rara ,,, apa kau dapat dipercaya?" pertanyaan yang mengganggu pikiran Rafa.
Rafa mengamati lagi ponselnya dan menemukan foto dirinya, Micho dan juga Damar. Persahabatan mereka yang manis terpecahkan hanya karna wanita. Apa yang sebenarnya terjadi saat itu? tanya Micho.
Rafa menerima beberapa notif pesan email dari bawahannya. Rafa menghela napas panjang, besok dia harus berbicara dengan Micho. Rafa berjalan ke arah tempat tidurnya, waktu menunjukkan pukul 22.00 tampaknya dia harus segera tidur dan mengistirahatkan tubuhnya.
😁😁😁😁😁
Pagi hari yang indah, suasana kamar pengantin tampak masih sepi. Jam menunjukkan pukul 05.00. Dan Pasangan pengantin yang baru akur itu masih saja menikmati hangatnya berpelukan.
Amara mengerjabkan matanya, menetralkan sinar lampu di dalam matanya, Amara merasakan kehangatan yang luar biasa. Amara membuka matanya dan tersenyum mana kala netranya menatap ke arah manusia tampan yang kini memeluk dirinya dengan posesif.
"Mas, ayo bangun." Amara menepuk pelan pipi Micho. Micho yang merasakan gerakan Amara segera membuka matanya dan menghadap kearah istrinya.
"Sudah pagi aja, padahal masih pengen posisi yang seperti ini." ucap Micho sambil menyusupkan wajahnya di dada Amara. Membuat Amara tertawa karena merasa geli.
"Mau kemana?" tanya Micho saat Amara mengangkat tangan Micho dengan pelan dari pinggangnya. Alih-alih melepaskan, Micho malah mengembalikan tangannya ke tempat semula dan membuat Amara susah bergerak.
"Aku ingin membersihkan diri mas, kita belum sholat. Sebaiknya kita segera bangun, lagi pula aku lapar." ucap Amara. Micho tampak diam dan mengamati wajah imut istrinya.
Amara memejamkan matanya, di pandang Micho seperti itu membuat dirinya malu.
__ADS_1
"Ayo segera bangun, jangan sampai kita telat turun." ucap Amara. Micho meniup mata Amara yang terpejam dan membuat Amara membuka matanya.
"Genit sekali sih," ucap Amara. Amara memaksa Micho menyingkirkan tangannya kemudian duduk dan mengikat rambutnya. Micho duduk juga dan menatap istrinya yang tetap cantik meskipun baru bangun.
"Aku mandi dulu," Amara menyibak selimutnya dan beranjak dari ranjangnya.
"Aku akan membantumu," ucap Micho sambil menurunkan kakinya ke bawah.
"Aku bisa sendiri," ucap Amara sambil tersenyum menahan malu. Amara berdiri dan sekilas menatap kaca, yang benar saja wajahnya tampak merah merona.
"Aku ikhlas, aku bantuin." ucap Micho sambil menyeringai tipis.
"Aku malu mas, aku akan mandi sendiri."Sanggahnya kemudian berlari ke arah kamar mandi.
Micho menggelengkan kepalanya, menggoda Amara menjadi sebuah hiburan yang menyenangkan baginya. Micho tampak tersenyum dan beranjak dari ranjangnya.
Amara keluar dari kamar mandi dengan menggunakan jubah handuk berwarna biru laut, rambutnya yang basah digulung dengan handuk kecil sehingga memperlihatkan leher jenjang yang membuat manusia di pojok ruangan menatapnya.
Amara tampak terkejut saat menangkap bayangan manusia yang mengamatinya dari pantulan cermin didepannya. Amara menoleh, Micho tampak menyilangkan tangannya didepan dada. Mengamati setiap gerakanya.
"Segera mandi, Mas." ucap Amara. Debaran jantungnya seakan maraton menatap wajah Micho yang terlihat segar dan tampan.
"Tidak lihat, aku sudah tampan seperti ini?" tanya Micho. Amara tersenyum dan mengangguk pelan. Pastinya suaminya itu kelamaan menunggu dia selesai.
Perlahan Micho mendekat kearah Amara, menatap hangat wajah cantik yang selalu membuat hatinya berdebar.
Amara terdiam, darahnya seakan berhenti. Amara membalas tatapan hangat sosok yang kini selalu menghantui otaknya.
__ADS_1
Micho mengulurkan tangannya mencoba mengusap pelan pipi mulus Amara. Namun, Amara mundur beberapa langkah.
"Ets, sebaiknya kita sholat dahulu, sebelum kehabisan waktu." ucap Amara. Micho tersenyum dan mengangguk pelan.
"Aku akan ganti baju sebentar," ucap Amara gugup, kemudian melangkahkan kakinya. Amara memejamkan matanya dan meletakkan kedua tangannya di dada. Micho benar-benar membuat dirinya bahagia.
😅😅😅😅😅
Tuan Milano dan dan Tuan Roy tampak berhadapan. 2 manusia paruh baya yang masih segar bugar walaupun usia tak muda lagi itu saling menatap dingin ke arah foto wanita cantik yang berada di atas meja.
"Namanya Rara, putri bungsu Rusdiantoro. Aku ingin dia celaka. Kau tau, dia begitu kurang ajarnya menolak pinangan anakku, aku tidak bisa membiarkan dia menikmati hidup dengan tenang!" ucap Tuan Milano.
"Berapa yang akan aku dapatkan?" tanya Roy dengan sinis.
"Berapapun, aku akan membayarmu. O iya, tampaknya dia mempunyai penjaga yang kuat. Bahkan Rayen putraku bisa babak belur karna serangan dari penjaga Rara," ucap Tuan Milano.
Roy tampak menyunggingkan senyumannya, baginya tak ada yang bisa mengalahkannya, dia tak akan gentar hanya dengan ucapan Tuan Milano.
"Okey, aku akan mulai mengerjakan besok, siapkan saja uangnya," ucap Roy.
"Kau tenang saja, bahkan aku membayar lunas kematian Kenzo dan Melati meskipun kau tak membawa jasadnya kepadaku," ucap Tuan Milano dengan senyum liciknya. Roy tampak pias, Kenzo dan Melati memang tak ditemukan jasadnya. Bahkan hidup atau matipun tidak ada yang tau kebenarannya.
Milano dan Kenzo adalah 2 pengusaha sukses yang bergelut dalam bidang properti dan olah raga. Milano tampak tak suka dengan kemajuan yang diraih oleh perusahaan Kenzo yang sedikit lebih maju darinya. Bahkan Melati, wanita yang dia cintai malah memilih Kenzo dan menikah dengan Kenzo. Dari situlah, muncul rencana jahat untuk menghabisi Kenzo. Namun, naas. Melati juga ikut tewas dalam sebuah perampokan besar-besaran yang kasusnya di tutup dan tak ada kelanjutannya itu.
"Harta Kenzo dan semua aset telah aku kuasai, namun semua surat berharga masih saja diatasnamakan putrinya yang sampai sekarang aku tidak tau keberadaannya." ucap Milano.
"Pasti kau melakukan banyak hal untuk mendapatkannya," ucap Roy.
__ADS_1
"Tentu, aku mengeluarkan banyak uang untuk itu," ucap Tuan Milano. Roy mengangguk pelan.
Milano menerawang jauh, disaat kejadian tragis yang menimpa keluarga Kenzo terjadi. Dengan sok pahlawan dia menawarkan diri kepada papa Kenzo untuk mengelola semua aset milik Kenzo. Dan setelah papa Kenzo meninggal dia menguasai segala macam bisnis milik Kenzo yang di atasnamakan prinses Sheyna A. Putri dari Kenzo dan melati.