
"Apa yang terjadi dengan Rara? " tanya Rafa. Nada memejamkan matanya. Dia tau betul ekspresi wajah yang lebih menakutkan dari ini yang akan dia hadapi jika mengatakannya.
"Kak, tenanglah. Aku akan mengatakan jika Kakak bisa tenang," ucap Nada. Rafa menghela napas panjang dan menatap Nada dengan tenang.
"Apa yang terjadi dengan Rara?" tanya Rafa lagi. Nada memejamkan matanya dan mencoba berbicara dengan hati-hati, mengingat betapa posesifnya Rafa pada adiknya.
"Rara kabur, Kak." Nada menatap cemas ke arah Rafa. Nada mempersiapkan diri menghadapi ekspresi Rafa karna kehilangan adik kesayangannya.
"Apa maksudmu? " tanya Rafa dengan sorot mata yang sulit dijelaskan.
"Kak, 2 hari yang lalu Rara menjadi korban pe-mer-kosa-an." ucap Nada terbata. Rafa membulatkan matanya sempurna, menatap tajam kearah Nada yang tampak ragu untuk menjelaskan kata-katanya.
"Jangan bergurau, Nada." ucap Rafa.
"Apa aku tampak seperti bergurau, Kak?" tanya Nada. Rafa mengusap kasar wajahnya.
"Bagaimana bisa terjadi? Bukankan kalian selalu bersama? " tanya Rafa.
"Maaf, Kak. Maaf karena aku tidak bisa menjaga Rara sehingga semua ini terjadi," ucap Nada.
"Siapa pelakunya? Kenapa kalian tidak mengatakan waktu itu juga?" bentak Rafa.
Nada terdiam mendengar segala celoteh Rafa. Bagaimana bisa waktu itu mengatakan pada Rafa jika Amara saja tidak mau. Amara memilih untuk bungkam dan mencoba menyelesaikan urusannya sendiri. Amara terlalu takut jika harus mengecewakan orang tua dan juga kakaknya.
"Maaf, Kak." ucap Nada.
"Siapa pelakunya? Hah?" tanya Rafa. Nada memejamkan matanya kemudian menatap Rafa lagi.
"Aku tidak tau, yang jelas Rara bilang Kakak mengenalnya." Nada berbicara sambil mengusap tangannya yang berkeringat dingin karna menahan cemas dan sesak didadanya. Rafa begitu antusias dan menatap Nada dengan tajam.
"Siapa maksudmu? " tanya Rafa.
__ADS_1
"Rara bilang Kakak bertemu dengannya di parkiran sesaat setelah wisuda selesai," ucap Nada. Rafa tampak berpikir. Sorot mata tajamnya menatap kearah sebuah gelas. Pikirannya melayang mengingat kejadian 2 malam yang lalu.
"Shiitt ... " umpatnya kemudian berdiri dan memijat pelipisnya.
Flash Back on
Rafa yang berjalan kearah mobil mendapati seseorang yang sangat familiar baginya. Rafa menatap wajah tampan di sebrang mobilnya. Seorang pemuda tampan yang seumuran dengannya.
Micho Adytia Pratama, pengusaha sukses dengan 2 perusahaan yang cukup besar dan beberapa cabang disetiap kota. Seorang yang pernah bersahabat dan terjadi perselisihan hingga mereka bermusuhan 3 tahun belakangan ini. Meski begitu, apapun tentang Micho Rafa tak mau ketinggalan.
"Micho,"
Suara yang terdengar familiar itu membuat Micho menoleh. Dilihatnya Rafa berada di sebrang sana. Micho yang saat itu sedang menghadiri pertemuan dengan beberapa Klien didekat universitas tampak sedikit berfikir, kenapa Rafa ada disana? Mau bertanya? itu bukan menjadi urusan Micho yang memang tak peduli dengan urusan orang lain itu.
Micho melangkah mendekati Rafa, mencoba berbicara dan mencoba meredam emosinya, mungkin saatnya mereka baikan setelah beberapa tahun terakhir ini terlibat perselisihan, pikir Micho.
"Selamat malam, Tuan Rafa." ucap Micho sambil mengulurkan tangannya. Rafa menatap Micho dengan sedikit menyunggingkan senyum sinisnya.
"Apa kabarmu? Lama tidak bertemu," ucap Micho sambil menahan emosi karna melihat Raga yang masih saja sinis padanya.
"Aku baik, lebih baik lagi jika kamu mau menyerahkan perusahaanmu padaku. Aku akan membayar kontan," ucap Rafa. Micho memejamkan matanya dan mengepalkan tangannya menahan gemuruh didadanya, ingin sekali menonjok wajah didepannya. Namun, akal sehatnya masih menempel dipikirannya dan tidak melakukan hal bodoh itu.
Micho tersenyum dan memandang kearah Rafa.
"Jangan bergurau Tuan,,," ucap Micho.
"Aku tidak pernah bergurau, mau berapa? tulis saja disini, Tuan Micho." ucap Rafa. Micho tampak emosi.
Dirinya benar-benar ingin meluapkan rasa marahnya nanti. Micho memutar arahnya, dengan langkah tergesa Micho menghampiri mobilnya disebrang sana dan menancap gas mobilnya. Rafa menatap kepergian Micho dengan wajah datarnya.
Flash Back off
__ADS_1
Rafa tampak terkejut, apa karna menawar perusahaan itu Micho marah dan menodai adiknya? Dari mana Micho tau tentang Amara? Sedangkan dirinya tidak pernah memperkenalkan Amara pada temanya? Apa mungkin Micho melakukan hal serendah itu? Bukankah pertikaian antara dirinya dan Micho dulu terjadi karna Micho memilih Sabrina dan mengabaikan Alea, Wanita yang dicintai Rafa tetapi Alea mencintai Micho? Lalu dimana Sabrina berada jika Micho melakukan hal itu pada Amara? Apa ingin menghancurkan ku lewat Amara? pikir Rafa.
Rafa menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya. Jika memang Micho tidak melakukan itu, lalu apa artinya Amara berbohong? bukankah adiknya itu tipe orang yang tak sanggup membohongi orang lain? Rafa benar-benar tak percaya dengan kenyataan yang dihadapinya. Wajahnya merah padam, Rafa mengepalkan tangannya membuat Nada ketar-ketir sendiri memandang kearah Rafa. Dilema melanda otaknya, berkali-kali otaknya mencoba berfikir jernih akan tetapi tidak mampu melakukannya.
"Kak," suara Nada membuat Rafa menoleh, menatap Nada yang juga berdiri didepannya.
"Lalu kemana Rara pergi? " tanya Rafa. Nada memberikan Tulisan tangannya kepada Rafa. Tadi Nada sempat mencatat alamat itu, sebelum lupa melanda otaknya. Rafa memejamkan matanya, menahan sesak didadanya. "Mau apa Rara kesana? " tanya Rafa setelah melihat alamat yang diberikan oleh Nada tadi.
"Tuan Micho akan menikah, Kak. Rara berencana menggagalkan pernikahan Tuan Micho." ucap Nada. Rada menggelengkan kepalanya. Wajah Rata terngiang diotaknya, dia tau bagaimana hancurnya hati Rara saat ini. Tidak bisa ditawar lagi, Rada menyambar konco mobilnya dan menarik tangan Nada mengikuti langkahnya.
Nada memejamkan matanya, sentuhan itu membuat dirinya merasakan detak jantung yang begitu cepat.
"Bi, katakan pada mama dan papa jika aku keluar kota karena urusan mendadak, " ucap Rafa pada asisten rumah tangganya.
Rafa menancap mobilnya dengan tenang, tangan kanannya fokus menyetir dan tangan kirinya menekan tombol diponselnya dan memasang alat ditelinganya. Nada hanya diam, mengamati wajah tampan yang kini tampak sedikit merah itu.
"Halo, Om. Aku Rafa,"
"Rafa? bagaimana kabarmu? lama kita tidak berjumpa? "
"Om, aku tidak ada banyak waktu. Tolong Om Prayoga hubungi Micho dan bujuk dia untuk mau menikahi Adikku. Kalo sampai Om gagal maka aku akan menghancurkan perusahaan Om," ucap Rafa.
"Apa maksudmu, Rafa? Siapa adikmu? kenapa harus Micho? "tanya Prayoga.
"Lakukan saja perintahku, dan gagalkan pernikahan mereka besok. Aku tidak mau tau, caranya!"
Rafa mematikan ponselnya dan sedikit bernapas lega, dengan menekan om Prayoga setidaknya Micho akan menurut. Meskipun dirinya seperti seorang Mafia yang bertindak kejam. Akan tetapi, baginya kebahagiaan adiknya adalah segalanya.
Sedangkan Prayoga masih syok dengan apa yang didengarnya, harus menggagalkan pernikahan anaknya? bukankah itu terlalu menyakitkan? dirinya memang tidak setuju, tapi bukan berarti harus mempertaruhkan kebahagiaan anaknya.
😊😊😊😊
__ADS_1
Like,komen ,Vote nya dong ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜kasih aku semangat.