Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
129


__ADS_3

Sebuah mobil ambulance melaju kencang menuju ke rumah sakit, bunyi sirine yang terdengar nyaring memekak telinga. Sesaat setelah sampai di rumahsakit, tampak beberapa suster mendorong brankar mendekat ke arah pria tampan yang membawa seorang wanita.


"Sus, beri perawatan terbaik untuknya," ucapnya sambil menggenggam erat wanita cantik itu sesaat setelah membaringkan wanita itu ke brankar. Pria itu tampak khawatir pada wanita yang kini di dorong menuju ruang icu itu.


"Maaf, Mas. Anda bisa menunggu di luar," ucap seorang dokter yang tampak tergesa menuju ke ruangan itu. Zidan, pria tampan itu mengangguk kemudian meraih ponselnya. Dia menghubungi kontak Om Kenzo.


"Halo Zidan, bagaimana?" tanya suara di sebrang.


"Sheyna aku bawa ke rumahsakit harapan, Om." jawabnya sambil mengusap kasar wajahnya.


"Okey, beri penjagaan yang memadai, Om dan tante akan datang kesana. Pastikan Sheyna mendapatkan perawatan yang terbaik," ucap Kenzo kemudian menutup ponselnya.


Zidan menatap kamar dimana Amara kini terbaring, Sheyna Amara wanita cantik yang menarik perhatiannya sejak pertama kali ia melihat foto yang di berikan oleh Kenzo. Takdir seakan baik padanya hingga dia bertemu dengan Amara di padepokan pelatihan bela diri miliknya.


Seorang dokter dan kedua suster tampak tergesa memberikan pertolongan pada wanita yang tampak lemah itu. Dipastikan wanita itu ke kurangan asupan dan dehidrasi sehingga tubuhnya melemah seperti ini. Mereka meletakan selang oksigen dan cuga infus untuk Amara.


Kenzo dan Melati segera berangkat ke rumahsakit dimana putri semata wayangnya berada. Putri yang terpisah lama darinya. Mereka menuju ke arah parkiran dan menancap gas mobilnya.


****


Di sebuah mansion yang mewah, beberapa dokter pribadi tampak mengusap peluh yang menetes di dahinya. Mereka telah usai mengeluarkan peluru yang bersarang di bahu Micho. Lelaki itu tampak membaik, sempat mengalami keadaan kritis tetapi keadaanya sudah stabil. Hanya saja pria itu masih enggan untuk membuka matanya.


Roy, lelaki itu memilih perawatan di rumah, lagi pula tersedia fasililitas kesehatan yang lengkap di rumahmya.


"Bagaimana keadaan putraku?" tanya Roy sambil menatap tajam ke arah 3 dokter tersebut setelah mereka keluar dari ruangan kesehatan.


"Pasien telah melalui masa kritis, tetapi dia belum sadarkan diri Tuan," sahutnya.


"Okey, kalian bisa kembali ketempat kerja. Dan kau Vanesa, kau tetap disini untuk membantu mengontrol keadaan putraku hingga dia membaik," ucapnya.


Vanesa, Dokter cantik itu mengangguk pelan. Dia melirik ke arah Micho, yang tetap tampan meskipun dalam keadaan yang mengkhawatirkan.

__ADS_1


"Saya akan tetap di sini, tapi saya akan keluar terlebih dahulu, Om. Mungkin om mau menengok putra om," ucapnya sopan.


Roy melenggang masuk, Roy menatap ke arah Micho. Memandang ke arah putra semata wayangnya, putra yang selama ini di bawah asuhan Prayoga.


Rasa sesal menggelayut di otaknya, bagaimana bisa Micho menyelamatkan wanita yang menjadi tawanannya? Wanita yang kata Milano adalah putri dari Kenzo dan Melati, orang yang dia bunuh beberapa tahun silam?


Roy mengusap kasar wajahnya, demi wanita itu Micho mempertaruhkan keselamatannya? Apa hubungan di antara keduanya?


Roy mengusap pelan puncak kepala Micho, Putranya yang begitu baik. Roy menghela napas panjang dan menghembuskan pelan.


"Micho, papa harap kamu tidak ada hubungan apapun dengan Sheyna Amara, karna oada kenyataannya kamu akan berpisah dengannya, dia adalah target kita," ucapnya pelan.


***


Suasana di gedung tua masih saja mencekam. Damar, Rafa, Raka masih dengan tenaga ektra mencoba melawan Rayen dan Milano juga beberapa komplotannya. Tak beberapa lama kemudian, terdengar bunyi sirine polisi yang kemudian menghentikan aktivitas mereka.


Rayen dan Milano beserta komplotannya, mereka bergegas berlarian menyelamatkan diri. Raka dan Rafa tampak menghela napas kasar mereka berlari ke arah mobil.


Sedangkan Damar segera menghampiri mobil yang berada di pojok jalan. Dia tau pemilik mobik itu adalah Andika Alexander, orang yang pernah bertemu dengannya beberapa kali.


"Sama-sama, sebenarnya ada apa ini?" tanya Andika sambil mengamati gedung tua yang tampak hancur itu.


"Penculikan, istri Tuan Micho di culik," ucap Damar. Andika mengernyitkan dahinya, Istri? Bahkan Beberapa minggu lalu Micho masih mengejar istrinya. Ternyata dia sudah beristri juga? batin Andika.


"Lalu bagaimana sekarang?" tanya Andika. Walau bagaimanapun Micho adalah sepupunya, dan dia ikut khawatir.


"Nona Amara di bawa ke ..." Damar tampak terperanjat kaget. Pasalnya dia tidak tau kemana Amara di bawa, dan kemana Micho berada.


"Kenapa Tuan?" tanya Andika.


"Maaf Tuan Andika, sepertinya saya harus segera pergi. Trumaksih atas bantuanya," ucap Damar.

__ADS_1


"Jika kau butuh bantuan hubungi aku," ucapnya. Damar mengangguk pelan kemudian melenggang pergi. Damar melajukan mobilnya menuju ke mansion keluarga rusdiantoro.


***


Isak tangis masih terdengar, kepanikan juga masih tercipta. Rafa dan Raka hanya bisa memejamkan matanya melihat keadaan ibunya yang menangis pilu. Papa Rusdiantoro hanya bisa menenangkan istrinya.


Amara dan Micho dimana belum ada kepastian. Bagaimana keadaan mereka juga belum di ketahui, bagaimana ini bisa terjadi? Apa yang sebenarnya terjadi?


"Pa, kita harus bagaimana?" tanya Rafa.


"Kerahkan orang untuk mencari mereka, semua ini terjadi tidak jauh dari kehendak Tuan Milano. Kau awasi dia," ucap papa Rusdiantoro.


Rafa mengangguk pelan, ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Rafa menghela napas kemudian bangkit dari tempat itu.


"Mau kemana Rafa?" tanya Raka.


"Aku mau ke tempat bela diri Amara, aku harap ada petunjuk dimana keberadaan Amara," ucapnya kemudian melenggang pergi.


***


Melati menggenggam tangan putrinya, air matanya mengalir deras. Kerinduan selama 23 tahun pada akhirnya terobati. Selama ini dirinya hanya bisa menatap dari jauh putri kesayangannya demi keselamatannya.


Namun, sekarang dia bisa memeluknya dengan hangat. Melati mengusap air matanya masih terngiang di otaknya bagaimana dokter mengatakan jika Putrinya dan janin yang di kandungnya yang berusia 4 minggu itu baik-baik saja.


Lalu, siapa ayah dari bayi itu? Apa putrinya telah menikah? Apa keluarga Rusdiantoro menyembunyikan pernikahan Amara? Kenapa dia tidak tau pernikahan itu? Micho, kata Zidab dekat dengan Amara, apa anak seseorang pembunub bayaran itu yang menjadi menantunya? Pembunuh bayaran yang mencoba menghabisi keluarganya?


Amara yang merasakan tetesan air mata di tangannya lambat laun tersadar, ia mengerjabkan matanya menatap langit langit kamar. Ingatannya tertuju pada satu waktu dimana ia melihat suaminya tertembak, menyelamatkannya, tumbang dan mempeelrlihatkan darah segar. Amara meneteskan air mata.


"Mas, Micho lirihnya,"


Melati yang me dengar suara Amara menatap putrinya. Hatinya sakit mendengar putrinya menyebut nama anak dari orang yang mencoba membunuhnya.

__ADS_1


"Sayang, kamu sudah sadar?" tanyanya. Amara menatap ke arah suara. Wajah itu mirip sekali dengan dirinya, siapa dia?


🤗🤗🤗🤗


__ADS_2