Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
Berteman


__ADS_3

"Wahhhh, kenapa tidak langsung ke rumah? Kenapa kalian berhenti di sini? Apa kalian pikir nenek dan kakek tidak khawatir?"


Suara itu membuat Amara dan Micho menoleh bersama. Amara berdiri dan menyambut nenek dan kakeknya yang berdiri disampingnya. Amara Bergantian memeluk kakek dan neneknya melepas rindu. Sedangkan Micho masih berdiri mematung menyaksikan istrinya yang melepas rindu pada kakek dan neneknya.


"Nenek dan kakek apa kabar?" tanya Amara sambil tersenyum. Nenek dan kakek tersenyum dan mengusap pelan rambut Amara.


"Alkhamdulilah nenek dan kakek baik, kami menunggu kabar bahagia dari cucu nakal seperti mu," ucap nenek sambil tersenyum. Amara tersenyum dan menyandarkan kepalanya di pundak kakeknya.


"Jadi, apa kamu tidak bermaksud memperkenalkan suamimu, bocah nakal?" tanya kakek. Amara mengangkat kepalanya dari pundak kakek dan mundur, Amara berdiri tepat di samping Micho.


"Ini Micho, nek. Suamiku," ucap Amara sambil memandang ke arah Micho. Micho sejenak terbuai, desiran hangat menjalar di hatinya. Di akui Amara sebagai suami di depan kakek dan nenek nya memberikan sensasi yang nyata di dalam hatinya.


"Micho, nek, kek." Micho memperkenalkan dirinya dan maju beberapa langkah menuju ke dekat nenek dan kakeknya. Menjabat tangan kakek dan neneknya dan mencium tangannya. Rasa bahagia menyelimuti hatinya, dari kecil tak pernah dia merasakan kenyamanan seperti ini. Hanya Amara yang memberikan semua ini padanya. Micho kembali berdiri dan menatap ke arah Amara yang semakin cantik karna terpaan angin pantai melambaikan rambut panjangnya. Amara yang semula memandang Micho segera mengalihkan pandangannya.


Nenek dan kakek tampak bahagia dan mengusap pundak Micho dengan pelan.


"Kamu harus kuat menghadapi Rara yang keras kepala dan semaunya sendiri. Jadi, kamu harus menjadi pendamping yang sabar, mengarahkan kebaikan," ucap nenek. Micho tersenyum dan melirik ke arah Amara yang juga meliriknya. Bibir Amara mengulas senyuman. Wajah yang tadinya sembab sudah hilang di telan senyuman.


"Kamu juga harus mengajari dia, bagaimana dia bisa menjadi istri yang baik yang mempunyai sopan santun pada suami. Misalnya, memanggil suami dengan panggilan yang baik, tidak memanggil mu hanya dengan namamu," ucap kakek panjang lebar menasehati Micho.


"Nek," Amara tampak menyembunyikan wajahnya di ceruk leher neneknya. Kakeknya tertawa melihat tingkah Amara yang dari dulu sangat manja padanya itu.


"Kenapa masih saja begini? Kau itu sudah punya suami," protes nenek Any pada cucunya itu.


"Sebaiknya kita berdua jalan-jalan, Nek. Kita biarkan mereka menikmati pantai ini," kakek Hanan menggandeng tangan nenek Any. Nenek Any tampak tersenyum dan mengangguk pelan.


"Kakek menyiapkan makanan untuk kalian disana, makanlah. Kakek dan nenek mau jalan-jalan terlebih dahulu," ucap kakeknya kemudian melenggang pergi.

__ADS_1


Amara tampak berdiri menatap punggung kakek dan neneknya yang menjauh dari pandangannya. Amara tersenyum melihat keharmonisan kakek dan neneknya. Micho maju selangkah, mensejajari Amara berdiri kemudian merangkulkan tangan kananya di pundak Amara. Tangan kirinya di masukan ke saku celananya.


Amara menatap Micho yang lebih tinggi dirinya. Mencoba menahan gejolak rasa yang bergemuruh di hatinya.


"Kau beruntung, terlahir sempurna dengan keluarga yang sempurna," ucap Micho sambil menatap hamparan lautan luas yang berhiaskan gelombang ombak yang berkejaran.


Amara menoleh ke arah Micho. Lelaki yang biasanya ketus dan menjengkelkan itu menampakkan wajah yang teduh. Amara melihat Kesedihan di mata Micho.


"Aku tidak pernah merasakan pelukan seorang ibu. Kau tau, Mama Hana memberikan nya kepadaku," Micho melepas rangkulannya dan melangkah maju, netranya mengamati indah pantai di depannya.


Amara merasakan sesak yang memaksa masuk ke hatinya. Tadi dia pikir mendekati Mama Hana adalah misi untuk melancarkan balas dendamnya. Nyatanya dia salah mengira. Amara melangkah maju dan berdiri tepat di hadapan Micho. Micho menunduk dan mengamati wajah cantik yang kini tepat ada di depannya.


"Iya, aku memang beruntung mempunyai mereka. Mereka adalah harta yang paling berharga," ucap Amara.


"Trimakasih telah memberikan aku kenyamanan 2 hari ini, Amara." Micho memejamkan matanya. Entah kenapa hatinya merasa sesak. Antara bahagia dan sedih bercampur menjadi satu.


Amara menghela napas panjang, mencoba untuk meresapi setiap kata yang keluar dari mulut Micho.


"Bukankah aku adalah orang yang sangat kau benci? Apa tidak salah kamu mempersilahkan aku berada di antara kalian?" tanya Micho.


Amara mengalihkan pandangannya. Menghela napas panjang dan mengeluarkan dengan tenang. Amara merentangkan tangannya ke samping dan menikmati udara pantai.


"Aku memang membencimu, tapi aku tidak berhak merampas kebahagiaanmu. Kau boleh melakukan apapun untuk membahagiakan dirimu," ucap Amara pelan. Micho menatap Amara dengan teduh. Wanita yang selama ini di anggapnya murahan ternyata mempunyai hati seindah berlian.


"Aku," Micho menghentikan kata-katanya saat Amara meletakkan jari telunjuknya di mulut Micho.


"Micho, kau sudah memberikan apa yang selama ini menjadi kemauanku. Jadi, aku juga akan memberikan apa yang menjadi maumu," ucap Amara. Micho memejamkan matanya, setiap kata yang keluar dari mulut Amara seperti tamparan untuknya.

__ADS_1


"Tuhan, apa Ini Amara yang sesungguhnya? Apa dia sebaik ini? Apa ini salahku? Dia menggagalkan pernikahanku karna kesalahan yang aku buat sendiri, aku membiarkan dia tenggelam dalam kesalah pahaman," ucap batin Micho.


"Amara, sebenarnya malam itu..."


Micho kembali membuka mulutnya dan Amara kembali menempelkan telunjuknya di bibir Micho.


"Aku mohon jangan lagi membahasnya, Micho. Aku sudah melupakan malam itu," ucap Amara seakan memohon. Micho terdiam, tatapan mata Amara seperti sihir yang membuatnya diam seketika.


"Tapi, ini penting Ra," ucap Micho sambil memegang pundak Amara. Amara tersenyum dan menepis tangan Micho.


"Sebaiknya kita berteman Micho, aku ingin kita melupakan masa lalu dan bahagia untuk ke depannya, sudah tidak ada beban di hatiku Micho, apa pun yang kamu inginkan katakanlah," ucap Amara. Micho hanya diam, hatinya merasakan sesak yang mendalam.


"Selain ingin berada di antara keluarga ku apa lagi yang kau mau?" tanya Amara. Micho hanya diam.


"Kau ingin aku menemui Sabrina?" tanya Amara. Micho tak menanggapi ucapan Amara. Bahkan nama Sabrina tak diingatnya beberapa hari ini.


"Jika itu yang kamu inginkan, aku akan melakukan nya. Kalaupun aku tidak bisa mengembalikan pernikahanmu, setidaknya aku akan membantumu untuk menjelaskan pada nya," ucap Amara sambil tersenyum memandang ke arah Micho.


"Sudah selesai bicara anda Nyonya Micho?" tanya Micho dengan sorot mata tajamnya. Amara terdiam dan melangkah kakinya menjauh dari Micho.


Micho berlari dan menyambar Amara dalam gendongannya. Amara berteriak sambil tertawa karna saking geli dan terkejutnya. Tangannya reflek melingkar di leher Micho.


"Sudah selesai?" tanya Micho lagi. Amara hanya terdiam.


"Apa permintaan pertemanan tadi masih berlaku?" tanya Micho sambil berjalan membawa Amara ke pinggiran pantai.


"Menurutmu?" tanya Amara.

__ADS_1


"Kau istri ku, berlaku atau tidak. Tetap harus berlaku," ucap Micho tegas sambil mendudukan Amara di kursi pinggiran pantai.


****


__ADS_2