Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
95


__ADS_3

Amara tampak panik. Jantungnya berdebar hebat saat wajah Micho semakin mendekat.


β€œTolong layani aku, Ra” pinta Micho. Amara mencengkram kuat bad cover dan beringsut mundur.


"Jangan sekarang, Mas," ucap Amara tampak sedikit khawatir dan takut, Amara menggigit bibir bawahnya, sehingga menambah keimutannya menjadi 360 derajat. Micho mengerutkan keningnya dan berdiri tegak. Dia tidak tahan dengan wajah imut istri cantiknya, ada nyawa kedua yang bangun yang berada di bawah sana. Micho menahan hasrat dengan menjauhi Amara.


"Jadi kamu membiarkan aku telanjang terus seperti ini? Aku kedinginan, Ra. Carikan baju milik Rafa, bukankan kau tau aku tidak sempat membawa satu baju pun," ucap Micho sambil mengusap kasar rambutnya. Amara membelalakkan matanya, dia pikir Micho meminta haknya. Amara memejamkan matanya mencoba menepis fantasi liar yang muncul dari otaknya.


"Oke, Mas. Aku pikir minta dilayani yang lain," ucap Amara sambil turun dari ranjangnya dengan senyuman. Micho mengamati gerak istrinya yang tampak semakin cantik saat menggunakan baju tidur berwarna hijau cerah dengan gambar keropi itu. Seulas senyum terbit dari bibir Micho.


"Ini, pakailah. Ada beberapa baju untukmu,"


Amara membawa beberapa paperbag kepada Micho dan menyerahkannya. Micho menerimanya dan tersenyum tipis.


"Sejak kapan kamu perhatian seperti ini pada ku?" tanyanya sambil memakai kaos warna navy yang pas di badannya.


"Mama yang membelikan sepulang dari rumah Kak Raka." jawab Amara. Micho tampak bahagia, Mama mertuanya begitu sayang kepadanya. Dia berjalan ke kamar ganti dan memakai celana pendek selutut yang diberikan Amara.


Beberapa saat kemudian, Micho keluar dari kamar ganti. Dia tak melihat Amara didalam kamar. Micho melangkahkan kakinya dan menuju ke balkon dimana Amara berada.


Mata Amara berbinar menampakkan kebahagiaan yang mendalam mana kala ia mendapati Micho berjalan ke arahnya. Pandangannya tak beralih dari manusia yang kini ada didepannya.


"Apa aku sangat tampan? Kenapa memandangku seperti itu, hem?" tanya Micho sambil memasukan kedua tangannya di saku celana. Dia berdiri di depan Amara yang mendongak menatapnya. Amara mengalihkan pandangannya mencoba menyembunyikan rona merah yang jelas terlihat di matanya.


"Kenapa narsis sekali sih?" ucap Amara sambil menahan senyuman di bibirnya. Micho tersenyum dan mengamati wajah cantik yang hanya berjarak 2 jengkal darinya.

__ADS_1


"Sekali-kali narsis pun tak dilarang. Lagi pula aku narsis pada istriku sendiri," ucap Micho. Amara mendongak dan mengamati wajah bersih dan tampan namun, sedikit lebam itu. Lagi-lagi dia harus tersipu malu saat Micho menggombal dan memandang kearahnya.


"Mas, lukamu sebaiknya aku obati," Amara memandang kearah tangan Micho yang berada di saku.


"Ini sudah tidak papa," tolak Micho sambil mengeluarkan tangannya dari saku dan memperlihatkan pada Amara.


"Yakin?" tanya Amara santai. Dia memajukan tubuhnya dan mengamati tangan Micho. Amara mendongak dan bertepatan dengan Micho yang hampir saja menunduk, sehingga keduanya saling menatap dan tercipta kecanggungan.


Amara mundur beberapa langkah dan mematap langit yang masih saja menurunkan rintik air hujan.


"Jangan menatapku seperti itu, Mas. Aku malu," ucap Amara saat Micho berdiri disampingnya. Micho menatap rintik hujan yang menyejukkan hatinya dan menyunggingkan senyuman.


"Kau tau, ada penyesalan yang mendalam di hatiku." ucap Micho, pandangan matanya masih mengarah pada rintik hujan. Amara menoleh ke arah Micho dan memperhatikan lelaki tampan itu.


"Lebih tepatnya menyesal karna menolak pernikahan denganmu. Jika tau di sampingmu nyaman seperti ini, aku tidak akan pernah menolak." ucap Micho.


"Aku rasa Kamu terlalu berlebihan," sanggah Amara.


"Aku tidak merasa seperti itu. Aku serius," ucap Micho. Ia mengusap pipi mulus Amara. memandang sorot mata indah yang mampu menenangkan hatinya.


"Sejak kapan kamu pandai menggombal, Mas?" tanya Amara. Debaran jantungnya seakan maraton menatap wajah Micho yang terlihat segar dan tampan.


"Sejak bertemu denganmu," jawabnya santai. Amara memejamkan matanya. Menyembunyikan binar mata indahnya yang memancarkan kebahagiaan.


Perlahan Micho mendekat kearah Amara, menatap hangat wajah cantik yang selalu membuat hatinya berdebar.

__ADS_1


Amara terdiam, darahnya seakan berhenti. Amara membalas tatapan hangat sosok yang dia rindukan.


Micho mengusap pelan pipi mulus Amara. Amara merasakan hawa panas yang menjalar ditubuhnya. Merasakkan debaran rasa yang sulit dijelaskan. Seperti sengatan listrik yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak."


"Aku kedalam duku mas. Sudah malam, tampaknya aku sudah sangat mengantuk," ucap Amara gugup, kemudian melangkahkan kakinya.


Namun, dengan gerakan cepat Micho menarik tangan Amara . Membuat gadis cantik iti tertahan ditempatnya. Amara berhenti, lagi-lagi ia merasakan debaran jantung yang tidak beraturan.


Amara menoleh dan memutar tubuhnya kemudian menatap kearah Micho.


"Mau kemana? Disini saja, temani aku," pinta Micho.


Amara terdiam, rasa sesak menyeruak didadanya. Micho perlahan mendekat, mengusap puncak kepala istrinya.


Micho mendekap erat tubuh Amara. Amara meneteskan air mata, merasakan kebahagiaan dan haru yang bersamaan didalam hatinya.


Amara terdiam membeku. Dia benar-benar bahagia, rindu yang menggebu seakan sirna karna perlakuan perlakuan lembut suaminya. Micho mengusap air mata Amara.


Micho mengangkat dagu Amara. Keduanya saling menatap dalam, melihat bibir ranum milik Amara membuat gejolak rasa yang menyeruak dihati Micho. Dia mengingat betapa manis bibir Amara yang mempu membuatnya terlena.


Perlahan Amara mengalungkan tangannya dileher Micho. Micho semakin tak bisa mengendalikan dirinya. Ada dorongan hasrat yang menggebu ketika mendapati wajah menggiurkan itu sangat dekat dengannya. Keduanya saling menatap teduh, semakin dalam dan semakin dalam.


Micho mulai mendekatkan wajahnya ke arah Amara, pelan, pelan Micho memiringkan wajahnya. Tubuh Amara mulai menegang dan memanas. Desakan hasrat aneh membuat keduanya tak ingin menjauh. Pada akhirnya kedua bibir mereka bertemu.


πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

__ADS_1


__ADS_2