
Prayoga menghela napas panjang. Keduanya terdiam dalam pikiran masing-masing.
"Papa sudah katakan padamu lupakan dia. Papa sudah bilang dari dulu padamu hanya Amara yang akan menjadi mantu papa. Bukankan sudah jelas?" ucap Prayoga.
Micho menghela nafas panjang. Entah bagaimanapun papanya egois, rasa sayangnya begitu besar untuk orang yang mengasuhnya sedari kecil itu. Mengasuh tanpa meminta imbalan. Memberikan kasih sayang tanpa syarat seorang diri. Hati Micho yang terlampau baik tidak pernah mau menyakiti hati papa angkat yang menurutnya bagai malaikat.
"Harus kamu tau, papa tidak pernah berskongkol dengan siapapun untuk menggagalkan pernikahanmu." ucap Prayoga panjang lebar.
****
"Sekarang kamu percaya kan? Aku akan terbang besok untuk menyusul kekasihku." ucap Amara pada Wendi. Wendi terdiam, ya tadi dia dengar amara bilang akan terbang kesana.
"Katamu kekasihmu memikirkan mantanya," ucap Wendi yang menyimak perbincangannya.
"Makanya aku kesana supaya dia tidak memikirkan mantannya lagi Wendi." sanggah Amara. Wendi terdiam.
"Aku tidak percaya," jawab wendi lagi. Beberapa saat kemudian Ponsel Amara berbunyi nomer baru tertera disana. Amara mengangkat ponselnya dan mengangguk.
"Iya om... insyaallah Amara bantu." ucap Amara diakhir kalimatnya. Wendi memandang ke arah Amara.
"Siapa?"
"Papa kekasihku meminta Aku kesana," bohongnya. Padahal Prayoga meminta dirinya untuk meminjami uang untuk perusahaan. Wendi menghela napas.
"Pergilah Wendi, kita bisa berteman." ucap Amara putus asa. Wendi tampak sedih.
"Aku Mau pergi kalo Aku melihat sendiri kamu mempunyai kekasih," ucap Wendi. Amara mengernyitkan dahinya.
"Bagaimana bisa?" tanya Amara.
"Besok Aku ikut terbang," ucap Wendi kemudian pergi.
Amara mematung dan menatap ke arah Nada. Nada tertawa melihat ulah Wendi yang meminta gerombolannya pulang. Wartawan dan semua rombongan Wendi pergi entah kemana.
"Nad, bagaimana ini?" tanyanya. Nada menggelengkan kepalanya.
***
"Papa menghubungi Amara. Dia akan terbang kesini besok," ucap papanya.
"Amara sudah mengatakan padaku juga tentang itu." jawab Micho.
"Ya sudah. Papa ingatkan padamu, papa sudah tidak mau membahas lagi tentang mantan kekasihmu itu. Papa hanya ingin Amara memberikan bantuan untuk perusahaan kita." ucap Prayoga.
__ADS_1
"Pa, jangan melibatkannya. Mico sudah mendapatkan celah untuk meminta suntikan dana. Micho akan berusaha," ucap Micho. Yang Micho tau, perusahaan yang dikelola saat ini adalah milik saudara tiri papanya yang diambil paksa oleh Alexander dan berhasil direbut papanya kembali. Prayoga menghela nafas panjang.
"Perusahaan mana?" tanya Prayoga.
"Info yang Micho dapat namanya ZATA STAR. Mico sudah memberikan external memo untuk menjalin kerjasama lewat e-mail tapi belum mendapatkan respon, Pa. Semoga saja mereka mau bergabung." ucap Mico. Prayoga mengangguk. Mengusap pelan pundak putranya.
"Okey, Papa berharap banyak padamu." ucap prayoga kemudian melangkah pergi.
Mico meraih ponselnya membuka galeri yang terkunci dan menatap wajah imut yang selalu menghantui pikirannya.
"Sabrina."gumamnya.
"Mungkin sekarang kamu jauh lebih cantik dari ini." ucapnya sambil mengusap pelan foto di galerinya. Foto yang tersisa setelah dirinya menghapus segala memori tentang gadis cantik itu, mencoba melupakan walaupun hatinya selalu mengingatnya.
"Maaf Pak Micho, boleh Aku mengganggu?" tanya seseorang yang kini berada di depan pintu.
"Masuklah Damar," sahutnya sambil meletakan beberapa berkas yang Ada di tangannya.
Damar berjalan ke arah kursi putar di depan Micho kemudian memberikan berkas pada Micho.
"Apa itu?" tanya Micho sambil mengamati berkas yang diberikan Damar. Micho membaca berkas yang kini ada di tangannya. Micho menghela napas panjang.
"Jadi kamu hanya bisa memberikan informasi ini?" tanya Micho sambil meletakan berkas itu, kemudian menatap Damar penuh tanya.
"Hanya itu yang bisa saya laporkan, Tuan Micho. Selebihnya belum ada hal yang penting," ucapnya. Berkas itu hanya memberikan informasi bahwa peluru yang beberapa hari lalu melesat ke arahnya adalah peluru mematikan yang dimiliki oleh orang tertentu.
"Lebih baik kita jangan memikirkan itu dulu, Tuan Micho. Sebaiknya kita memikirkan perusahaan," sela Damar. Micho memejamkan matanya dan melirik komputernya.
"Aku sudah mendapatkan petunjuk tentang perusahaan yang bisa memberikan suntikan dana, aku sudah mengirimkan proposal lewat email, tapi sampai saat ini belum ada respon," ucap Micho sambil menyesap kopi hitam kesukaannya.
"Perusahaan mana?" tanya Damar antusias.
"Zata Star,"
"Zata Star?" tanya Damar. Micho mengangguk pelan.
"Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik," lanjut Damar.
"Besok Amara akan terbang ke sini." ucap Micho sambil memasang wajah jutek nya. Damar tersenyum tipis, Amara? mendengar namanya membuat Damar tersenyum. Gadis cantik itu berhasil mengalihkan dunia Micho dengan unik.
"Dia menghubungimu?"
"Ya, dia merecoki hidupku. Wanita murahan itu semakin melunjak saja," keluh Micho.
__ADS_1
"Aku rasa kau harus mengikuti permainannya, setidaknya kau bisa mengelabuhinya dulu." ucap Damar sambil tersenyum.
"Maksudnya?"
"Kau itu sudah tua, masak gitu saja tidak tau!" ejek Damar. Micho melempar buku ke arah sahabatnya itu dan berhasil ditangkap Damar. Damar tertawa dan menggelengkan kepalanya.
"Katakan! Apa yang bisa Aku lakukan?" tanya Micho tegas. Damar membisikkan sesuatu, Micho menatap tajam kearah Damar.
"Kau pikir aku akan jatuh cinta pada nya? Tidak akan, aku bisa mempertahankan perusahaan dan hatiku dengan caraku sendiri." ucap Micho kemudian melangkah pergi.
******
Disebuah rumah yang megah seorang wanita paruh baya memeluk sebuah bingkai foto yang menampakkan wajah cantik putri semata wayangnya.
"Amara, pulanglah, Nak." lirihnya.
Flash back on
Deraian air hujan membasahi tubuh sepasang suami istri yang kini tengah mencoba kabur dari kejaran beberapa orang misterius. Mereka menyusuri gang sempit di pinggiran kota. Petir yang menggelegar di tengah derasnya hujan tidak menjadikan mereka berhenti berlari.
"Pa, berhentilah." ucap si istri dengan lantangnya.
"Ada apa?" tanyanya di tengah derasnya air hujan.
"Ada suara tangisan bayi," ucapnya sambil menajamkan pendengarannya.
"Bayi siapa yang menangis? Sebaiknya kita pergi, mereka akan semakin dekat!" ucap si suami. Si istri menggelengkan kepalanya.
"Tidak pa, aku akan mencari bayi itu." ucapnya kemudian berlari.
Suami menghela napas panjang dan mengikuti langkah istri, mata tajamnya mendapatkan beberapa orang yang mengejar mereka tampak berhenti dan pergi setelah memastikan suami istri itu tidak Ada di sekitar situ.
Suami menghela napas lega setelah mengetahui beberapa orang misterius itu pergi. Suami kemudian mengikuti langkah istrinya kesebuah gubuk kecil. Di gubuk itu tampak bayi perempuan yang cantik jelita. Sang istri yang menginginkan putri sangat bahagia. Dia mengangkat bayi kecil itu dan membelai wajah cantik itu.
"Pa, boleh aku membawanya?" tanyanya seakan memohon.
"Raka dan Rafa pasti bahagia jika punya adik secantik dia." ucapnya sambil melirik ke arah bayi mungil itu. Rusdiantoro mengangguk dan tersenyum, tak ada salah nya merawat bayi itu, karna mengikuti arah tangisan bayi itu dia selamat dari para orang misterius. pikir Rusdiantoro.
Hana tersenyum kemudian menatap ke arah tas yang berada disamping bayi itu.
"Tolong rawat putri kami siapapun yang menemukannya, kami dalam bahaya. Putri cantik kami bernama Princes Sheyna Amara."
Mama Hana meremas kertas kecil itu dan membuangnya.
__ADS_1
"Kamu bukan lagi princes Syena Amara, tapi kamu Sheyna Amara rusdiantoro. Gadis kesayangan keluarga kami," ucap Mama Hana.
Flash back off