
"Gajimu habis bulan ini, Damar." ucap batin Micho.
"Amara, sebaiknya kita ke rumah nenek. Apa boleh jika Damar juga ikut ke sana?" tanya Micho. Amara melepaskan pelukan Micho dan mengangguk pelan.
"Ayo kita pergi," ajak Micho. Amara mengulurkan tangannya menyentuh noda darah yang berada di pelipis Micho. Micho menggenggam tangan Amara yang berada di sana.
"Jangan menghawatirkan aku, aku tidak papa, Nona Sheyna Amara." ucap Micho. Amara tersenyum kemudian melepas genggaman tangan Micho. Amara memutar langkahnya, mencoba menyembunyikan rona merah yang kini menghiasi wajahnya.
Micho mengikuti langkah Amara, mereka kembali ke dalam mobil dan menyusuri jalan menuju ke rumah nenek Any dan kakek Hanan. Waktu menunjukan pukul 18.00 mereka baru saja sampai di rumah kakek Amara. Ketika mereka turun, Nada dan juga Rafa sudah berada di sana.
"Rara, kamu tidak papa?" sambut Nada di depan pintu, Nada menghawatirkan Amara sejak Amara menghubungi untuk meminta bantuan. tetapi, tidak mendengar pesannya dari Amara. Beberapa saat kemudian, Nada baru membukannya kemudian menghubungi Rafa dan memutuskan menyusul ke rumah neneknya.
"Aku tidak papa," ucap Amara. Nada mengamati wajah Amara dan mencoba mencari kebohongan di sana.
"Kamu tidak membohongiku?" desak Nada. Amara menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak bisa sembarangan memamerkan ilmu bela diriku. Lagi pula tadi aku di kunci Micho di dalam mobil," ucap Amara di telinga Nada.
__ADS_1
"Jelas, sekarang kau bersuami. Suamimu akan melindungimu," bisik Nada kembali dan disenyumi oleh Amara.
Sedangkan Rafa mendekat ke arah Micho dan Damar. Mereka saling diam, tak ada yang memulai pembicaraan, Rafa menatap tajam ke arah Micho. Micho juga melakukan hal yang sama, hingga pada akhirnya Damar mengulurkan tangannya ke arah Rafa.
"Apa kabar, Tuan Rafa." ucap Damar sambil memperlihatkan sedikit senyum canggungnya. Mencoba menghilangkan ketidaknyamanan.
Rafa hanya memandang uluran tangan Damar dan enggan untuk membalas, Amara Dan Nada yang berdiri tak jauh dari mereka bertiga berada tampak saling memandang. Amara menghela napas panjang, apa dia juga yang membuat kekacauan diantara persahabatan kakaknya? Amara berjalan menuju ke arah dimana 3 lelaki tampan berada.
"Kak Rafa, apa tanganmu keseleo?" Amara datang dengan wajah imutnya memandang ke arah Rafa yang memperlihatkan wajah sinisnya. Amara tersenyum kemudian mengambil tangan Rafa untuk membalas uluran tangan Damar. Rafa tampak syok melihat kelakuan adik kesayangannya.
"Kak, dia Damar. Asisten suamiku," ucap Amara lagi dengan senyuman seindah mentari. Micho yang tadinya tegang mengulas senyum yang menghiasi wajah tampannya. Diakui Amara sebagai suami di depan Rafa membuat kepercayaan dirinya meningkat 180 derajat. Ada energi tersendiri yang pada akhirnya membuat dirinya mengikuti permainan istri cantiknya yang kini menjelma menjadi temannya.
"Dan kalau kakak lupa, dia Micho. Micho Aditya Pratama, suamiku yang tampan." ucap Amara sambil menunjuk ke arah Micho. Lagi-lagi ucapan Amara membuat Micho bahagia. Rafa Dan Micho saling berpandangan. Akan tetapi enggan untuk saling berjabat tangan. Amara menatap keduanya bergantian.
"Apa tangan kalian keseleo semua? Atau mungkin meminta aku untuk mematahkannya?" tanya Amara. Tak ada reaksi dari Rafa maupun Micho. Amara berdiri di antara 2 pria tampan itu dan menatap keduanya bergantian.
Amara merasakan detak jantung yang tak beraturan. 4 tahun lalu, dia merasakan posisi yang sama. Jika waktu itu dia membuat keributan, dia bertekat untuk mempersatukan. Ya Amara tak mengetahui jika pertikaian yang terjadi diantara mereka terjadi jauh sebelum pertemuan dengannya.
__ADS_1
"Apa kalian tidak tau ada nenek dan kakek memperhatikan kita? Nanti kalian boleh berkelahi, aku yang akan menjadi wasitnya. Sekarang waktunya berpura-pura," ucap Amara sedikit pelan. Micho dan Rafa menoleh ke belakang. Yang benar saja, nenek dan kakek tengah memperhatikan mereka.
"Rafa, apa perlu nenek yang mematahkan tanganmu?" tanya neneknya tegas. Rafa mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Micho membalas uluran tangan Rafa. Rafa melihat senyum sinis dari Micho yang merasa menang karna di bela oleh 2 wanita tercintanya.
Micho sekarang benar-benar yakin betapa sayang Rafa pada adiknya, Amara benar-benar sanggup mengendalikan Rafa. Lelaki yang emosian itu mampu menahan segala emosinya hanya dengan satu kalimat permintaan dari Amara.
"Rafael Rusdiantoro," ucapnya tegas.
"Micho Aditya Pratama, suami tampan Sheyna Amara." ucap Micho.
Amara tampak tersenyum mendengar ucapan Micho. Damar juga memiringkan wajahnya menahan senyum. Nada menghela napas lega, sedangkan Rafa hanya memejamkan matanya.
"Amara, secepat inikah kau jatuh cinta pada manusia laknat sepertinya?" ucap Rafa dalam hati.
"Jadi kalian baru saling mengenal?" tanya nenek dan kakek saat tiba di depan beberapa anak muda itu.
"Mereka sudah kenal nek, hanya saja mungkin amnesia." celetuk Amara dan disambut tawa nenek dan kakeknya.
__ADS_1
😃😃😃😃😃