Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
Rindu Mama


__ADS_3

Disebuah rumah yang megah seorang wanita paruh baya memeluk sebuah bingkai foto yang menampakkan wajah cantik putri semata wayangnya.


"Amara, pulanglah, Nak." lirihnya.


"Ma, istirahatlah. Ini sudah malam, angin malam tidak baik untuk kesehatan Mama." ucap Tuan Rudi sambil mengusap pundak istri tercintanya.


"Mama merindukan Amara," ucap Bu Hana. Tatapan matanya masih mengarah pada bingkai foto yang digenggamnya.


"Mama rindu sekali dengan Amara, Pa. Mama takut Amara akan pergi. Mama takut, ada bahaya yang mengancam Amara." ucap perempuan paruh baya itu.


"Sudahlah, Ma. Jangan berfikir macam-macam. Amara pasti baik-baik saja, papa sudah meminta Rafa dan Raka untuk membawa Amara pulang minggu ini. Jadi, mama tenang saja, okey!" ucap Tuan Rudi sambil merangkul pundak istrinya. Memberikan Kenyamanan pada belahan jiwanya.


Rafa yang melihat orang tuanya hanya bisa diam, beberapa kali membujuk adiknya tidak membuahkan hasil apapun. Rafa menghela napas panjang dan mengambil ponselnya, mencoba menghubungi tante Elysa.


"Halo, Rafa. Ada apa Nak?" tanya suara di sebrang.


"Iya halo tante, apa Rafa bisa meminta bantuan pada tante?"


"Ada apa, Nak? Katakan," ucap Elysa sambil duduk di sofa apartemennya.


"Mama sakit, mama sangat merindukan Rara. Apa bisa tante membujuk Amara untuk pulang Besok?" tanya Rafa sambil menatap ke arah bingkai foto yang menampakkan wajah cantik Amara.


"Besok?" tanya Elysa.


"Ya, papa minta hari ini Amara segera pulang dan besok sudah di rumah. Tapi aku tidak bisa membujuknya," ucap Rafa. Elysa menghela napas panjang. Amara memang sangat keras kepala. Bahkan dikenalkan dengan Micho sampai saat inipun tak ada kabar kemajuan hubungan Keduanya.


"Okey, tante akan mencoba membujuknya, tante usahakan Amara sudah ada di rumah besok." ucapnya.


"Terimakasih Tante, maafkan aku selalu merepotkan tante," ucap Rafa. Rafa merasa lega Elysa Mau membujuk adiknya itu.


"Santai saja Rafa, tante akan Mengusahakan yang terbaik, mamamu adalah sahabat tante, bukankah sahabat itu saling membantu?" ucap Elysa sambil tersenyum. Rafa sedikit tersentam. Sahabat? Saling membantu? tanyanya dalam hati, Rafa mengingat bayangan Micho melintas diotaknya. " Kamu sahabat dan menikung dari belakang," batin Rafa.

__ADS_1


"Rafa, kamu mendengar tante, Nak?" tanya Elysa pelan.


"E ... iya Rafa mendengar Tan,"


"Kalo begitu tante pamit dulu, tante akan mememui Amara sekarang," ucap Elysa sambil menutup ponselnya. Elysa meraih tasnya kemudian menuju ke butik Sheyna bontique.


*****


Amara dan Nada sudah keluar masuk beberapa kali dari ruangannya. Wendi sudah dari pagi membuntuti mereka. Lelaki kemayu itu tidak main-main dengan ucapannya. Dia benar-benar akan mengikuti Amara terbang ke negara I.


"Nad, aku tidak bisa begini terus. Aku harus pulang sekarang, tidak mungkin aku menunda lagi untuk pulang hanya karna wendi, aku takut keadaan mama semakin memburuk," ucap Amara sambil menyambar tas yang berada di atas meja.


Ucapan Raka beberapa hari yang lalu menghantui otaknya, dia pun memutuskan untuk pulang hari ini. Dia juga sudah mengatakan pada keluarganya tahun ini akan pulang, dan besok akan membuat kejutan untuk keluarga besarnya.


"Okey, tenanglah. Sebaiknya kita berangkat sekarang. Wendi kita atasi bersama, biarkan dia ikut. Nanti kamu bisa minta bantuan Rayen atau siapa untuk jadi pacar pura-puramu." ucap Nada sambil menyambar tasnya. Amara tampak berfikir kemudian mengangguk setuju, keduanya melangkah pelan menuju pintu keluar.


Amara dan Nada keluar dari ruangannya setelah mereka menyerahkan pekerjaan pada orang kepercayaan. Wendi tersenyum melihat 2 orang wanita cantik itu sudah ada di depannya.


"Kalian sudah siap?" tanyanya.


"Jelas, Aku akan mengikuti kalian pergi. Amara akan tetap menikah denganku jika dia membohongiku." ucap wendi sambil mengedipkan matanya, Amara menggelengkan kepalanya. Tatapan matanya seakan jijik melihat wajah Wendi.


"Kenapa tidak disini saja sih?" ucap Amara agak jutek.


"Sayang, aku hanya ingin mengetahui kebenaran, aku ingin menjagamu."


"Kalo aku terbukti Mempunyai kekasih apa kamu mau berhenti menggodaku?" tanya Amara.


"Tentu, aku akan menyaksikan pernikahan kalian, jika itu terjadi aku janji akan berhenti mengganggumu," ucap Wendi. Amara menghela napas panjang. Memikirkan siapa yang bisa diajak kompromi dengannya.


"Amara, Ada apa ini? " tanya Elysa yang tiba-tiba muncul di butik Amara.

__ADS_1


"Tante, tante kesini?"


"Iya, tante merindukan mu, ada apa ini?" tanya Elysa sambil memgamati wajah Amara, Nada dan Wendi bergantian.


"Aku berencana pulang," ucap Amara.


"Serius?" tanya Elysa. Amara mengangguk pelan.


"Aku merindukan mama, Tan. Tapi..." Amara menghentikan ucapannya.


"Tapi apa, Nak?" tanya Elysa. Amara menarik Elysa ke dalam ruangannya. Elisa mengikuti langkah Amara.


"Ada apa? Apa yang kamu khawatirkan, Nak?" tanya Elysa sambil mengamati wajah murung Amara.


"Wendi Tante, wendi merecoki aku, aku bingung menghadapinya."


" Apa yang dia mau?"


"Wendi mau ikut aku, aku kemarin bilang padanya aku sudah punya kekasih. Dia nggak percaya, dia bilang mau lihat sendiri kekasih aku. Dan dia mengancam akan menikah denganku jika aku membohonginya," ucap Amara panjang lebar.


"Lalu, kamu takut?" tanya Elysa.


"Aku takut, jika Wendi benar-benar menikahi aku di depan papa. Aku tidak sanggup, tapi Aku bingung, Te,"


"Kenapa bingung? kamu punya kekasih, untuk apa kamu bingung?" ucap Elysa sambil menutup ponselnya.


"Maksud Tante?" tanya Amara


"Kamu punya Micho, kenapa tidak di coba? Bukankah saling membantu tidak dilarang? Kalian bisa bekerja sama untuk itu," ucap Elysa. Amara tampak berfikir dan terdiam di depan Elysa.


Amara memejamkan matanya. Micho, Apa Aku mampu bertemu dengan Micho? Apa manusia laknat itu mau berkompromi denganku? batin Amara. Amara terdiam.

__ADS_1


"Sayang, kamu melamun? tenang kan pikiranmu, Tante yakin kamu bisa," ucap Elysa, Amara menghela napas panjang dan mengeluarkan pelan.


😍😍😍😍😍😍


__ADS_2