
Micho mengusap kasar wajahnya. Harapanya ingin segera pulang untuk memeluk istriya. Kenapa malah harus tidur di luar?
"Sayang, di mana bisa aku tidur tanpa kamu. Cobalah mengerti, lagi pula mana pantas aku memakai piama warna pink," ucap Micho.
Tak ada sahutan dari Amara. Micho memejamkan matanya. Dia terlalu lelah hari ini, mau tidak mau dia harus tidur di kamar tamu. Micho berjalan ke arah kamar tamu dan membaringkan tubuh lelahnya di sana.
Amara menatap jam yang menunjukan pukul 22.00. Sampai hampir larut dirinya juga tidak bisa memejamkan matanya. Rasanya dia ingin tidur sambil memeluk suaminya. Amara menurunkan kakinya, berdiri kemudian berjalan ke arah dimana Micho berada.
Dengan hati-hati, Amara membuka pintu kamar tamu. Dilihatnya Micho tengah tertidur dengan nyaman. Amara mengusap pelan wajah Micho dan memandang wajah tampan itu. Entah, Amara merasakan sesak di dadanya. Rindu akan pelukan suaminya. Amara meneteskan air mata.
Micho merasakan sentuhan tangan di pipinya, Micho meletakan tangannya di pipinya juga. Menggenggam tangan Amara yang berada di sana. Micho menarik Amara hingga wanita cantik yang sempat terkejut itu kini tengkurap di atas tubuhnya. Mereka saling memandang, Micho memiringkan badannya pelan hingga mereka saling berhadapan.
Sebenarnya tadi dia juga tidak bisa tidur, ia memejamkam matanya saat hendel pintu bergerak. Mana bisa dia tidur tanpa memeluk tubuh Amara?.
"Kenapa menangis? Hem," Micho menatap wajah cantik Amara yang sangat imut meskipun sedikit pucat.
"Aku pengen di peluk kamu," ucap Amara sambil mengusap air matanya. Micho tersenyum dan mengulurkan tangannya mengusap pipi Amara.
"Hanya itu?" tanya Micho. Amara mengangguk pelan. Micho meraih tubuh mungil Amara, memeluknya dengan posesif. Amara mencari kehangatan di dada bidang Micho. Berada dalam rengkuhan Micho membuat dirinya nyaman sekali.
"Apa masih pusing?" tanya Micho khawatir.
"Tidak, Mas. Kalau sudah tidur pusingnya hilang. Tapi sekarang aku ...,"
Hukk....
Sebelum sempat terbangun dengan sempurna, akhirnya Amara memuntahkan isi perutnya di baju Micho. Micho memejamkan matanya menatap Amara yang duduk di sisi ranjang dengan menutup mulutnya dan berlari ke kemar mandi.
Micho memejamkan matanya dan menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa? Kenapa hari ini dia harus emosi tingkat dewa karna istrinya? Dengan mencoba menahan emosi Micho mengambil baju kemudian mengganti bajunya. Ia berjalan ke arah toilet dan memijat pundak Amara yang sekarang memuntahkan isi perutnya dan tampak pucat sekali.
Rasa marah yang tadinya mendera berganti dengan rasa khawatir yang berkepanjangan.
__ADS_1
"Sayang, are you oke?" tanya Micho. Amara mengusap mulutnya dengan air dan menatap Micho yang kini memakai piama pink yang tadi sempat tidak di pakainya.
Amara yang tadinya merasa kesakitan kini menyunggingkan senyuman, ada rasa bahagia ketika melihat Micho memakai baju yang dia pilihkan.
"Jangan tertawa, apa lucu? Ini juga terpaksa karena aku tidak mungkin mengambil baju lain saat tanganku kotor," ucap Micho.
"Maaf Mas, aku tidak bermaksud untuk mengotori bajumu," ucap Amara pelan.
"Hem, lupakan. Sepertinya kamu memang tidak enak badan, besok aku akan mengantarmu ke dokter. Sekarang sebaiknya kita kembali ke kamar. Aku sudah membuatkan teh hangat untukmu," ucap Micho. Micho mengangkat tubuh Amara. Amara sontak melingkarkan tangannya ke leher Micho.
Micho mendudukan Amara di sofa dan memberikan secangkir teh untuk Amara.
"Besok pagi kita panggil Dokter Hani, atau mau sekarang?" tanya Amara.
"Enggak ah, lagian aku cuma mual nyium parfum kamu tadi. Ini udah ganti baju kan? Ya udah nggak usah pakai parfum lagi," ucap Amara. Micho mengernyitkan dahinya. Memang sih parfum yang dia gunakan baru. Apa baunya sangat tidak enak sehingga membuat Amara muntah? Pikirnya.
"Iya baru memang, tadi aku mau pamerin ke kamu. Apa baunya sangat tidak enak?" tanya Micho. Amara memijit pelipisnya pelan kemudian meneguk teh hangat yang di buatkan Micho.
Amara memejamkan matanya dan mengarungi samudra mimpi yang indah. Terdengar dengukuran halus, Micho semakin mengeratkan pelukannya. Micho menatap wajah cantik Amara menciumnya dengan mesra.
"Kamu, wanita istimewa dalam hidupku. Jangan pernah menangis, bahagialah selalu." lirih Micho.
***
Micho melirik jam yang berada di dinding yang menunjukan pukul 5 pagi. Di liriknya Amara yang masih tertidur pulas, Micho melepas pelukannya hingga Amara menggeliat.
"Morning," ucap Micho saat Amara membuka matanya. Amara tersenyum, ia memdapatkan ciuman mesra di puncak kepalanya.
"Morning juga Mas, shalat dulu yuk! Ajak Amara.
Micho mengangguk. Keduanya membersihkan diri dan melaksanakan ibadah bersama. Tak lama dari itu, mereka menghabiskan waktu di sofa sambil menatap acara masak yang live setiap minggu pagi.
__ADS_1
Saat ini, menu yang di masak adalah Nasi goreng sepesial. Amara melirik ke arah Micho yang juga menatap ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Micho. Dia memcium gelagat yang tidak enak pada tatapan istrinya.
"Mas, masakin nasi goreng seperti itu dong. Hari ini liburkan?" ucap Amara sambil tersenyum.
"Kamu yang masak, aku temenin deh," ucap Micho. Amara menggeleng pelan.
"Kamu yang masak aku temenin, itu kan cef nya lelaki mas. Aku pengennya kamu yang masak," rengek Amara. Micho memejamkan matanya dan pada akhirnya mengangguk pelan.
Keduanya berjalan ke dapur, menyiapkan beberapa perlengkapan. Micho mulai menghaluskan bumbu dan memasukan ke dalam wajan. Bau harum menyeruak hingga pada saatnya Micho menuang kecap pada nasi.
"Mas, kenapa di kasih kecap sih? Aku kan nggak suka," ucap Amara ketus.
"Sayang, ini hanya sedikit." ucap Micho mencoba membujuk. Sejak kapan Amara tidak suka kecap? Biasanya dia paling hobi menuang kecap.
"Aku bilang tidak suka ya tidak suka, kamu masak lagi!" ketusnya. Amara tampak menyedekapkan tangannya di depan dada dengan raut wajah marahnya.
Micho memejamkan matanya. Rasanya emosinya berada di ujung tanduk. Micho mematikan kompor dan menghempas kasar spatula sehingga menimbulkan bunyi yang nyaring.
Amara terkejut dan menatap Micho yang menampakan wajah dinginnya. Micho berjalan ke arah Amara dan menatap tajam ke arahnya.
"Aku sudah sabar menghadapimu sedari malam, harus bagaimana lagi aku bersikap? Hem? Jangan seperti anak kecil yang selalu minta di mengerti tetapi tidak mau mengerti perasaan orang lain," ucap Micho tegas kemudian melangkahkan kakinya ke luar rumah.
Amara memejamkan matanya, buliran air mata menjatuhi pipinya. Dia juga tidak tau ada apa dengan dirinya. Amara mengejar Micho dan menarik tangan Micho. Mereka saling berhadapan. Hari ini hari minggu yang biasanya menciptakan momen yang indah. Tapi kenapa hari ini malah ada drama seperti ini?
"Mas, maafkan aku. Aku ..."
"Aku mau nyari udara segar, kalo mau makan pesen aja." ucap Micho kemudian melepas tangan Amara dari tangannya.
Amara mengusap air matanya, menatap punggung Micho yang menjauh dari pandangannya. Sedih, sesak, menyeruak di dadanya.
__ADS_1
😍😍😍😍😍