
"Nada... tau aja aku lagi pms dan males gerak. Baik banget nyiapin sarapan," ucap Amara sambil berdiri.
"Astaga,,," ucapnya kemudian melipat bad covernya yang kotor. Amara menyambar ponselnya dan membaca pesan dari Nada.
Sepulang dari apartmenmu kakiku terkilir, aku tidak bisa menemanimu, aku harus istirahat. Maaf ya sayangku. Kamu sebaiknya cepetan pulang. Mama Hana tampaknya merindukanmu, mama menelpon semalam. oh iya, 3 hari lagi ada reoni. Sebaiknya kita have fun, izin suami ya...
Amara menghela napas panjang. Nada memang selalu ceroboh dan selalu celaka. pikirnya. Kata terakhir dalam pesan Nada membuatnya terkekeh.
"Suami macam apa yang tidak perduli pada istrinya yang tidak pulang semalaman," gerutunya sambil mengemas bad cover ke dalam kamar mandi.
Oke my lovely friend, aku akan pulang. BTW makasih udah gantiin baju aku, juga menyiapkan sarapan buat aku. Balas Amara sebelum berjalan ke kamar mandi. Nada mengernyitkan dahinya.
"Menggantikan pakaian, menyiapkan makanan? Aku tidak melakukannya, Lalu..." Nada menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Bibirnya tersenyum. Micho Aditya Pratama kah? Nada menutup dirinya dengan selimut, membayangkan hal yang membuat otaknya traveling.
****
Amara telah rapi dengan dres cantik selutut, Amara menggerai rambut panjangnya dan menyambar tas tangannya. Hari ini rencananya mau ke rumah kakek dan neneknya yang dekat dengan pantai, namun karena Nada sakit ia tampak mengurungkan niatnya.
Amara menatap ponselnya, kontak kekasih hati hati tampak berkali-kali memanggilnya tadi malam. Amara menghela napas panjang dan memejamkan matanya.
"Ini hudupku, rasanya tidak ada gunanya aku mencoba mencuri cintamu, tidak ada untungnya. Masa bodo, lagi pula dengan berstatus pernah menjadi istrimu telah membebaskan aku dari ketakutan yang selama ini menguasaiku, jika kita pada akhirnya berpisah, setidaknya aku telah berstatus janda. Bukan lagi gadis yang kemudian menghancurkan hati suamiku dengan statusku," ucap Amara kemudian melangkahkan kakinya.
Amara menyambar kunci mobilnya dan mengarahkan mobilnya menuju ke rumah Raka. Ya, dia ingin mengajak Oliv keponakannya ke pantai.
"Pagi, kak Anin."
"Pagi, pengantin. Cantik sekali, mau kemana?" tanya Anin sambil mengamati wajah cantik iparnya.
"Aku mau membawa Oliv, mana dia? Aku akan mengajaknya ke rumah nenek dan kakek," ucap Amara.
"Apa kamu kesiangan bangun karna terlalu nyenyak tertidur?" tanya Anin. Amara mengerutkan keningnya. Anin tersenyum dan mengusap pelan pundak Amara.
"Aku kesiangan?" tanya Amara memastikan.
__ADS_1
"Hem, Olive sudah terlebih dulu di jemput uncle Micho dan diajak ke rumah mama," ucap Anin.
"Apa?" tanya Amara terkejut.
"Kenapa terkejut? Uncle juga bilang kamu masih tidur, kamu lagi PMS makanya susah bangun," ucap Anin panjang lebar. Amara menautkan kedua alisnya.
"Micho tau aku PMS? Micho tau aku kesiangan, tadi malam baju aku juga ganti? Aku juga bermimpi di peluk olehnya, apa jangan-jangan..." Amara memejamkan matanya berusaha untuk menepis segala kegundahan di hatinya. Dengan pelan Amara membuka pesan balasan dari Nada sahabatnya.
Kau pikir aku sebaik itu? Kau pikir aku mau berkorban mengganti bajumu? Aku tidak sebaik itu, Nona Amara.
Amara memejamkan matanya. Tidak salah lagi, Micho adalah orang yang telah melakukan semuanya.
"Ra, kamu baik-baik saja?" tanya Anin. Amara tersenyum dan beranjak dari tempat duduknya.
"Kak, aku pamit dulu,"
Amara menyambar kunci mobil dan melaju menuju ke arah rumah mamanya. Beberapa menit kemudian, sampailah Amara di depan rumah mamanya.
Amara memarkir mobilnya dan segera turun dari mobilnya kemudian berlari ke dalam rumah. Dilihatnya di taman belakang, Mama Hana, Papa Rudi, Raka, Micho dan Oliv tampak bercengkrama. Mereka tampak tertawa bahagia.
"Hemm, istimewa. Kamu begitu cantik sayang. Mama bahagia melihat kamu bahagia, mama juga bahagia pada akhirnya kamu menikah. Nenek dan kakek pasti juga bahagia mendengar kabar ini, datanglah kesana. Suamimu yang pengertian dan baik itu telah mempersiapkan segala sesuatunya," ucap Mama Hana. Amara tersenyum, netranya melirik ke arah Micho yang bercengkrama dengan Raka dan papanya.
"Tuhan, kenapa dia pandai sekali mencari sensasi seperti ini!!!" ucap Amara dalam hati.
Micho yang mendapati Amara bercengkrama dengan mamanya segera berdiri kemudian melangkah ke arah mertua dan istrinya berada.
"Kita berangkat sekarang, sayang." ucap Micho. Amara menatap ke arah Micho dan tersenyum walaupun hatinya berasa dongkol.
"Iya sebaiknya segera berangkat, nikmati weekend kalian dengan bahagia," ucap mamanya dan papanya. Micho menggenggam erat tangan Amara dan menautkan jari jemari mereka.
Amara memejamkan matanya, merasakan irama detak jantung yang tak beraturan.
"Kami berangkat ma, pa. Pamitnya, Olive yang tadinya diam tampak rewel. Akhirnya Pasangan suami istri itu berangkat berdua.
__ADS_1
Mereka menikmati pemandangan indah di sepanjang jalan. Tak ada pembicaraan diantara ke duanya. Mereka hanya terdiam dalam pikiran masing-masing. Amara merasa penasaran dengan kebenaran kejadian tadi. Sedangkan Micho hanya diam seolah tak terjadi apa-apa.
Micho menyalakan musik salah satu band favoritnya. Hingga mereka larut dalam lagu yang mengisahkan Cinta dalam diam itu. Amara menatap luar jendela. Micho menghentikan mobilnya di pinggiran pantai.
"Kenapa berhenti? Ini belum sampai di rumah nenek," protes Amara. Micho terdiam dan keluar dari mobilnya. Amara memejamkan matanya kemudian keluar juga.
Mereka menikmati terpaan angin yang berhembus yang menampar wajahnya. Memandang indah pemandangan ombak yang berkejaran kesana-kesini.
"Kenapa melakukan semua ini? Bukankan kita hanya menikah sementara?" Amara membuka pertanyaan meskipun jawaban Micho menyakitkan nantinya.
"Aku hanya ingin membahagiakan mama, tidak lebih dari itu," ucap Micho. Amara tersenyum dan memandang ke arah Micho. Mereka beradu mata. Keduanya saling menatap lekat.
"Aku rasa tidak pérlu, kau tau. Mama akan terluka terlalu dalam jika sekarang kamu terlalu memberi harapan palsu padanya." ucap Amara. Wajah cantik yang biasanya tampak judes itu kini sangat teduh. Micho hanya diam. Entah kenapa hatinya tak trima mendapat protes dari Amara. Amara memandang Micho dan tersenyum tipis.
"Micho, boleh aku bicara?" tanya Amara. Micho menatap wajah cantik yang kini berhadapan dengannya.
"Bicaralah," jawabnya.
"Aku tidak lagi menuntut apapun dari pernikahan ini," ucap Amara. Micho tersentak kaget. Bukankan dari awal dia yang tidak mau, lalu kenapa sekarang tampak kecewa dengan ucapan Amara.
"Trimakasih, trimakasih telah memberikan pernikahan yang akan memperjelas statusku, trimakasih telah memberi aku waktu untuk bersama mama lebih lama. Aku tidak butuh cintamu, aku tidak butuh perusahaanmu, kau bisa ceraikan aku kapanpun kau mau, kau bisa hidup bahagia dengan wanita yang kamu cintai," ucap Amara sambil tersenyum. Tapi nya tanya rasa sakit Menggerogoti hatinya. Amara memejamkan matanya. Sedih atau harus bahagia? yang jelas dia tidak tau apa yang dirasakannya.
Micho memejamkan matanya. Hatinya sakit mendengar ucapan Amara. Kenapa dia tak trima, kenapa hatinya enggan untuk melepaskan wanita di depannya. Kenapa rasanya dunia runtuh menimpa tubuhnya? Tidak bisa begitu, dia belum puas membuat Amara menderita.
Amara memutar langkahnya dan menjauh dari Micho, Micho mengepalkan tangannya. Dadanya terasa Panas dan sesak.
"Jadi kau menyerah?" tanya Micho. Amara tersenyum sinis.
"Aku sudah mendapat apa yang aku mau, jadi aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi. Kenapa kau sedih? Apa jangan-jangan kau terpesona padaku?" ucap Amara.
"Kau tetap akan menjadi milikku, jika bukan aku yang memintamu pergi," ucap Micho tegas. Amara terdiam kemudian menatap wajah Micho.
"Kau bisa melakukan apapun, dengan atau tanpa persetujuanku bukan? Kau juga boleh jatuh cinta padaku juga," ucap Amara kemudian melenggang pergi. Micho mengepalkan tangannya dan mengeratkan rahangnya.
__ADS_1
🤣🤣🤣🤣