Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
bertemu Rayen


__ADS_3

Rafa dan Micho berjalan ke arah mobil, mereka saling berpandangan. Bahkan untuk saling berkata dan menyapa atau saling berbicara masih saja ada canggung di antara mereka.


"Micho kau mau pergi?" tanya Rafa pada akhirnya.


"Lalu? Kau pikir aku harus berdiri disini dan menunggu pengumuman yang tidak penting?" sungut Micho. Rafa menghela napas panjang. Harus bagaimana dia menanggapi ucapan menyebalkan yang dilontarkan adik iparnya itu.


Micho membolak-balikan ponsel yang ada ditangannya. Dia melirik Rafa yang tampak menyunggingkan senyum, entah senyum yang bagaimana.


"Kenapa kau senyum-senyum tidak jelas? Kau menertawakan aku?" tanya Micho. Setelah beberapa tahun saling diam. Mereka kini tampak saling menyapa. Micho bersandar di mobilnya. Rafa juga melakukan hal yang sama.


"Aku bahagia Tuan Micho Aditya Pratama," ucap Rafa sambil melirik kaca spion mobil Micho yang memperlihatkan wajah kusut Micho.


"Apa yang membuat mu bahagia? Apa kau bahagia karna aku menderita?" tanya Micho.


"Ya, tepat sekali tebakanmu," ucap Rafa. Micho memalingkan wajahnya dan mengusap kasar wajahnya.


"Sudah ku duga," ucap Micho. Rafa menatap ke arah Micho.


"Yang bisa menggagalkan atau meneruskan pernikahan ini adalah kalian sendiri, walaupun sekuat apapun badai menghantam, jika kalian sanggup untuk melalui maka kalian tetap akan bisa berlayar sampai tepi," ucap Rafa menatap. Micho tersedak udara mendengar ucapan Rafa itu, bagaimana bisa Rafa berbicara seperti itu.


"Kau masih waras?" tanya Micho pada Rafa. Rafa tersenyum.

__ADS_1


"Apa kau pikir aku gila?" tanya Rafa. Micho berdiri tegak memandang pintu utama kediaman Rusdiantoro. Memikirkan Amara membuat dirinya seakan menangis tanpa airmata.


"Mungkin saja," ucap Micho.


"Kau yang gila," sanggah Rafa. Micho menonjokan tangan kanannya ke arah pundak Rafa. Rafa menoleh dan menepuk pelan pundak Micho. Keduanya tertawa, mereka saling meraih dan saling berangkulan.


"4 tahun kita saling berdiam, dan sekarang kau mau menyapaku?" tanya Micho. Rafa tertawa.


"Bukan berarti masalah kita sudah usai, kita berdamai karna Amara," ucap Rafa. Micho tersenyum tipis dan mereka saling melepas rangkulan.


"Kau itu cemburu? mengaku saja," Rafa menepuk pundak Micho, Micho menepis tangan iparnya itu.


"Aku tidak tau. Jangan memaksaku untuk menjawab, lebih baik kau urus urusanmu, ada hal lain yang harus aku lakukan," ucap Micho.


*****


Saat ini Amara berada di depan Rayen dan Tuan Milano. Amara menundukan kepalanya setelah tadi melihat wajah 2 tamunya sejenak. Wajah cantiknya tampak tersembunyi.


"Jadi kedatangan kami kesini untuk melamar putrimu yang biasa saja dan tanpa keistimewaan itu," ucap Tuan Milano dengan senyum sinisnya.


Amara terkesiap kaget mendengar ucapan Tuan Milano. Dia menatap ke arah Rayen yang mendongak dengan kesombongannya.

__ADS_1


"Tidak ada keistimewaan dan kau mau melamar? Lelucon macam apa yang kau buat?" tanya papa Rusdiantoro dengan sorot mata tajam dan bibir sinis elegannya. Bibir sinis yang membuat Micho kelimpungan 😂😂.


"Aku tidak sedang melawak, memang tidak ada yang harus dibanggakan dari putrimu bukan? dia hanya standard wanita, aku hanya menuruti kemauan Rayen anakku." ucapnya.


Amara menghela napas panjang, rasanya ingin mendepak mulut rongsokan di depannya dengan sendal. Papa Rusdiantoro tampak mengeratkan tangannya.


"O, jadi selera putramu hanya wanita standar saja?" tanya Papa Rusdiantoro. Tuan Milano berdecih.


"Putrimu yang kau bilang baik, dan juga cantik ternyata mabuk dalam club beberapa hari yang lalu, bukankah sama saja bejatnya dengan wanita di luaran sana?" tanya Tuan Milano.


Amara memejamkan matanya. nyatanya kesalahan satu kali akan mengakibatkan kerugian yang mendalam untuknya. Hanya karna minum saat itu, kini harus mendapatkan caci maki dari orang lain.


"Jadi kau tau karna melihatnya?" tanya Papa. Tuan Milano tersenyum sinis.


"Ya, Rayen melihat putrimu disana dan meminta ku kesini untuk melamar," ucapnya.


"Ya, berarti Rayen bukan pula anak yang baik," ucap papa Rusdiantoro.


Amara tersenyum kemudian menatap ke arah Rayen yang berdiri dengan kesombongannya. menatap Amara dan akan mengutarakan maksudnya, Amara menghela napas panjang dan mengeluarkan pelan.


"Hentikan," tegas Amara.

__ADS_1


****


__ADS_2