
Tante Elysa dan Herman akan menjodohkan mu dengan putri temanya. Papa ingatkan, Papa tidak akan menyetujui pernikahanmu jika tidak dengan Nona Amara. Hanya Amara. Papa harap kamu bisa menolak dengan halus.
Micho mengerutkan keningnya, papanya masih saja melakukan hal yang sama. Selalu mengancamnya, Micho tak membalas pesan papanya. Dia memasukan ponselnya di saku jaketnya.
Jangankan untuk menerima perjodohan, untuk berpaling hati saja rasanya tidak sanggup bagi Micho. 4 tahun berlalu dan dirinya masih saja enggan untuk membuka hati. Sabrina masih terus ada diingatannya. Amara? Wanita itu masih saja mengingatkan tentang sebuah kekecewaan. Kebencian menyelimuti otaknya dan tak ada ruang untuk memikirkan hal lain.
"Micho, kita berangkat sekarang?" tanya Damar sambil mengancingkan lengan bajunya.
"Hem," jawab Micho kemudian melangkahkan kakinya. Damar mengikuti langkah Micho dibelakangnya. Mereka melajukan mobil keep arah rumah Herman dan Elysa.
****
"Ini kenapa mereka nggak sampai-sampai sih," gerutu Elysa sambil memegang ponselnya yang tak diangkat oleh Amara.
"Yoga, coba hubungi Micho." ucap Herman.
"Halo, Ra. Kemana aja? kenapa nggak sampai-sampai Nak? kamu baik-baik saja kan?" tanya Elysa.
"Iya, Tan. Aku segera sampai kok,"
"Ya sudah, tante khawatir." ucap Elysa." Tante tunggu,"
__ADS_1
" Iya, sebentar lagi sampai tan," ucap Amara kemudian menutup ponselnya.
"Bagaimana Micho?" tanya Elysa pada prayoga.
"Sebentar lagi," ucap Prayoga. Tak lama dari itu terdengar deruman mobil berparkir did halaman. Mereka saling berpandangan.
"Akhirnya mereka datang juga, sebaiknya kita menyambut mereka." ucap Elysa dan diangguki oleh Herman dan prayoga.
Diluar rumah, 2 mobil dari arah yang berbeda saling berhadapan. Penumpang dari masing-masing mobil segera keluar, Amara berjalan menaiki anak tangga sedangkan Nada masih jauh dibelakang mengikuti langkahnya, begitu juga dengan penumpang mobil satunya. Micho sedikit terburu karna papanya mendesaknya, sedangkan Damar masih memarkirkan mobil nya. Di lantai yang sama, tangan Micho yang mencoba mempercepat jalannya menyenggol Amara yang tiba-tiba berhenti.
Amara yang tidak mempunyai keseimbangan yang kokoh memejamkan matanya. Dia takut Akan terjatuh, tapi seseorang menahan dirinya. Micho memandang wajah cantik didepannya, wajah seseorang dihadapannya yang memejamkan mata. Sejenak Micho terpesona, senyum tipis menghiasi bibirnya. Wajah itu begitu cantik dan sanggup mendebarkan hatinya. Tetapi, lama memandang wajah itu mengingatkan nya pada seseorang.
Damar dan Nada yang sampai di tempat hampir bersamaan terkejut melihat adegan romantis itu. Nada tersenyum. "Away yang baik," gumamnya. Memang wajah Micho belum terlihat jelas dimatanya.
Damar hanya tersenyum melihat adegan itu, Dia juga belum bisa melihat wajah Amara dengan jelas. Nada dan Damar saling berpandangan, mereka menyadari sesuatu.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Damara. Nada menggelengkan kepalanya, dia pun merasa pernah melihat wajah orang dihadapannya.
"Wahhh, ternyata ini yang membuat kalian tak sampai-sampai." ucap Elysa yang baru saja muncul dari balik pintu, membuat Micho dan Amara yang mencerna memori berdiri dan merapikan pakaian masing-masing. Amara dan Micho saling memandang. Mata Amara berkaca, dia melihat Micho. Lelaki yang tak dikenalnya. Tetapi, selama ini mengusik hidupnya, lelaki yang menghancurkan hatinya.
Micho, dia memandang wajah cantik dengan make up natural itu. Wajah cantik tetapi memuakan di matanya. Ya sekarang dia mengingat, bahwa wanita yang berdiri di hadapanya adalah wanita yang ditolongnya tetapi menghancurkan pernikahannya. Mereka saling beradu mata, saling menatap penuh misteri. Bayangan mass lalu berputar di memori otak masing-masing.
__ADS_1
Damar dan Nada terkejut, melihat wajah dihadapannya. Damar dan Nada saling memandang, mereka menyadari keadaan yang begitu rumit.
Prayoga yang menyaksikan pertemuan tak sengaja yang seperti telah di rencanakan sang maha penguasa merasakan senang, tetapi juga takut jika Micho melakukan hal yang memalukan.
"Jangan pandang-pandangan disini, lanjut aja didalam. Tante tau, pasti kalian saling terpesona kan?" tanya Elysa yang sekarang ada diantara Micho dan Amara. Elysa memandang 2 orang itu bergantian.
"Micho, dia Amara anaknya sahabat tante. Dan Kamu Amara, Dia Micho anak sahabat om Herman." ucap Elysa. Amara dan Micho saling diam.
"Kenapa diam? Salaman dong," ucap Elysa.
Micho mengulurkan tangannya, Amara membalas uluran tangan Micho.
"Micho Aditya Pratama," ucap Micho. Ini adalah perkenalan yang sesungguhnya untuk mereka berdua.
"Sheyna Amara," ucap Amara. Amara merasakan nyeri ditangannya, Micho menggenggam erat sekali, sama seperti saat dia menarik paksa Amara pergi dari rumah Sabrina kala itu.
"Micho, jangan erat-erat. Sakit nanti tangan Raranya," ucap Elysa. Micho tersenyum dan melepaskan tangan Amara.
"Sebaiknya kita masuk, kita makan malam dulu. Nanti kalian bisa lanjutkan lagi perkenalannya," ucap Elysa kemudian merangkul pundak Amara dan Micho dan melangkah ke rumah. Nada dan Dan Damar mencoba menahan gejolak hati yang takut Akan keadaan ini.
😍😍😍😍😁
__ADS_1