
"Kamu disini, aku akan menjemputmu besok pagi, " ucap Damar. Akhirnya dengan berat hati Micho mengangguk sambil mengikat lukanya yang tergores belati.
Micho menghela napas panjang, berusaha untuk melupakan tentang gadis itu. Namun nyatanya bayangan kebencian yang tampak dari sorot mata indah gadis begitu mengusik pikirannya.
"Aku akan mencarimu setelah acara pertunanganku berjalan lancar, agar tidak ada kesalah pahaman antara aku dan Sabrina. Akan kujelaskan apa yang sebenarnya terjadi malam itu, aku juga akan mengajak Sabrina menemuimu," ucap Micho kemudian mengusap kasar wajah tampannya.
Micho mengambil ponselnya, mencari nama papa di kontak HP nya. Berdering, dan orang disebrang tak kunjung mengangkat panggilan darinya.
"Hallo, Micho. Ada apa, Nak? " tanya suara disebrang dengan nada halusnya. Micho sedikit mencelos, bukankah dia sudah mengatakan sebelumnya jika akan bertunangan besok? lantas kenapa papanya seolah melupakan acara yang penting itu?
"Apa Papa tidak bersiap untuk mendatangi pertunanganku? Kenapa sepertinya papa tidak antusias sekali? " tanya Micho pada papanya. Papa angkat yang merawatnya sedari kecil, dan Micho begitu menyayangi lelaki paruh baya yang kini tinggal diluar kota itu.
"Sudah berapa kali Papa mengatakan jika Papa masih belum setuju kamu menikah? " tanya Papanya. Micho menghela napas panjang.
"Micho mencintai nya, Pa. Micho tetap akan melakukan pernikahan tanpa kedatangan Papa." sahut Micho. Prayoga menghela napas panjang.
"Kamu belum menyelesaikan tugasmu untuk mengambil perusahaan yang dikuasai orang lain, masih panjang perjuanganmu. Lagi pula usiamu baru 25 tahun, Micho." ucap Prayoga dengan suara suara beratnya. Micho terdiam mencoba menahan dirinya untuk tidak emosi.
"Pa, Micho mohon untuk kali ini saja Papa mendengar permintaan Micho,"
"Terserah padamu, Micho. Papa tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Papa hanya berharap kamu bisa berfikir jernih, maafkan papa besok tidak bisa menghadiri pertunangan mu." ucap papa nya kemudian menutup ponselnya.
Micho menghela napas panjang, yang dia punya hanya papa. Akan tetapi lelaki paruh baya itu kenapa enggan datang di hari pertunangannya? Semua terasa sesak bagi Micho, dirinya sangat faham jika papanya selalu saja berkata bahwa perusahaan milik adik tirinya dikuasai oleh orang lain yang sebenarnya dia juga berhak atas perusahaan itu.
Micho selalu saja meminta papanya untuk mengikhlaskan, dan mencoba memberikan yang terbaik kepada papanya dengan usaha keras, sehingga sekarang Micho sukses dengan usaha yang dia bangun. Akan tetapi semua yang dimiliki Micho juga tidak bisa mengalihkan perhatian papanya untuk lupa pada perusahaan itu. Micho lagi-lagi menghela napas panjang, mencoba menghilangkan sesak didadanya.
"Micho, apa yang kamu pikirkan? Kenapa kamu tampak gelisah?" tanya Damar. Micho menoleh dan menatap sahabatnya dengan tenang.
"Papa menolak menghadiri pertunangan ku, " jawab Micho.
__ADS_1
"Karna akan membuatmu lupa pada tanggung jawabmu? " tanya Damar.
Micho mengangguk pelan. Damar menepuk pundak Micho, dia tau bagaimana usaha Micho mendapatkan cinta dari Sabrina yang semula kekeh untuk mempertahankan cinta pada orang lain, sampai akhirnya mau membuka hatinya. Dan sekarang setelah bisa menyakinkan Sabrina, kenapa papa Micho seolah melarangnya? Damar tau betul perasaan sahabatnya itu, sahabat yang begitu menyayangi papanya tanpa sarat.
"Aku akan selalu ada dibelakang mu, aku mendukungmu. Jodoh tidak pernah tertukar, pasti Tuhan telah merencanakan hal indah pada waktunya, jika memang Sabrina jodohmu maka sampai kapanpun kalian akan bersama," ucap Damar. Micho mengangguk kan kepalanya dan tersenyum kearah sahabatnya.
Damar dan Micho melangkah pergi menuju ke kediaman Sabrina yang memakan waktu 5 jam dari kotanya. mereka memutuskan berangkat malam ini agar besok sudah beristirahat dan fres menjalani beberapa rangkaian acara pertunangan.
😊😊😊😊😊😊
Amara yang masih duduk diatas ranjang memejamkan matanya, ponselnya terus saja berbunyi. Amara melirik ponselnya yang menampakan nama Papa, Mama, Kak Raka, Kak Rafa dan Kak Anin secara bergantian. Wajah Amara menjadi sedih, rasa syok dalam dirinya membuat dirinya enggan untuk mengangkat panggilan dari keluarganya. Rasa bersalah yang dalam masih saja menggerogoti hatinya.
"Ra, angkat ! Kamu tau pasti keluargamu menghawatirkan mu, kasihanlah kalo mereka terus memikirkan mu," ucap Nada. Amara melirik Nada dan menyambar ponselnya.
"Hallo, Assalamualaikum Ma, "
"Walaikumsalam, Sayang. Bagaimana keadaan mu? Kamu tau, kami mengkhawatirkan mu. Kenapa tidak mengangkat telpon sejak kemarin? " tanya mamanya panjang lebar. Air mata Amara kembali mengalir dari mata indah yang mampu menaklukkan hati setip orang yang menatapnya itu.
Hari dimana aku kehilangan harta yang paling berharga. Sekarang aku tau alasan mama dan semua keluarga menjagaku. Pasti mereka ingin yang terbaik untukku. Sekarang, setelah semua hancur, aku baru menyadari semuanya? Tuhan maafkan aku yang dulunya selalu mengabaikan nasihat orang tuaku. batin Amara.
"Sayang apa terjadi sesuatu? " tanya Mamanya.
"Tidak, Ma. Amara baik-baik saja. Tapi Amara tidak pulang dulu sampai Amara benar-benar puas bemain dirumah Nada," ucap Amara. Mama terdengar menghela napas panjang.
"Sudah 2 malam kami menunggu mu. Lalu mau sampai kapan kami harus menahan rindu pada anak Mama yang paling cantik? " tanya mamanya. Amara mengerjabkan matanya. Air mata meleleh di pelupuk matanya. Nada mengusap pelan pundak sahabatnya.
"Ma, biarkan Rara menyelesaikan dulu apa yang harus diselesaikan, nanggung juga Ma. Rara akan pulang secepatnya, Rara juga merindukan Mama,"
"Okey, Mama akan sabar menunggu. Nanti hubungi papa dan Kakakmu. Mereka sangat mengkhawatirkan mu, Nak! "
__ADS_1
"Iya Ma... Sayang kalian."ucap Amara dan menutup ponselnya. Amara menangis tersedu dan memeluk erat Nada. Nada terus saja mengusap pundak Amara.
"Nada, Sebaiknya aku mendatangi lelaki itu sekarang juga... " ucap Amara. Nada tampak terkejut dan memandang kearah Amara.
"Tapi, Ra!" ucap Nada ragu.
"Jika kamu ragu, tetaplah disini dan aku akan pergi kesana sendiri." ucap Amara kemudian bangkit dari ranjang. Amara melangkah keluar kamar, Nada mengejar langkah Amara yang tergesa.
"Ra, jangan gegabah!" Nada menarik tangan Amara dengan kasar. Amara menatap Nada dengan sorot mata tajamnya.
"Nad, aku yang merasa tersiksa. Aku yang merasakan sakit. Aku tidak perlu kamu menemaniku jika kamu tidak sependapat denganku,atau tidak peduli denganku!" bentak Amara.
"Raa, jangan menuduhku. Aku hanya tidak mau kamu kenapa-napa. Aku menyayangi mu, Ra!" ucap Nada tak Kalah keras. Amara semakin terisyak.
"Okey, aku akan menemani mu. Tapi aku mohon tenanglah. Jangan bertindak bodoh, Ra. Aku tau apa yang kamu rasakan, aku tau. Tapi berfikirlah dengan tenang," ucap Nada. Amara tampak berfikir sejenak kemudian mengangguk dan tersenyum, Nada sedikit lega dan menepuk pelan pundak Amara.
Setelah berpamitan pada orang tua Nada, mereka menuju ke alamat dimana laki-laki itu tinggal.
😊😊
"Mama, bagaimana? Apa Rara menjawab panggilan mu?" tanya Papa.
"Ya, Mama rasa terjadi sesuatu dengan Putri kita, Pa." ucap Mamanya. Mama Ayu menghela napas panjang.
"Amara sudah besar, Papa yakin Amara bisa menyelesaikan masalahnya."
😊😊😊😊
Amara dan Nada berhenti di sebuah Rumah Megah di daerah kota B. Amara dan Nada mengamati Rumah yang megah itu, hampir sepadan dengan rumah yang dia tinggali. Amara menghela napas panjang dan mengamati ponselnya, mencocokan alamat yang tertera di ponsel dengan papan didepan rumah itu.
__ADS_1
😊😊😊
jangan lupa Like, komen dan juga voteee ya man teman.... 😄kasihhh aku semangat.