
"Mas, aku harus membuat perhitungan denganmu," geram Amara.
Amara memarkirkan mobilnya di depan, ia menoleh ke arah Olive yang tengah tersenyum padanya, ia juga menyunggingkan senyuman meskipun dia merasa dongkol. Dengan senyum yang di paksakan Amara meminta Olive untuk segera turun. Gadis kecil yang tampak bahagia itu keluar dari mobil dan menunggu Amara di samping pintu.
"Ayok kita masuk," Amara menggandeng tangan mungil keponakanya itu, dan tangan kirinya menenteng rantang makanan. Mereka menyusuri lorong dan menaiki lift menuju lantai 25. Setelah keluar dari lift, mereka berjalan menuju dimana apartemen milik Micho berada.
Amara membuka pintu dengan akses card yang diberikan oleh Micho. Ia menatap sang suami tercinta yang tengah membaca majalah dengan diam. Sudah dipastikan suaminya itu tampak geram.
Amara melangkah pelan, Micho yang mendengar langkah kaki yang mulai mendekat ke arahnya segera menutup majalah dan meletakan diatas meja. Ia mendongak dan mengamati 2 wanita cantik beda generasi itu. Micho berdiri dan menatap ke arah mereka.
"Siang Uncle," sapa Olivia sambil berlari ke arah Micho. Micho tersenyum dan merentangkan kedua tangannya. Olive tersenyum lebar saat Micho kini menggendongnya dan meletakan di pundaknya.
"Jadi apa kau meminta aunty menjemputmu?" tanya Micho. Olive tersenyum menampakkan giginya.
"Aku merindukan aunty, apa tidak boleh?" tanyanya. Amara meletakan rantang ke meja dan menatap percakapan hangat antara Micho dan Olivia. Bagaimana bisa dia sedekat itu dengan Oliv?
"Tadi aku balapan," ucap Olivia. Micho mengeryitkan dahinya dan menatap Amara yang tampak menatapnya dengan tajam.
"Balapan, sayang?" tanya Micho antusias.
"Hem, dan selalu aunty pemenangnya," ucap Olivia tersenyum bangga.
"Pemenang?" tanya Micho lagi. Dirinya geram menunggu lama, kelaparan, dan menelponpun tak mendapat jawaban. Lalu, istri cantiknya itu malah balapan? Micho menurunkan Olivia dan menatapnya penuh kasih.
"Sayang, kamu main disana dulu ya. Uncle mau memberi aunty hadiah karena menang balapan," ucap Micho sambil melirik ke arah Amara.
"Siap uncle," jawab Olivia kemudian berlari ke ruang bermain.
Micho menatap Amara dengan sorot mata dingin, ia melepas jasnya dan meletakan ke sofa. Amara hanya diam menatap Micho yang mengabaikan dirinya. Micho melipat lengan kemeja dan melonggarkan dasinya, membuat Amara melangkah mundur.
Micho melangkah ke depan dan mengikuti langkah Amara yang terus saja mundur.
"Mau apa kamu, mas?" tanya Amara sedikit takut. Micho terus saja mendekat sehingga Amara mentok di dinding. Tangan Micho berada di kanan dan kiri Amara, mengunci gerak istri cantiknya itu.
__ADS_1
"Aku bilang dirumah saja, apa kamu tidak mendengarku?" tanya Micho sambil berbisik di telinga Amara.
"Aku menjemput Olivia," ucap Amara tegas.
"Kenapa tidak memberi tau, atau sekedar menjawab panggilanku? Nyonya?" tanya Micho sambil mengusap pelan pipi mulus Amara. Membuat amara memejamkan matanya dan micho menyinggingkan senyum tipisnya. Beberapa jam tidak bertemu membuatnya merasa rindu pada sosok cantik di depannya.
Amara membuka matanya dan mendorong tubuh Micho.
Amara membuat gerakan hingga Micho melepas belenggunya. Micho mengibaskan tanganya, menangkis tangan Amara dan memeluntirnya hingga kini Amara berada di depanya. Mereka menghadap searah, tangan kiri micho mengunci kedua tangan Amara dibelakang, dan tangan kananya berada di pundak Amara.
"Tampaknya kamu itu memang suka aku dalam bahaya," Amara membuat gerakan, memundurkan siku tanganya hingga terkena dada Micho. Micho melepaskan tangannya dari Amara.
"Mana ada seperti itu?" tanya Micho.
Amara membalikan badanya, keduanya saling berhadapan. Entah, untuk mengungkap cinta serasa kelu bagi keduanya meski sudah melakukan sebelumnya. Micho mengulurkan tangan kanannya ke pinggang Amara, membawanya dalam pelukan hangat. Posisi seperti ini membuat Amara merasakan detak jantung yang tak beraturan.
"Jawab aku, kenapa tidak mengabariku?" tanya Micho. Tangan kokohnya mengusap pelan pundak Amara. Amara terdiam, mencoba menenangkan gejolak rasa yang berkecamuk dihatinya.
"Apa yang membuatmu tidak mengangkatnya?" tanya Micho lagi. Amara melepas pelukan Micho, menatap lekat wajah tampan penuh luka karna berkelahi beberapa waktu lalu. Amara mengalungkan lengannya dileher Micho.
"Apa yang aku lakukan? Hem? Bahkan aku tak melakukan apapun," tanya Micho sambil menyelipkan rambut Amara ke telinga.
"Tak melakukan apapun katamu?!" bentak Amara. Amara menggeleng pelan, mencoba keluar dari rengkuhan Micho namun tidak bisa.
"Mengirim orang untuk mengikutiku dan mengejar aku, membuat aku hampir celaka sehingga tidak bisa mengangkat ponsel. Lalu, ulah siapa kalau bukan ulahmu?" ucap Amara dengan tatapan tajam.
Micho membalas tatapan dari istrinya dengan teduh. Memandang 2 bola mata indah yang mampu memikat hatinya.
"Apa maksudmu?" tanya Micho pelan.
Amara menghela nafas panjang. Rasanya sulit mempercayai ini semua. Bagaimana bisa Micho masih bertanya ada apa?
"Omong kosong macam apa yang kamu ucapkan, Tuan Micho? Jangan belagak tak tau, kamu kan yang mengirim bodyguard untuk menakutiku? Kamu boleh marah karena aku keluar rumah. Tapi tidak begitu jugakan?" tanya Amara. Kepalanya mendongak karna Micho lebih tinggi darinya.
__ADS_1
Micho menyentuh pipi Amara. Senyumanya mengembang, namun hatinya perih karna Amara menuduhkan sesuatu yang tidak dilakukannya.
"Aku benar-benar tidak melakukan apapun, aku lapar, Sayang. Sedari pagi belum makan dan kamu tidak dirumah. Bagaimana bisa aku diam? Aku menghawatirkanmu,"
"Menghawatirkan katamu? bagaimana bisa? Kamu itu hampir saja mencelakakan aku mas. Aku membawa Olive, bagaimana kalau dia kenapa-napa?" tanya Amara. Wajahya tampak dongkol.
Micho malah tersenyum tipis tangan kananya mengangkat dagu Amara. Menatap wajah cantik itu dengan penuh cinta. Amara tampak gugup dan menundukan kepalanya.
"Aku tidak melakukan apapun, Sayang." Micho maju beberapa langkah dan mendekatkan wajahnya ke arah Amara, Amara kembali mendongak. Melihat bibir ranum merah muda yang sedari tadi komat kamit itu membuat Micho tergoda.
"Apa kamu yakin tidak melakukan apapun?" tanya Amara.
"Apa yang bisa aku lakukan agar kamu mempercayaiku?" tanya Micho. Amara memejamkan matanya. Micho tampak tidak berbohong. Lalu siapa mereka?
"Mereka yang selalu datang membantumu, menggunakan ikat kepala kuning, mereka yang selalu ada disaat ada kamu. Siapa mereka kalau bukan orangmu?" tanya Amara sambil mendorong pelan dada bidang Micho. Namun, Micho kembali meraih pinggang istrinya.
"Aku tidak mengenal mereka," ucap Micho.
"Mana ada kebetulan yang sering terulang Mas? Aku yakin, mereka adalah orangmu. Beberapa kali aku melihat mereka bersamaan dengan keberadaanmu, jujur saja kenapa?" bentak Amara. Kini emosinya mulai naik.
"Mana ada seperti itu. Mana mungkin aku mencelakakanmu? Hei aku mencintaimu,Sayang," ucap Micho dengan tulus, membuat Amara terkekeh dan beehambur ke pelukan Micho.
Micho menghela napas panjang, merasakan lega ketika Amara mampu mengendalikan emosinya. Namun, banyak pertanyaan yang mengiang di otaknya. Siapa mereka? Memang betul Mereka selalu ada ketika Micho membutuhkan. Tapi, kenapa mereka seakan mengintai Amara?
Micho memdorong pelan tubuh Amara, memandang wajah cantik yang kini mendongak menatapnya.
"Percayalah padaku, aku tidak kenal mereka. Aku akan mengurus semua ini," ucap Micho meyakinkan.
Amara terdiam. Sedang Micho yang tak tahan dengan bibir Amara yang dari tadi menggodanya. Kini Micho menyambar bibir ranum merah muda itu dan membuat gigitan kecil. Amara yang sempat terkejut kini membalas ciuman hangat suaminya. Mereka meluapkan emosi dengan cinta. Menghilangkan sesak dengan sayang. Semoga saja Olive tak melihanya.
🤣🤣🤣🤣
Maaf telat up, anak aku lagi sakit. doakan cepat sembuh ya say..teeimakasih😢😢😢.
__ADS_1
Boleh dong like ,komen dan mawar merahnya.🤣🤣🤣🤣