
Amara memejamkan matanya. Lengannya terasa sakit, ia memegang lengannya dan berlari entah kemana. Micho tersentak kaget ingin mengejar gadis bermasker itu, tetapi jam terbang sudah di depan mata. Micho melepas masker dan topinya, ia berjalan menyusuri jalan menuju ke arah bandara. Netranya mendapati bocah berusia 6 tahun yang tadi hampir diculik sudah di kerumuni keluarganya yang menangis.
Micho melewati kerumunan itu, ia ikut bahagia melihat anak kecil itu kembali di pelukan keluarganya. Bayangan tentang orang memakai ikat mas masih membuatnya penasaran. Siapa mereka? pertanyaan yang mengiang di otaknya. Apa dia berniat menolong wanita itu? Lantas siapa wanita yang ilmu beladirinya cukup hebat itu? pertanyaan yang mengiang di otak Micho.
😊😊😊
Amara melepas jacket dan maskernya ia duduk di bawah pohon. Tangannya menyobek jacket miliknya. Dia mengikat lengannya yang tergores dan menutupi lengannya dengan sisa jaketnya. Amara memejamkan matanya dan bersandar di pohon. Ia merasa lega ketika melihat bocah kecil itu berhasil diselamatkan orang ber ikat kepala mas yang datang entah dari mana.
Micho menghentikan langkahnya. Ia menajamkan pandangannya dan menatap wanita yang bersandar di pohon besar. Netranya menatap Amara, ada sebuah rasa aneh yang menyelinap masuk diotaknya.
"Dasar wanita penggoda, menor sekali make upnya. Apa dia kesini berusaha menggangguku?" gumamnya.
Micho menggelengkan kepalanya kemudian melangkah masuk. Jam sudah menunjukan pukul 21.45 sebentar lagi dia harus berangkat. Micho berlari menuju ke pesawat pesanannya.
👌👌👌👌
Amara berjalan pulang sambil memegangi lengannya. Luka itu terasa nyeri sekali. Amara meringis kesakitan, pusing mendera otaknya.
"Amara!" Nada merengkuh Amara yang tampak pucat. Jacket yang di pakai untuk menutupi Luka merosot begitu saja. Nada terkejut melihat balutan luka. Ia melirik Amara yang tampak kesakitan. Dengan cepat Nada membawa Amara ke pinggir. Nada memencet kontak ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Ra, apa yang terjadi?" tanyanya pada Amara yang tampak setengah sadar itu. Amara hanya menggeleng pelan.
"Ra, beetahanlah," ucapnya saat melihat darah terus saja merembes.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, 2 orang perawat datang dengan membawa Bankar serta Ambulan. Amara yang tampak tak sadarkan diri kini ditangani petugas medis. Nada menghapus air matanya, bagaimana bisa dia berbicara panjang lebar dan tak mengetahui Amara meninggalkannya? Sesak mendera otaknya Nada benar-benar tampak kelimpungan.
30 menit berlalu, sampailah mereka di sebuah rumah sakit. Suster itu disambut petugas medis lainya. Amara tampak didorong ke UGD. Beberapa saat kemudian dokter yang menanganinya keluar.
"Nada," sapa dokter itu pada Nada. Dokter Arfan adalah dokter yang di telponnya tadi. Nada mendekat dan tampak panik. Dokter Arfan memegang pundak Nada yang tampak menangis.
"Hei, jangan sedih. Kenapa kamu bersedih? Amara baik-baik saja, dia akan segera siuman." ucapnya.
"Benarkah, Kak?" tanya Nada. Dokter Arfan mengangguk membuat Nada lega. Arfan adalah Kakak kandung Nada. Arfan lebih dulu tinggal di negara P dan mengabdikan hidupnya di rumah sakit serta menjadi dokter pribadi di salah satu perusahaan disana.
"Istirahatlah di ruangan kakak, Amara akan segera di pindah ke ruang perawatan. Hubungi keluarganya besok saja, takut mereka khawatir. Apalagi kakaknya yang katamu posesif itu." ucap Arfan. Nada mengangguk dan istirahat di ruangan kakaknya.
😊😊😊😊😊
"Kak, apa kabar?" tanyanya sambil tersenyum. Micho dan Radit saling merangkul sebentar. Diamatinya Radit yang tampak dewasa dan begitu banyak berubah.
"Aku sehat, bagaimana denganmu? Sudah berapa lusin cewek yang kau ajak ke kamar hotel?" Canada Micho sambil melepas rangkulannyaa. Radit tertawa kemudian menatap ke arah Damar dan melakukan hal yang sama.
"Selusin selama 4 tahun kayaknya," sahut Damar dan disambut tawa oleh Radit. Setelah saling menyapa, mereka menuju ke mobil dan segera meninggalkan area bandara.
******
Amara mengerjabkan matanya, menetralkan cahaya yang masuk di penglihatannya. Memandangi langit-langit kamar yang tampak asing baginya.
__ADS_1
"Dimana aku?" tanya Amara pada dirinya sendiri.
"Rara," Nada tersenyum sambil membawa nampan. Nada berjalan ke arah ranjang kemudian tersenyum.
"Alkhamdulilah, akhirnya kamu sadar. Aku mengkhawatirkanmu, Ra." ucap Nada.
"Apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini?" tanya Nada panjang lebar.
Amara mencoba mengingat kejadian tadi malam, Amara menatap Nada dan tersenyum.
"Aku hanya bermain-main," ucap Amara kemudian mencoba bangun. Nada membantu Amara dan memberikan 2 tumpukan bantal untuk bersandar.
"Siapa yang melakukan ini?" tanya Nada. Amara menggelengkan kepalanya. Kini ingatannya tertuju pada seorang laki-laki bermasker yang menolongnya.
"Kamu menutupi dariku?" tanya Nada. Amara tersenyum dan memejamkan matanya.
"Tidak, Aku tidak menutupi apapun. Aku tidak mengenal mereka, yang aku tau mereka orang yang sama dengan orang yang merampokku waktu itu." ucap Amara.
"Lalu, siapa yang membantumu? kau tidak nekat menghajar mereka sendirikan?" tanya Nada antusias.
"Kamu tenang saja, aku baik-baik saja. Ada seseorang yang membantuku," ucapnya sambil menyuapkan bubur di mulutnya.
😊😊😊😊
__ADS_1