
Di sebuah rumah makan, seorang perempuan cantik tengah memandangi kotak hadiah yang ditemukan di dalam pesawat. Kotak hadiah yang begitu menarik hatinya. Namun, dirinya enggan untuk membuka meskipun rasa penasaran mendera otaknya. Sesekali netranya memandang identitas sebuah perusahaan.
"Pratama yoga?" gumamnya mengulang nama yang terdengar familiar di otaknya.
Amara, gadis cantik itu mencoba mengingat nama itu dan tidak kunjung mengingatnya. Berulang kali tangannya mengangkat kotak itu, berulang kali juga meletakkan di atas meja. Pikiranya melayang jauh hingga pada akhirnya Amara menyambar tas tangannya dan membawa kotak hadiah itu.
Setelah membayar makanan dan minuman, Amara segera menuju ke arah mobilnya. Amara berencana pergi ke alamat yang tertera di kotak itu.
"Hanya 30 menit dari sini," gumam Amara pelan. Amara menghela napas panjang kemudian menancap gas mobilnya.
Amara menikmati alunan lagu yang membuat tersenyum, sesekali ingatannya tertuju pada satu hal yang membuatnya harus meninggalkan orangtua yang begitu dia sayangi. Wajahnya tampak sedikit berubah sedih.
"Amara, kamu bisa melewati semuanya. Kamu bisa melewati semuanya," gumamnya menyemangati diri sendiri.
Beberapa saat kemudian, Amara keluar dari mobilnya setelah sampai di depan sebuah gedung yang menjulang tinggi dengan nama pratama yoga.
Netranya mengamati gedung itu kemudian tersenyum singkat. Amara berjalan menuju kearah pintu masuk.
"Selamat siang, Nona. Selamat datang, ada yang bisa kami bantu?" sambut seorang satpam di depan pintu. Amara tersenyum dan mengangguk pelan.
"Maaf, saya hanya mau memberikan ini." tukas Amara sambil mengarahkan paperbag kecil kepada satpam. Satpam itu tampak mengamati tulisan itu dan tersenyum.
"Mohon tunggu sebentar, Nona." ujar satpam itu kemudian berjalan kearah meja resepsionis.
"Ada apa Pak Deni?" tanya Mela seorang resepsionis cantik yang ramah itu.
"Kau tau wanita cantik di depan sana?" tanya Pak Deni sambil menunjuk ke arah Amara yang masih berdiri di depan. Mela tersenyum melihat kearah Amara, mengamati Amara dari ujung rambut hingga ujung kaki. Rasa kagum menyelimuti hatinya.
"Kenapa, Pak?" tanya Mela pada Pak Deni.
__ADS_1
"Dia membawa sesuatu yang tulisannya adalah identitas pimpinan. Aku rasa dia orang penting sehingga membawa identitas itu, sebaiknya kau menyambutnya dan mempersilahkan dia menunggu di ruang tunggu." ucap Pak Deni. Mela mengangguk dan menatap temannya.
"Aku kesana dulu, Ly. Lakukan seperti biasa ya. Kali aja Nona itu enggan menunggu," ucap Mela pada lily kemudian berjalan ke arah Amara.
"Siap, Bos." ucap lily sambil mengarahkan ponselnya pada Amara, wanita cantik yang tampak sangat Manawan dan tidak neko-neko yang berdiri di di depan pintu. Lily mengambil gambar Amara dan tersenyum saat bidikan kamera nya begitu sempurna mengambil gambar wanita cantik itu.
"Pak pimpinan, saya sudah punya senjata jika bapak menanyakan siapa yang datang. Aku rasa kali ini kami tidak akan mendapat omelanmu," ucap Lily sambil tersenyum bahagia. Pasalnya pimpinanya akan bertanya siapa tamu penting yang datang untuknya jika mereka enggan menunggu.
"Selamat siang, Nona. Mari ikut saya, Bapak pimpinan masih meeting. Sebaiknya Nona menunggu di ruangannya." ucap Mela ramah, saat sampai didepan Amara.
Amara mengerutkan keningnya, dirinya kesini bukan untuk menemui pimpinan. Lalu, mengapa juga harus menunggu? pikirnya.
"Maaf, Saya kesini hanya untuk mengantarkan ini. Saya tidak bermaksud untuk menemui pimpinan, mungkin Nona bisa menerimanya?" tanya Amara sambil Menyodorkan paperbag. Mela tersenyum dan menerima paper bag itu.
"ID ini yang bisa menyimpulkan jika anda orang penting bagi pimpinan, tidak sembarang orang bisa membawanya. Sebaiknya anda menunggu dulu dan memberikan sendiri pada Bapak pimpinan." ucap Mela sambil tersenyum. Amara menghela napas panjang mencoba memutar otaknya.
"Tapi, Saya hanya menemukannya. Saya kesini hanya untuk mengantarkan. Sebaiknya saya menitipkan pada Anda saja." tolak Amara halus.
"Tapi, Nona. Peraturanya seperti itu," ucap Mela meyakinkan.
"Peraturan macam apa ini? memaksa sekali!" batin Amara.
"Maaf, tapi saya benar-benar tidak ada urusan penting. Saya hanya mengantarkan saja, Saya menemukannya di pesawat. Sebaiknya saya menitipkan saja pada Anda, Nona." ucap Amara . Mela tampak berfikir sejenak, pada akhirnya Mela menghela napas panjang dan mengangguk pelan, rasanya membujuk wanita itu begitu sulit.
"Kalau begitu saya pamit, terimakasih." ucap Amara kemudian memutar langkahnya. Mela berjalan ke arah mejanya dan tersenyum memandang lily.
"Sudah?" tanya Mela santai. Lily memberikan ponselnya pada Mela. Mela tersenyum dan memberikan 2 jempolnya.
"Okey, kita tidak akan dapat omelan jika pimpinan bertanya." ucap Mela.
__ADS_1
"Kenapa tidak mau menunggu?" tanya Lily. Mela menggeleng pelan.
"Apa yang dia bawa? " tanya Lily lagi penuh selidik.
"Dia bilang menemukan di pesawat, mungkin saja benar. Lagi pula pimpinan memang baru datang kemarin," ucap Mela sambil memberikan paperbag pada lily.
"Kau percaya?" tanya Lily. Mela mengangkat bahunya.
"Menemukan di pesawat dan mengantarkan kesini? Aku pikir terlalu baik jika Ada wanita sepertinya," sahut Mela sambil mendaratkan pantatnya di kursi putarnya.
"Kita sepemikiran, Aku rasa pimpinan mendapat penolakan," ucap Lily. Mela tersenyum dan mengamati wajah cantik di dalam ponsel Lily.
"Wanita ini sangat cantik, dia juga imut. Aku rasa dia akan menjadi saingan terberatmu untuk mendapatkan hatinya pimpinan," ucap Mela. Lily membelalak matanya.
"Aku memang cinta pada pimpinan, tapi Aku juga sadar diri. Aku akan bahagia melihat pimpinan bahagia dengan pilihannya," ucap Lily dan berhasil membuat mereka tetawa bersama.
"Apa yang kalian tertawakan?" suara itu mengalihkan perhatian mereka. Mereka menoleh bersamaan. Mereka melihat Meta Sekertaris yang judesnya setengah mati.
"Maaf, Bu Meta. Kami hanya bercanda, tidak Ada yang kami tertawakan." sahut Mela.
"Kerja yang benar, awas sampai saya mendengar kalian tertawa lagi. Saya pecat kalian," ucapnya sinis kemudian melenggang pergi.
"Astaga,Sekertaris aja belagunya setengah mati! Untung aja bukan istri pimpinan, bisa sakarotul maut mendadak para karyawan kalo istri pimpinan kayak dia." gerutu Mela.
"Biar mimpi aja sampai tua. Toh pimpinan juga tidak akan mau punya istri sepertinya! "ucap Lily.
" Kalian membicarakan Aku? " tanya suara serak berat yang kini membuat mereka saling berpandangan.
😊😊😊
__ADS_1
Haii, maaf ya telattt sekali up... terimakasih kalian udah setia untuk menunggu... 😃😃😃