
"Kalian membicarakan Aku? " tanya suara serak berat yang kini membuat mereka saling berpandangan.
"Pak Micho," ucap Mela sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal kemudian berdiri. Lily juga berdiri, keduanya menatap ke arah Micho yang memasukkan kedua tangan di saku celana.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Micho lagi. kedua karyawannya hanya diam dan saling menyiku.
"Katakan!" desak Micho seakan mengintimidasi dua orang didepannya itu.
"Maaf Pak, kami hanya tidak suka dengan Bu Meta yang terlalu sinis itu," ucap Mela.
"Jadi kalian tidak menyukainya?" tanya Micho.
"Bukan begitu, Pak. Kami hanya, " ucap Lily dan terdiam saat Micho meletakkan telunjuknya di bibirnya sendiri.
"Lain kali jangan menggosip. Bu Meta atasan kalian, hormati dia." ucap Micho, Lily dan Mela mengangguk pelan. Micho melanjutkan langkahnya, memang Micho baru saja selesai meeting dengan beberapa klien dan lewat di lobby.
"Pak Micho." suara Mela sopan membuat Micho menghentikan langkahnya. Mela berjalan ke arah Micho dan berdiri didepannya.
"Apa ada hal lain?" tanya Micho sambil menatap karyawan yang sangat dia percaya itu.
"Tadi ada yang kesini mengantarkan paperbag ini," ucap Mela sambil menyerahkan paperbag kecil itu pada Micho.
Micho hanya memandang paperbag itu tanpa menerimanya. Ingatannya tertuju pada sepasang cincin yang membuatnya terluka. Sepasang cincin yang harusnya berada di jadi tangannya dan jari tangan Sabrina. Namun, semuanya harus kandas di tengah jalan karna perempuan yang begitu menjengkelkan.
"Siapa yang mengantarkan?" tanya Micho. Seingatnya cincin itu sengaja ditinggalkan di pesawat. Tapi, bagaimana bisa cincin itu sampai ditempat ini dan di antarkan oleh seseorang?
"Nah, itu dia. Kami tidak tau, beliau juga enggan menunggu." ucap Mela.
"Tapi, Bapak jangan khawatir. Saya tadi mendokumentasikan beliau," ucap Mela lagi dengan bangga, Mela menatap Lily. Lily pun berdiri dan berjalan ke arah Micho dan Mela berada.
"Ini, Pak." ucap lily sambil menyerahkan ponselnya. Namun, Micho menggelengkan kepalanya.
"Siapa yang menyuruh kalian mengambil gambar?" tanya Micho. Mela dan Lily saling berpandangan, mereka pikir dengan mengambil gambar akan memudahkan mereka. Tapi kenapa masih saja tidak benar bagi pimpinanya?
"Kami berinisiatip, Pak." ucap Mela mencoba bernegosiasi. Micho menatap kedua karyawannya dengan dingin.
"Dari mana dia mendapatkan nya? Apa dia mengatakannya?" tanya Micho.
"Katanya menemukan di pesawat, Pak." jelas Mela. Micho tampak berfikir sejenak kemudian menatap Mela dan Lily bergantian.
"Cari orang yang mengantarkan, dan berikan paperbag itu padanya." ucap Micho kemudian melangkah pergi.
"Tapi, Pak." ucap Lily dan Mela bersamaan. Micho menoleh dan menatap tajam ke arah mereka.
__ADS_1
"Apa mau gaji kalian Saya potong?" tanya Micho. Mela dan Lily menggeleng pelan.
"Bagus, laksanakan tugas kalian dengan baik." ucap Micho kemudian melangkah pergi menuju ke arah ruangannya.
Mela dan Lily saling memandang, mereka menggelengkan kepalanya. Kenapa pimpinanya memberikan tugas yang tak masuk akal sekali?
"Ly, aku rasa memang mereka saling mengenal. Masak iya Pak Micho meminta kita untuk memberikan padanya lagi," ucap Mela menerka-nerka.
"Menyebalkan sekali, kemana kita mencari Nona cantik itu?" tanya Lily prustasi. Mela menggelengkan kepalanya.
"Nanti kita cari solusinya, mendingan kita istirahat dulu. Pusing juga dengan tingkah bos." ucap Mela.
"Siapa yang ditolak, siapa yang ribet. Menjengkelkan sekali," protes Lily.
Mereka berdua meletakkan paperbag itu di laci meja, kemudian bergegas menuju ke kantin perusahaan.
******
Micho duduk di kursi putarnya. Wajahnya tampak murung, tetapi sesekali bibirnya tersenyum memikirkan Mela dan Lily, 2 karyawan yang selalu membuatnya tertawa. Mereka selalu menjadi pelampiasan Micho, benar pun akan menjadi salah jika Micho dalam keadaan mod yang tidak baik.
"Kali ini apa kalian akan mengerjakan tugas yang tak masuk akal dariku?" gumam Micho.
"Kenapa tersenyum sendiri?" tanya Damar saat masuk ke dalam ruangan Micho. Micho menatap Damar dan menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Apa?" tanya Damar.
"Mela dan Lily." ucap Micho. Damar menggelengkan kepalanya.
"Ada apa lagi dengan mereka? Kau mengerjainya?" tanya Damar.
"Aku hanya meminta mereka mengembalikan cincin pada orang yang mengantarkan kesini," ucap Micho.
"Cincin?" tanya Damar meyakinkan. Micho mengangguk.
"Cincin pertunanganku dengan Sabrina" ucap Micho. Damar menghela napas panjang.
"Siapa yang mengantarkan?" tanya Damar.
"Aku tidak tau, itu juga tidak penting bagiku. Sebenarnya Aku tidak sanggup saja melihatnya. Melihatnya menjadikanku semakin merasa bersalah pada Sabrina. Aku sengaja meninggalkannya di pesawat." ucap Micho.
"Lalu, kenapa tidak memberikan pada Lily dan Mela saja? kenapa kau menyuruh mereka mencari orang yang mengantarkan?" tanya Damar. Micho tertawa mendengar pertanyaan dari sahabatnya itu.
"Aku hanya iseng, aku juga ingin tau seberapa besar mereka dapat dipercaya. Aku akan memberikan suatu penghargaan jika mereka bisa melakukan tugas itu dengan baik," ucap Micho. Damar berdecak sambil tertawa.
__ADS_1
"Tampaknya kau itu suka sekali mengerjai mereka," ucap Damar. Micho menghela napas panjang.
"Hem, mereka salah satu orang terpercaya selain kamu. Hanya saja Aku tidak mau memberitahukan pada mereka tentang ini. Aku tidak mau mereka besar kepala kemudian menjadi orang yang lalai," ucap Micho. Damar mengangguk pelan.
*****
Disebuah Bar, seorang wanita tengah menenguk minuman beralkhohol. Wanita itu tertawa sambil memandang foto didepannya.
"Akhirnya kau menyingkir dengan sendirinya. Sheyna Amara rusdiantoro. Kau tau, aku begitu muak dengan semua pujian yang selalu menghujanimu. Kasih sayang yang melimpah, bahkan kau punya harta yang berlimpah. Kau tau, aku bahagia mendengar kehancuranmu. Aku yang sengaja Merencanakan kehancuranmu. Meskipun aku gagal ternyata takdir masih berpihak padaku, kau menghancurkan dirimu sendiri dengan pemikiranmu, dasar gadis cantik yang b*d*h." umpat Erika sambil mengamati foto cantik Amara yang tersenyum.
"Rayen akan menjadi milikku, selamanya Akan begitu." ucap Erika sambil tersenyum sinis.
"Ayo kita pulang kau sudah mabok, Erika." ucap Sem, Kakak Erika. Erika menatap Sem sambil tertawa.
"Terimakasih, kau telah memperkeruh keadaan dengan membuat ulah di perusahaan Micho. Aku rasa Micho menyangka Rafa yang menghancurkannya." ucap Erika. Sem membungkam mulut Erika.
"Diamlah, jangan mengatakan apapun. Kau bisa mencelakakan kita karna ucapan nglanturmu." bisik Sem ditelinga adiknya. Erika tertawa, Sem merangkul pundak Erika dan membawa adiknya pergi dari bar itu.
*****
Amara melangkahkan pelan kakinya menuju ke sebuah gedung yang menjulang tinggi. Bibirnya tersenyum melihat tulisan Sheyna Fashion Bontique. Amara yang mengambil jurusan Desain memilih untuk membuka butik. Amara ingin meniti karir dari Nol dengan kerja kerasnya sendiri.
"Sheyna Amara, kamu bisa." ucapnya menyemangati dirinya sendiri.
Amara mengambil ponselnya dan membuat panggilan untuk mamanya.
"Halo, Asalamualaikum Sayang. Kamu sehat? Mama merindukanmu, Nak." ucap mamanya disebrang. Amara mendengar suara mamanya hanya diam. Air matanya mengalir deras. Rasa rindu menguasai hatinya.
"Rara," panggil mamanya. Amara mengusap air matanya dan menghela napas panjang.
"Iya, Ma. Rara sehat. Mama bagaimana?" tanya Amara.
"Mama juga sehat, apa kamu menangis?" tanya Mamanya. Amara tak kuasa menahan deraian air mata, rasa rindu menggebu.
"Tidak, Ma. Rara tersenyum." ucapnya.
"Bahagia selalu, jaga kesehatan." ucap Mamanya kemudian menutup ponselnya. Amara menangis tersedu, dia tau mamanya menangis pilu disana, menahan rindu pasa dirinya yang memilih untuk pergi.
"Rara, jangan bersedih." suara itu membuat Amara mendongakkan kepalanya dan memeluk pemilik suara itu.
**
Semoga bisa up terus, doakan aku dukung selalu ya๐๐๐kali aja bisa pemes.
__ADS_1