Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
Makan siang


__ADS_3

jam menunjukkan pukul 11.00 siang, Amara menyiapkan rantang bekal makan. Kepergian Micho tadi pagi membuat dirinya tak tenang. Walau hubungan mereka tak terlalu baik, tetapi dia merasa Micho marah karna dia memperlakukan Radit dengan istimewa. Amara yang masih saja merasa trauma kejadian semalam memaksa dirinya untuk tegar dan berencana menuju ke kantor suaminya.


Amara berinisiatif memasak makanan kesukaan Micho untuk makan siang Micho nanti, Amara segera bersiap dan keluar dari apartemen.


Amara menancap gas mobilnya menuju ke arah dimana perusahaan Micho berada. Tidak lama kemudian, ia telah sampai didepan Alexander group.


Amara keluar dari mobil, dirinya yang baru saja keluar dari mobil tampak menjadi pusat perhatian. Wajah cantik dengan make up yang sedikit tebal menghiasi wajahnya, Amara menggerai rambut panjangnya. Senyumnya yang manis membuat karyawan laki-laki tampak terpesona.


Amara membawa rantangnya dan berjalan menyusuri lorong, ia berhenti di lobby dan menanyakan ruang suaminya.


"Maaf, ruangan pak Micho dimana ya?" tanyanya pada salah satu resepsionis yang menyambutnya. Tatapan tak suka tampak jelas pada wanita yang kini berdiri di hadapannya.


"Apa sudah membuat janji mb?" tanya resepsiaonis cantik yang ramah.


"Katakan padanya Amara ingin menemui nya," ucap Amara sambil tersenyum. Dia bingung harus memperkenalkan diri bagaimana, sedang Micho tak pernah menganggapnya seorang istri. Seseorang karyawan lelaki tampak mendekat dan tersenyum kemudian menatap Amara dengan terpesona.


"Amara? Jadi namamu Amara? Sebaiknya kau bersamaku, pasti bos tak ada waktu untuk menemuimu," goda lelaki itu. Lelaki itu tampak memandang Amara. Sedang Amara tampak sedikit risih dengan perilaku orang di sekitarnya.


"Maaf Pak, tapi Saya kesini mau bertemu Pak Micho." ucapnya sopan.


"Mbak, bisa memberitahu dimana ruangannya?" tanya Amara lagi sambil mengalihkan pandangannya ke arah resepsionis.

__ADS_1


"Maaf mbak, hari ini Pak Micho tampaknya sedang sibuk. Mbak Amara bisa menunggu," ucap resepsionis. Amara tampak menghela napas panjang dan mengangguk kemudian berjalan ke arah tempat duduk.


"Kenapa tidak mempersilahkannya masuk?" tanya Damar pada kedua resepsionis. Damar juga menatap ke arah karyawan laki-laki yang tadi menggoda Amara. Amara menatap Damar yang tiba-tiba muncul, dan menatap kedua resepsionis bergantian. Resepsionis tampak menunduk takut.


"Kau tau, dia...


"Damar, hentikan. Aku tidak papa," ucap Amara sambil menahan tangan Damar. Resepsionis tampak menunduk.


"Maafkan saya Nona Amara, anda bisa langsung menemui Pak Micho, ruangan nya ada dilantai 20," ucap resepsionis saat melihat Amara yang mencoba membelanya.


"Trimakasih mbak," ucap Amara kemudian melenggang pergi.


Amara berjalan menuju lif dan menekan tombol 20, Damar juga masuk ke dalam liff yang sama. Tidak lama dari itu, mereka keluar dari lif. Diapun berpapasan dengan Micho yang saat itu hendak masuk kedalam lif.


"Micho," sapa Amara.


Micho yang saat itu bersama dengan Meta dan 2 rekan lainya berhenti. Amara tersenyum kepada rekan bisnis Micho dan juga tersenyum ke arah Meta, ada desiran aneh yang menggelayut di dadanya. Meta tampak memandang Amara dengan tatapan tak suka, Amara hanya diam memandang tangan Meta yang bergelayut di tangan Micho.


Meta datang beberapa hari yang lalu bersama dengan 2 staf lainya untuk meminta beberapa tanda tangan pada Micho. Dan hari ini waktunya untuk kembali.


"Damar, temani dia. Aku akan mengantar Meta ke bawah," ucap Micho sambil melirik ke arah Amara yang tampak memejamkan matanya, menahan sesak di dadannya. Meski begitu, Amara tetap tersenyum kepada Meta.

__ADS_1


"Mari nona, kita ke ruang istirahat," ucap Damar. Amara mengangguk. Amara mengikuti langkah Damar menuju ruang istirahat.


Amara meletakan rantang di atas meja, ia berjalan ke arah jendela. Netranya mengamati pemandangan yang indah di bawah sana, hingga pada saat itu, Amara mendapati Micho yang keluar dari lobby menuju ke parkiran. Meta masih saja bergelayut manja, Meta yang posesif kemudian mencuri ciuman di pipi Micho. Amara memalingkan wajahnya dan tersenyum getir.


"Nona Amara, aku baik-baik saja?" tanya Damar yang baru selesai menata makanan. Damar juga mengamati Micho di bawah sana. Ada rasa kasihan pada Amara dibenaknya.


"Aku baik-baik saja Damar. Lebih baik aku pulang, rasanya Micho sangat sibuk hari ini." ucap Amara sambilkemudian mengambil tasnya.


"Tapi, Nona." cegah Damar.


"Aku mau pulang, mama pasti merindukan aku. Tadi aku hanya mau mengantar makanan saja, dan sekarang sudah selesai. Sebaiknya aku pulang," ucap Amara kemudian melenggang pergi. Damar hanya bisa mengepalkan tangannya, melihat Amara bersedih membuat dirinya terbawa perasaan.


Amara berjalan, entah mengapa air matanya mengalir. Sesakit inikah? Apa segini sakitnya? tanya Amara pada dirinya sendiri. Amara mememcet tombol turun, dan saat itu sebuah tangan menahannya. Amara memutar tubuhnya hingga keduanya saling berpandangan. Micho menatap Amara dengan tenang dan dingin. Sedangkan Amara mendorong Micho dari hadapannya.


"Mau kemana?" tanya Micho. Micho yang hilang sejak pagi seakan kembali saat melihat Amara. Kedongkolannya pada istrinya itu, berubah menjadi sebuah kerinduan yang mendalam ketika berjauhan. Dan sekarang Amara akan pergi? Rasanya Micho tak akan membiarkan begitu saja.


"Aku mau pulang, lepaskan aku." ucap Amara sambil memandang ke arah Micho. Micho tak mendengar ucapan Amara yang tampak emosi itu, Micho mengangkat tubuh mungil istri cantinya itu menuju ruangan pribadinya.


😍😍😍😍


Like, komen, Vote ya...

__ADS_1


__ADS_2