Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
131


__ADS_3

"Justru karna suamimu yang membuatmu dalam bahaya, makanya kami menyelamatkanmu darinya," ucap Zidan lantang.


Deg!!! Amara menghentikan langkahnya, Bagaimana bisa? Ribuan pertanyaan mengiang di otaknya. Amara memutar langkahnya, menatap 3 orang di depannya.


Micho membuat dirinya bahaya? Bukan, bukan Micho. Dia tau persis dalang di balik semua kejadian yang menimpanya. Micho? Bahkan pria yang berstatus sebagai suaminya itu yang memyelamatkannya dari bahaya.


"Kak Zidan, jangan mengada-ngada. Bahkan dengan mata kepalaku sendiri aku melihat suamiku menyelamatkan aku. Bagaimana bisa dia penyebab dalam semua ini?" lirihnya sambil mendekat ke arah Zidan.


"Tapi itu kenyataanya, Ra!" sentak Zidan. Amara menatap Zidan dengan sorot mata tajamnya.


"Jangan mencoba untuk menghasutku, Kak." bentak Amara juga. Zidan mengepalkan tangannya. Mendapati Amara telah Hamil dan menikah adalah hal yang sangat memukul hatinya.


"Nak, semua ini memang rumit. Kita harus bicara, sebaiknya kamu duduk dan tenanglah. Maafkan Zidan ya," ucap Melati sambil mendekat ke arah Amara. Amara menurut dan duduk di sofa.


Melati meraih beberapa berkas di tasnya kemudian memberikan pada putrinya. Amara menatap lekat wajah Melati sebelum akhirnya dia menerima berkas itu.


"Kamu bisa memahami segala keadaan dari berkas itu. Mama dan papa sengaja membuat berkas itu dari penyelidikan yang di dapatkan oleh Zidan," ucap Melati.


Amara meraih berkas itu, jantungnya berdetak hebat. Apa yang akan di ketahuinya? Rasa rindu bergelayut di hatinya. Pada mama, papa, kakak dan juga suaminya.


Dengan perlahan Amara membuka berkas itu. Amara tampak membaca dengan teliti. Tidak satupun kata-kata yang terlewatkan. Hingga tetesan demi tetesan air mata membanjiri pipinya.


"Jadi aku benar-benar adalah putri papa dan mama?" lirihnya sambil menatap ke arah Melati dan Kenzo yang menatapnya penuh dengan cinta dan kasih. Lelehan air mata juga membasahi pipi Melati. Ia meraih Amara dalam dekapannya. Mencoba menenangkan putrinya.


"Ya, kami sangat meyayangimu, Sayang." ucap Melati. Amara memejamkan matanya. Perih dan sakit bahagia semua bercampur aduk.


"Kenapa mereka tidak pernah mengatakan ini sebelumnya?" ucap Amara dalam isak tangisnya. Harus bagaimanakah dirinya memposisikan diri? Menjadi anak baik yang menurut pada Kenzo dan melati? Atau tetap pergi dan memberi tahukan kabar pada orang tua yang selama ini menjaganya? Amara menggelengkan kepalanya.


"Kami tau apa yang sekarang ada di benakmu. Ini sangat sulit, tapi jangan juga menyalahkan mereka. Mereka sangat menyayangimu juga," ucap Melati. Amara memejamkan matanya. Ucapan Melati sangat menentramkan hatinya. Kini dirinya kembali mengambil berkas yang tadi diletakkannya.


Amara membaca dengan jelas, bagaimana seorang Milano membayar mahal pembunuh bayaran yang bernama Roy. Dia ingat betul siapa Roy, Roy adalah orang yang mencoba membunuhnya. Dan orang yang menyekapnya, jadi alasan ini sehingga penculikan ini terjadi? Dan semua dokumen yang di serahkan Rayen padanya adalah dokumen yang berhasil di curi saat perampokan 23 tahun silam?

__ADS_1


Amara menatap lekat ke arah ke dua orang tua yang 23 tahun ini telah dianggap tiada oleh Milano dan Roy itu. Berbagai pertanyaan masih bersarang di pikirannya.


"Lalu, apa hubungannya dengan Mas Micho? Semua ini tidak ada hubungannya dengan Mas Micho," ucap Amara. Melati mengusap pelan wajah Amara dan menatap ke arah putrinya dengan cinta.


"Micho, suamimu?" tanya Melati. Amara mengangguk. Menatap Melati dan Kenzo secara bergantian.


"Micho, Micho adalah putra dari Roy. Pembunuh bayaran yang mengincar nyawa kita untuk mendapatkan sejumlah uang," ucap Melati dengan hati-hati.


Deg


Jantung Amara seperti terhantam batu besar, lelehan air mata kembali membasahi wajahnya. Kenapa takdir begitu sakit menyiksanya? Disaat cintanya dan Micho sama-sama bermekaran, takdir cinta mereka seakan mempermainkan keduanya.


Masih teringat jelas dalam memori otaknya, bagaimana khawatirnya seorang Roy saat menyadari yang tertembak adalah Micho. Setidaknya Amara merasa lega, jika suaminya berada dalam rengkuhan papanya. Tidak mungkin juga Roy akan menyakiti anaknya.


Amara memejamkan matanya, merasakan denyutan hebat dalam hatinya, mungkin ini adalah alasan kenapa Roy tidak mengasuh putranya sendiri dan menitipkan pada Prayoga. Ini adalah salah satu alasan keselamatan, sama dengan apa yang di lakukan kedua orang tuanya.


"Jadi mama dan papa ingin menjauhkanku dengan suamiku?" tanya Amara.


"Mas Micho tidak tau apapun, bahkan dia tidak pernah mengetahui siapa orang tuanya, jadi kalian salah jika menganggap mas Micho adalah orang yang membahayakan bagiku," lirih Amara.


"Jadi kau tetap akan meninggalkan kami dan menemui suamimu?" tanya Melati. Amara memejamkan matanya. Dia tidak sanggup untuk berpikir, hatinya sesak dan dia tidak tau lagi apa yang harus dia perbuat.


"Boleh aku meminjam ponsel untuk menghubungi Mama Hana dan Papa Rusdi?" tanya Amara pada Kenzo untuk mengalihkan pembicaraan. Bahkan untuk sekedar memanggilnya papa masih sangat terasa kelu.


Kenzo menyerahkan ponselnya dan tersenyum. Hati Amara seakan mulai bisa menerima bagaimana orang tua kandungnya begitu sangat menyayanginya juga.


Amara mengambil ponsel itu dan mengetikan nomor ponsel mamanya sehingga memperlihatkan tulisan berdering di ponsel Kenzo.


Sedangkan di mansion mewah keluarga Rusdiantoro, Mama Hana terus menangis pilu, Papa Rusdi terus saja menenangkan. Bahkan sampai malam hari pun belum ada kabar dari Rafa tentang keberadaan Amara.


Deringan ponsel berbunyi dan dilihatnya nomor baru disana. Mama Hana segera mengambil ponselnya dan menggeser tombol hijau

__ADS_1


"Halo Ma," ucap suara di sebrang.


Mama Hana tampak terkejut, lelehan demi lelehan air mata mengucur deras dari pipinya.


"Amara, Sayang kamu dimana? Apa Rara baik-baik saja? Katakan dimana? Mama akan menjemoutmu," Mama Hana memberondong Anara dengan beberapa pertanyaan.


Papa Rusdi tampak mendekat ke arah Mama Hana. Amara memejamkan matanya. Dia tau, mamanya sangat mengkhawatirkan keadaannya.


"Ma, mama tenang. Amara baik-baik saja, jangan mengkhawatirkan Amara." lirih Amara.


"Kamu dimana? Katakan," ucap mamanya lagi. Mama Hana tampak memejamkan matanya, Papa Rusdi mengambil alih ponselnya.


"Amara, katakan dimana kamu. Papa akan segera kesana, kau tau mamamu sangat khawatir. Setidaknya kamu pulang dan bersama kami, sebelum Micho di ketemukan." ucap Papa Rusdi.


"Papa dan mama tidak usah khawatir, Amara akan baik-baik saja. Mungkin sekarang alangkah baiknya papa dan mama istirahat. Secepanya Amara pulang dan kita cari Mas Micho bersama," ucapnya.


"Papa tidak bisa jika harus berdiam sementara kamu tidak bersama kami. Katakan dimana keberadaanmu!" tegas Papa Rusdi. Amara meneteskan air matanya, papa angkatnya yang selama ini menjaganya itu sangat menyayanginya. Dia bahkan merasakan walau mereka berjauhan.


"Papa Rusdi tenang, Amara bersama orang tua kandung Amara," ucapnya.


Deg,


ucapan Amara bagaikan telak mematikan untuk Rusdiantoro. Papa Rusdiantoro menjatuhkan ponselnya, Mama Hana tampak khawatir dan mendekati suaminya yang tampak syok itu.


"Papa, apa yang terjadi?" tanyanya. Mama Hana mengambil ponselnya karna Papa Rusdi hanya berdiam.


"Halo, Ra. Kamu mendengar mama?" tanyanya. Amara berdiam, tak sanggup lagi harus bagaimana berbicara. Dia tau, hati papanya hancur sama dengan dirinya. Dia tidak mau mamanya mengalami hal yang sama.


"Mama istirahat, Rara akan pulang besok." ucapnya kemudian menutup ponselnya. Amara menyerahkan ponsel Kenzo, Kenzo meraih Amara dalam dekapannya.


"Semua akan baik-baik saja," lirih Kenzo.

__ADS_1


🤗🤗🤗🤗🤗


__ADS_2