Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
117


__ADS_3

Micho terkejut dan membuka mata. Dia menatap wajah yang kini hanya berjarak beberapa senti darinya. Ada rasa malu saat dirinya ketahuan mencuri ciuman dari Amara.


Amara memiringkan dirinya, menyembunyikan wajah merah merona yang menahan malu juga. Detakan jantung tak beraturan membuat dirinya seakan melayang.


"Kenapa kamu diam seperti itu, Sayang? Kamu marah?" tanya Micho sambil tersenyum, tanpa merasa bersalah dia ikut berbaring di ranjang dan melingkarkan tangannya di pinggang Amara. Menarik dirinya hingga dekat dan merapat di dekatnya.


"Dasar istri yang nakal," ucap Micho lirih tepat di telinga Amara. Menyadari suaminya tak bersahabat Amara segera membalikan tubuhnya, keduanya saling menatap dan sangat dekat.


Suasana sunyi, Micho yang menampakkan wajah dinginya membuat Amara terdiam. Micho enggan untuk berbicara, membiarkan Amara tenggelam dalam tatapan hangat dan menunggu waktu yang tepat untuk berbicara.


"Mas," Amara menyusupkan dadanya di dada bidang Micho. Sebenarnya bukan marah jika Micho mencuri ciuman darinya, namun debaran jantung yang sampai saat ini masih tak teekontrol membuatnya malu.


"Mas, kamu marah?" tanya Amara yang menyadari Micho masih terdiam. Dia sedikit menggeser tubuhnya hingga ia berada lebih dekat lagi dalam rengkuhan hangat Micho. Amara menatap kearah Micho dengan cinta, menggenggam tangan Micho yang berada dipinggangnya.


Amara menatap wajah datar yang kini menunduk membalas tatapan matanya. Debaran jantungnya tak karuan, rasanya menyesal mengambil posisi yang seperti ini. Mau tidak mau dia harus memainkan drama untuk melunakkan hati suaminya yang mengeras.


"Jangan mengabaikan aku. Apa aku keterlaluan, Mas?" tanya Amara.


Micho terdiam, jauh dilubuk hatinya ada rasa yang menggelora. Sentuhan hangat dari istrinya membuatnya kelabakan. Namun, saat ini dia mencoba untuk melihat sejauh mana si cantik di depannya merayunya.


"Mas," Amara mengusap pelan pundak Micho. Micho masih saja berdiam. Merasa sudah tidak berdaya, Amara bergegas bangun dan menarik Micho untuk bangun. Micho memalingkan wajahnya. Amara menghela napas panjang dan ...


Cup


Amara memberi serangan dadakan untuk Micho, membuat Micho terkejut dan kini meraih tubuh Amara dalam pangkuannya. Menikmati ciuman hangat dari Amara. Sejujurnya dia hanya ingin tau, sampai mana kemampuan Amara merayunya. Bahkan dia lupa, jika istrinya memang sangat pandai mengambil hatinya hingga dia jatuh cinta padanya.


"Jangan ngambek lagi dong. Mau, tidur diluar? 😃😃😃" ucap Amara setelah mengakhiri ciuman yang menghabiskan napasnya. Micho mengernyitkan dahinya, iapun tersadar jika istri cantiknya mencoba untuk mengancamnya setelah memberikan sensasi panas dingin dalam dirinya.


Micho menyeringai tipis saat istinya turun dari ranjang dan berlari dan menuju ke balkon kamarnya. Micho segera mengikuti langkah permaisuri hatinya itu dengan hati yang bahagia.


Di balkon kamar, Micho mendapati Amara menikmati hembusan Angin dengan memejamkan matanya. Micho pun berjalan ke arah Amara kemudian berdiri disampingnya. Micho melingkarkan tangannya dipinggang Amara dan menatap istrinya yang kini juga berbalik menatapnya.


Micho tersenyum dan membawa Amara dalam dekap hangatnya. Menekan tangannya dengan erat, membuat Amara yang semula merasa hangat kini malah sesak napas.😂😂

__ADS_1


"Kamu mau membunuhku, Mas?" keluh Amara, ia mendongak menatap ke arah Micho yang jauh lebih tinggi darinya.


"Kenapa?"tanya Micho. Dia tersenyum melihat istrinya itu manyun.


"Cekek saja leherku dari pada menyiksaku seperti tadi," ucap Amara kesal.


Micho tertawa dan mengusap pelan wajah Amara. Memberikan desiran aneh yang menjalar di tubuhnya.


"Mana ada seperti itu, aku merindukanmu," jawab Micho. Amara menunduk, perkataan Micho melelehkan bongkahan kesal yang mengganjal di hatinya. Micho menggenggam tangan Amara dan mengajaknya untuk masuk ke kamar.


"Mau apa?" tanya Amara, masih dengan mode sebalnya.


"Kamu tau Nona, kamu sudah membangunkan senjata ampuhku, karna mencuri ciumanku. Kamu harus bertanggung jawab untuk itu," ucap Micho. Amara membelabakkan matanya. Dia tidak pernah berfikir untuk itu, mana bisa dia harus bertanggung jawab?


"Kenapa bisa begitu? aku hanya merayumu. Salah siapa mengabaikanku," sanggah Amara dengan perasaan sebalnya. Baru saja hangat, malah kembali menyebalkan.


"Aku tidak perduli, kamu harus betanggung jawab, Nyonya Micho," ucap Micho sambil mendekatkan tubuhnya kearah Amara,


"Terus kenapa kalau aku berani?" Micho terus saja mendekat kearah Amara hingga mentok hingga di sudut ruangan.


"Kau itu istriku, memangnya apa yang bisa kamu lakukan bila aku memaksamu?" tanya Micho sambil menyunggingkan senyum yang mampu membuat Amara mengerjab terpesona. Amara menggelengkan kepalanya, segera sadar dari fantasi liarnya.


"Mas, ada Olive. Bagaimana kalau Olive bangun dan mencari kita?" ucap Amara memelas.


Ucapan itu membuat Micho terkekeh, melihat tingkah Amara. dirinya hanya ingin menggoda istrinya yang tampak cantik itu, sebenarnya ia juga tau, Olive akan bangun kapan saja. Dia juga takut kejadian tadi sore terulang kembali. Tidak boleh menodai mata suci gadis kecil itu.


Micho melangkah mundur, Amara merasa lega. Dia tersenyum dan merasa bahagia. Micho, lelaki yang dulu sangat menyebalkan itu begitu sangat baik prilakunya.


"Kenapa?" tanya Micho sambil menoleh kearah Amara yang tampak berbinar. Wajahnya yang cantik semakin bersinal karna terpancar sinar malam dari cahaya bulan.


"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Amara. Micho menatap lekat wajah Amara dan tersenyum. Ia meraih pinggang Amara dan memegang dagu Amara.


"Jika pertanyaanmu bisa aku jawab, aku akan menjawabnya," jawab Micho. Jawaban itu membuat seulas senyum terbit dari bibir Amara.

__ADS_1


"Aku tau, kamu akan menjawabnya," ucap Amara sambil mengusap pelan pipi Micho.


"Tentu, selagi itu membuatmu bahagia," ucap Micho sambil terkekeh. Amara tertawa mendengar gombalan receh Micho.


"Kamu mana tau kalau aku bahagia? Bukankah kamu itu manusia super cuek dan tak mau memikirkan perasaan orang lain?" tanya Amara. Micho tertawa kemudian memandang Amara dengan mesra.


"Apa yang akan kamu tanyakan? Hemmm?" tanya Micho sambil menggenggam erat tangan Amara. Amara tersenyum tipis.


"Sejak Kapan kamu jatuh cinta kepadaku?" tanya Amara dengan suara lembut. Amara menahan senyuman yang membuat wajahnya tersipu dan merah merona.


"Apa sepenting itu, sehingga aku harus menjawab?" tanya Micho yang tampaknya sangat keberatan menjawab. Gengsi yang ada didirinya kembali hadir. Micho menatap lekat wajah cantik itu. membuat Amara berdecak sebal.


"Jawab aku, Mas. Sejak kapan kamu jatuh cinta padaku?" tanya Amara. Amara mendongak rambutnya berterbangan di wajah, tertiup angin malam nan syahdu. Amara meletakkan kedua tangannya di pipi kanan dan kiri Micho.


"Percuma saja aku menjawab, kamu juga tidak ingat," ucap Micho. Amara sedikit geram mendengar ucapan suaminya. Mana bisa ingat kalau tidak dijelaskan? Menjengkelkan, Amara pun mencubit pinggang Micho. Hingga suaminya itu tertawa.


"Mana aku ingat kalau kamu tidak mau menjawab?" kesal Amara.


"Apa susahnya sih menjawab pertanyaanku? Dasar menyebalkan,"ucap Amara. Amara menghela nafas panjang. Amara mendorong tubuh Micho hingga menjauh darinya, kemudian berjalan menuju ke arah pinggiran balkon. Amara menatap ribuan bintang yang terang dilangit, memejamkan matanya mencari ketenangan dalam sepi.


"Aku jatuh cinta padamu sejak pertama kali bertemu," Micho mendekap erat tubuh Amara dari belakang. Menikmati harum rambut Amara yang membuatnya nyaman dan tentram.


Amara terdiam, mendengar ucapan Micho dan merasakan deguban jantung yang tak beraturan secara bersamaan. Micho memutar tubuh Amara, keduanya saling berhadapan. Mata mereka saling menatap, pandangan mereka semakin dalam.


Bibir mereka mendekat, saling bersentuhan tetapi tidak saling memagut. Walau begitu masih saja menimbulkan sensasi panas dingin di hati keduanya.


"Cinta pada pandangan pertama? Kamu percaya? Sedangkan pertemuan kita pada keadaan yang sangat memprihatinkan," ucap Amara. Mengingat itu membuatnya memejamkan mata. Bagaimana bisa dia tidak bisa membedakan penolong dan perampok?


Micho menempelkan hidungnya pada hidung Amara, melingkarkan tangannya di pinggang Amara.


😍😍😍😍


Kangen sama Micho enggak kalian???

__ADS_1


__ADS_2