Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
102


__ADS_3

Amara tampak berbinar memandang ke arah lelaki itu.


"Kak Zidan," Amara yang masih menyerang musuh sedikit menoleh dan tersenyum ke arah Zidan. Zidan mendekat dan mengambil alih 1 lawan dari Amara.


"Selamat malam Dear, aku pikir aku salah orang. Ternyata ini benar kau, kita olah raga bersama malam ini dear," ucapnya.


Amara mengangguk pelan, dengan gerakan cepat Zidan mengangkat pinggang Amara, mereka saling berhadapan. Amara tersenyum dan menekan kedua tangannya ke pundak Zidan, laki-laki bertubuh besar itu tersungkur saat Zidan berputar dan Amara mengayun kakinya menendang kepala 2 orang bertubuh kekar.


2 orang tersungkur dan Amara turun dari gendongan Zidan. Namun karna gerakannya terlalu cepat, Amara terkejut dan oleng. Zidan merengkuh pinggang Amara. Amara reflek melingkarkan tangannya ke leher Zidan. Membuat keduanya tampak dekat dan mesra.


"Kau sangat menakjubkan Dear, tenagamu tak pernah berubah dari dulu," bisik Zidan di telinga Amara. Ucapan Zidan membuat sebuah lengkungan di bibir Amara.


Hafiz Zidan Maulana Pria 27 tahun. Teman Andika yang mempunyai beberapa padepokan bela diri dan pemilik beberapa tempat olah raga yang terkenal di negara I. Salah satu orang yang dihubungi Andika untuk membantu Andika membebaskan Sabrina tadi. Dan dia adalah leader yang dulu fokus di kelas Amara.


Micho tampak mengepalkan tangannya, darahnya seakan mendidih melihat istrinya beradegan mesra di depan matanya.


"Kenapa aku merasa pernah melakukan gerakan seperti itu sebelumnya?" batin Micho. Namun otaknya tak mampu berfikir, yang dia inginkan sekarang adalah Amara berada dalam rengkuhannya.


Damar menyunggingkan senyuman ketika melihat Micho tampak kebakaran jenggot. Micho segera melangkah saat dilihatnya 2 musuh yang tadi tersungkur berdiri dan hendak membalas. Namun, istrinya dan lelaki itu masih saja menikmati adegan romantis yang berhasil membuat Micho gerah.

__ADS_1


Micho mendekat, Zidan menyadari musuh mereka tengah bangkit. Hampir saja ia kembali mengangkat tubuh Amara untuk melakukan gerakan yang sama. Namun, gerakan cepat dari orang yang baru saja muncul menyahut tubuh Amara dari rengkuhanya. Mereka melakukan gerakan yang sama dengan apa yang dilakukan Zidan dan Amara tadi.


Zidan tersenyum sinis saat melihat Micho, musuh yang baru saja beradu dengan Andika tadi. Zidan mengambil alih salah satu musuh yang bermunculan dari arah yang berbeda.


Amara terkejut saat tiba-tiba tubuhnya melayang. Untung saja otaknya mampu merespon dan melakukan tendangan pada musuh didepannya hingga mereka tersungkur dan meninggalkan area.


Kini pandangan matanya terfokus pada manusia yang saat ini begitu dekat dan merapat padanya. Mereka saling berhadapan. Tangan Amara masih berada di pundak orang itu. Sesuatu yang kuat seakan menabrak jantung hati Amara, membuat rasa sesak bergelayut di hatinya.


Micho, ya orang itu adalah Micho. Amara tampak lemas, ia memalingkan wajahnya. Cairan bening jatuh tanpa bisa di tahan. Rasa rindu, khawatir dan kecewa tertumpah pada hatinya. Amara benci harus menangis seperti ini. Apa yang harus dia tangisi dari lelaki yang plinplan seperti suaminya itu? Suami? Suami macam apa yang mampu mengucap cinta pada wanita lain.


Amara menurunkan tangannya dari pundak Micho, Micho menghapus air mata Amara dan menatapnya lekat.


"Jangan menangis," ucap Micho lirih.


"Tidak akan pernah," jawab Micho.


"Lepaskan aku, atau aku akan menghabisimu!?" bentak Amara keras. Micho memejamkan matanya dan merasakan sesak di dadanya. Amara, wanita itu selalu saja mampu membuat dirinya kelimpungan.


"Lepaskan dia, tampaknya kau terlalu rakus. Tadi kau mengungkap cinta pada istri orang, dan sekarang memaksakan kehendak pada wanitaku." ucap Zidan.

__ADS_1


Deg,


ucapan Zidan bagaikan belati yang masuk kedasar hatinya dan merobek paksa dadanya. Amara memelototkan matanya. Bisa-bisanya Zidan berkata seperti itu. Leadernya itu selalu saja menggoda dirinya semenjak dulu.


Amara mendongak ke arah Micho, Micho tampak mengeratkan pelukanya dan menatap ke arah Zidan dengan sorot mata tajam. Amara tau saat ini, suami yang emosional itu tengah emosi menghadapi Zidan yang memang suka jahil.


"Dia milikku," tegas Micho. Zidan tampak tersenyum meremehkan sambil memutar kunci mobil dengan jari telunjuknya.


Amara terdiam, ia menatap Micho dengan sorot mata ragu. Dia belum bisa kembali percaya pada cinta suami yang dirasanya masih tersesat itu. Kesana kemari tak karuan arahnya.


Damar hanya diam, menikmati drama sambil bersandar di mobil. Ia tidak mau ikut campur, melihat Micho yang tampak cemburu itu membuat dirinya bahagia.


"Micho, tadi kau meyakinkan diri sudah tidak merasakan apapun pada Sabrina di depan suaminya. Sekarang tampaknya ada yang ingin tau besarnya cintamu untuk Amara. Menanam pasti menuai, aku bilang juga apa kenapa tidak mencoba membantu memulihkan ingatan Sabrina baik-baik. Lihatlah, tindakan salahmu akan merugikanmu sendiri, mungkin yang dirasakan suami Sabrina sama dengan apa yang kamu rasakan sekarang," ucap Damar lirih sambil menatap Zidan yang memang tampak menyebalkan.


"Apa benar kau miliknya Dear?" tanya Zidan yang kini berada di dekat Amara. Dia sedikit membungkuk dan menatap lekat wajah Amara yang kini ada di dekapan Micho. Hati Micho tampak bergemuruh, darahnya seakan mendidih. Berani sekali orang ini bertingkah berlebihan di depannya.


"Kau miliknya Dear?" tanya Zidan lagi sambil mengedipkan sebelah matanya. Amara terdiam, dia rasa Zidan tengah mengintimidasi dan tidak lagi bergurau.


😀😀😀😀😀

__ADS_1


Lanjut tak??? Like komen vote ya...


Hafiz Zidan maulana. Sebenarnya dia tokoh utama yang ada di terjerat cinta mantan penjahat. Berhubung aku masih mo belajar action 😂😂😂 biarlah Zidan jalan-jalan dulu 😂😂😂😂😂😂 Di sampai akhir nanti dan juga disini.


__ADS_2